DI LEMBAH CAHAYA


309713552Bismillahirrohmaanirrohiim

 

Yaa Allah!

Tidak ada orang yang sanggup mensyukuri-Mu, kecuali dengan kebaikan-Mu yang kembali menuntutnya untuk bersyukur.

Cahaya atau “Nur” dalam kesusastraan Islam dikenal sebagai metafora untuk mengibaratkan Tuhan. Atau biasa juga dipahami sebagai petunjuk dan penerangan tentang hakikat kebenaran yang bersumber dari Allah. Sebagaimana sifat cahaya, ia tidak tidak berbentuk, tidak tampak pada dirinya, tapi menjelaskan dan menampakkan segala sesuatu selainnya.

Kata cahaya atau “nur” memiliki tempat tertentu dalam khazanah perbendaharaan kata penulis-penulis Islam. Di pena ilmuwan, ia akan menjadi kelurusan dan kejernihan akal; di pena penyair dan sastrawan, ia akan mensifati semangat syair dan prosa; di pena ahli ibadah, ia akau menjadi tujuan dari beragam doa; di pena sufi, ia menjadi hati dari segala tujuan dan amal ibadah; dan sebagainya.

Cahaya dengan segenap pemahaman makna agung yang melekat padanya, tidak berdiri sendiri. Entah kenapa Allah Sang Pemilik Kesempurnaan Ilmu menjadikan kata ini memiliki makna tersendiri di hati dan akal umat Muhammad Saw. Kenapa ia bisa mewakili sifat dan wujud Allah yang tak tersifati dan terwujud oleh apa saja. Kenapa ia menempati derajat pemaknaan yang demikian agung dan mulia dari seluruh pemahaman kata yang lain.

Merenungi Al Qur’an sebagai kitab kebenaran dari-Nya; kitab yang menjadi rujukan penjelasan kebenaran; kitab yang terjaga dan terlindungi dari kesalahan; kitab yang menjadi induk kebenaran pengetahuan; kitab yang menjadi petunjuk jalan lurus untuk orang-orang beriman; jelas bahwa kata cahaya atau nur memiliki derajat yang sama dengan kata Allah, Ilahi, Rab. Demikian tingginya derajat kata ini, pada beberapa surat Al Qur’an Allah bersumpah dengan menyebutnya. Selain darinya, kata “waktu’ atau “masa” menjadi kata yang menyamainya, karena Allah pun bersumpah dengan menyebut waktu atau masa.

Ini menandakan, bahwa Allah Azza wa Jallah adalah sumber kebenaran hakiki yang jelas dan terang (cahaya – nur), sekaligus juga Maha Kekal lagi Maha Abadi (waktu – masa).

Di dalam Al Qur’an, cahaya (nur) dibedakan dari sinar (dhiya’). Secara maknawi, sinar adalah pancaran cahaya, sedangkan cahaya adalah adalah pantulan sinar. Penggunaan kata “dhiya” di dalam Al Qur’an digunakan Allah untuk menjelaskan benda-beda, sedangkan “nur” adalah pantulan dari penampakan benda-benda. Artinya bahwa menjelaskan keberadaan-Nya (sifat) kepada manusia lewat perantaraan ciptaan yang dipilih dan dikehendaki. Sinar menyilaukan dan mengaburkan pandangan, sedangkan cahaya tidak.

Perumpamaan sinar dan cahaya di dalam Al Qur’an:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.” QS. Al-Baqarah: 17

Dihubungkan kepada jin dan manusia sebagai tempat sumbernya kesalahan (dosa) dan kekurangan (khilaf) serta tak abadi (berjiwa), maka kata cahaya dan masa memiliki pemaknaan ketaatan kepada “tujuan penciptaan” dari keduanya, yaitu beribadah. Atau ibadah sebagai cahaya untuk mengenal Allah dan masa untuk mengingat-Nya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” QS. Adz Dzaariyaat : 56.

Mendudukan kata cahaya dan masa sebagai kesatuan pemahaman, masa hanya bisa disadari dan diketahui prosesnya, bila ada cahaya (pengetahuan) yang menerangi. Masa atau waktu hanya bisa diisi dan dimanfaatkan, bila ada penjelasan tentangnya. Ini menandakan, bahwa cahaya atau nur memiliki derajat makna lebih tinggi dari masa atau waktu. Cahaya-nur digunakan oleh Allah untuk menjelaskan hukum-hukum dan ketetapan-Nya, sedangkan masa-waktu digunakan oleh Allah untuk menjelaskan sifat dan perilaku manusia dan apa balasan terhadapnya.

Kembali merujuk kepada pesan tersirat ayat Al Qur’an di atas, sesungguhnya jin dan manusia hanya bisa beribadah secara baik dan benar kepada Allah, bila keduanya benar-benar mengenal siapa Tuhan-nya. Sebab tak ada penyembah yang tak mengenal sembahannya. Pada ayat yang sama, pesan lainnya adalah “menyembah” harus dipahami dengan “mengenal.”

Siapa yang mengikuti cahaya, ia akan mengenal dirinya dan sekelilingnya. Atau siapa yang hati dan akalnya terang oleh Cahaya Ilahi, maka ia bisa membedakan mana yang benar dan salah. Hanya dengan tuntunan cahaya-Nya, maka Ia bisa dikenal dan disembah.

Di balik pemaknaan cahaya, ia bukan menjadi kata pengganti untuk mewakili wujud Allah. Ia hanyalah pengibaratan sifat Maha Benar Allah. Sebab cahaya tak bisa menampilkan dan menggambarkan wujud-Nya. Cahaya juga adalah ciptaan dari-Nya, sama halnya masa-waktu.

Saudaraku muslimin, bila kita merenungi salah satu fondasi bangunan ma’rifat, kita pasti mengenal dua hal ini: Nur Ilahi, dan Nur Muhammad. Nur Ilahi memancarkan cahayanya menyinari Nur Muhammad, agar Nur Muhammad memiliki sumber asal kejelasan kebenaran. Dan Nur Muhammad memancarkan cahayanya, agar Nur Ilahi bisa dikenal dan dipahami sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang jelas.

Tak bermaksud memperlebar pembahasan aspek ini, saya hanya bisa mengatakan untuk diri saya, “bahwa hanya dengan perantaraan Nur Muhammad, maka saya bisa mengenal dan memahami Nur Ilahi.”

Sebagaimana sejatinya cinta, pencinta dengan yang dicintai, kecintaan senantiasa lahir karena kesukaan diri kita kepada sifat-sifat yang ditampakkan oleh yang kita dicintai. Dengan perantaraan cahaya dari-Nya, antara lain akhlaq Rasulullah Saw dan Al Qur’an, Allah menujukkan sifat-sifat-Nya Yang Maha lembut (Jamaliyyah) dan Maha Perkasa (Jalaaliyyah). Siapa yang berhak mendapatkan cinta-Nya (Mustahiq Mahabbal Lillah), maka Ia telah memperoleh cahaya dari-Nya. Semua niat dan perilaku nyata dalam berbagai hal yang ia lakukan, hanya demi melayani rasa cintanya kepada Allah.

Sesungguhnya cahaya kerasulan – Nur Muhammad adalah pengejawantahan atau “tajalliyat” Allah sendiri. Dia Maha Ghaib, hanya bisa dikenal dan diketahui lewat sesuatu yang tampak. Jadi pemahaman terhadap Nur Muhammad atau kecintaan terhadap cahaya yang dipancarkan oleh Rasulullah Saw adalah bentuk kecintaan terhadap Allah yang sebenarnya (‘ainu hubulillaah). Rasulullah Saw adalah “Insan Kamil”, sehingga Allah menampakkan sifat-sifat diri-Nya kepada manusia lewat cahaya diri Rasulullah.

Penjelasan di atas, tak boleh membuat kita menyamakan Rasulullah Saw adalah Allah. Karena Rasulullah Saw adalah manusia biasa. Beliau hanyalah seorang utusan yang juga diciptakan oleh Allah. “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan dan mereka bayangkan. Subhaanallaahi ta’ala ‘amma yasifuun;” “Dia tidak menyerupai siapa pun. Wa lam yakun lahuu kufuwan ahad;” dan “Mukhalaafat lil hawaaditsi. Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya.”

Allah adalah sumber hakikat kejelasan dan kebenaran. Segala cahaya kebaikan dan kebenaran bersumber dari-Nya (minallaah), dengan-Nya (wa billaah), dan kembali kepada-Nya (wa ilallaah). Segala cahaya selain dari-Nya, pasti rusak dan membinasakan; segala cahaya tanpa-Nya, pasti menyesatkan dan menipu; segala cahaya yang tak kembali kepada-Nya, pasti hilang sia-sia dan tak bertujuan.

Dengan Cahaya-Nya, Allah menjelaskan segala sesuatu kepada manusia. Ia mengajari dan menuntun manusia ke jalan keselamatan. Cahanya-Nya menyinari kehidupan rasul-rasul-Nya secara fisik dan ruhani, agar manusia tak menolak nubuwah yang mereka sampaikan. Hal ini telah dijelaskan Allah di dalam Al Qur’an.

“Li allaa yakuuna lin naas ‘alallaah hujjah ba’da rasul – Supaya manusia tidak membuat alasan untuk menolak kebenaran Allah.” QS. An Nisaa’ : 165.

Cahaya Ilahi tidak hanya menyinari dan nampak pada hati dan akal para rasul-Nya saja. Tetapi ia juga menyinari fisik atau tubuh mereka. Allah mengaruniakan mereka kebagusan dan ketampanan fisik dan bentuk tubuh. Demikian agungnya Cahaya Ilahi, hingga tubuh dari hamba-hamba pilihan-Nya memancarkan pesona kelembutan, kemuliaan, keagungan, dan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya.

Dari sebagian penjelasan di atas, saya memang sengaja menggunakan judul “Di Lembah Cahaya” untuk menyampaikan pesan mencari dan belajar untuk memahami Cahaya. Sebab saya masih menggunakan pemahaman klasik, bahwa lembah yang posisinya paling bawah adalah pembelajaran. Sedangkan “Puncak Gunung Cahaya” adalah telah mendapatkan dan paham tentang “Cahaya Ilahi,” kemudian mengamalkannya.

Lewat pemahaman tentang Cahaya Ilahi, kita harus yakin, bahwa kita tidak bisa mengenal wujud Allah karena memang Dia berbeda dengan kita – ciptaan-Nya. Tapi dengan perantaraan cahaya-Nya yang tampak pada sifat-sifat Jamaliyyah dan Jalaaliyah, kita harus sadar dan mengimani tentang kasih sayang-Nya, kenikmatan-Nya, karunia-Nya, pemeliharaan-Nya, dan seluruh rahmat-Nya. Termasuk keyakinan, bahwa sifat-sifat suci – mulia – perkasa Allah jauh melebihi apa yang digambarkan di dalam “Asma Allah”. Keseluruhan Cahaya-Nya yang tergambar dalam Asma-Nya menjelaskan bahwa: kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kemurkaan-Nya; Allah itu lebih cepat ridha-Nya daripada murka-Nya.

Demikian besarnya Cahaya-Nya menyinari ciptaan-Nya yang bernama manusia, Dia memancarkan Cahaya-Nya sebagai petunjuk kepada manusia dalam perwujudan nabi dan rasul dan kitab-kitab-Nya. Semua itu bukan tak lain, kecuali sebagai petunjuk dan penuntun manusia ke jalan keselamatan untuk menuju kembali kepada-Nya.

Dengan dimensi Jalaaliyyah, kita harus membersihkan diri dari segala bayangan tentang Allah. Atau tidak membayangkan-Nya sama seperti selain-Nya. Tidak menyekutukan-Nya. Dia tetap “Ahad dan Haq”.

Beda dengan itu, dalam dimensi Jamaliyyah, kita dituntut untuk meniru dan menyerupai beberapa sifat-sifat-Nya dalam kadar dan derajat tertentu. Atau dalam bahasa lain meniru etika Ketuhanan (Tasybih). Di dunia tasawuf, hal seperti ini dikenal dengan istilah “al-takhallaqu bi khuluuqillaah”, atau berakhlaq dengan akhlaq Allah. Contohnya: Allah Maha Rahmaan dan Maha Rahiim, maka kita pun dituntut memiliki sifat kasih sayang dan menebarkannya kepada sesama di dalam kehidupan; Allah Maha Pemaaf (Al Afuww), maka kita juga harus bisa memaafkan kesalahan orang lain; Allah Maha Adil (Al Adl), maka kita pun dituntut untuk berlaku adil dalam segala urusan; dan seterusnya.

Cahaya Ilahi, kita diterangi oleh-Nya agar kita menuju kepada-Nya. Bukan tanpa tujuan, ketika Allah mengabarkan penciptaan manusia kepada para malaikat, Dia Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana berkata, “Innii jaa’ilun fil ardhi khaliifah. Aku akan jadikan di bumi seorang khalifah – pemimpin.” QS. Al Baqarah : 30.

Ayat ini memiliki penjelasan tujuan yang tersirat, bahwa hakikatnya seorang pemimpin adalah memberi terang (cahaya) yang menjelaskan keselamatan dan kebaikan kepada yang di pimpinya. Allah Maha Perkasa dan Maharaja dari segala raja adalah pemimpin untuk seluruh ciptaan-Nya. Manusia juga diciptakan Allah untuk menjadi pemimpin di bumi. Tidakkah kita bertanya, kenapa Allah tidak mengatakan kepada para malaikat, “Aku akan menciptakan seorang HAMBA di muka bumi.”

Sesungguhnya, Cahaya Ilahi telah sangat terang benderang. Cahaya itu telah dipancarkan, salah satunya oleh isi Al Qur’an. Hanya mata-mata yang buta oleh dosa dan tidak beriman kepada-Nya yang tidak bisa melihat cahaya itu.

Dengan perantaraan kata Cahaya – Nur dan Masa – Waktu, di mana keduanya menjadi kata kunci di dalam Al Qur’an, Allah telah menjelaskan dengan sangat jelas dua tujuan utama Dia menciptakan manusia: Untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya, dan untuk menjadi pemimpin dalam berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Cahaya menggambarkan “Petunjuk-Nya yang Maha Lurus” dan Masa menggambarkan “sebab akibat perilaku manusia dan proses kehidupan.”

Saya sering bingung, ketika banyak sahabat bicara dan berdebat tentang Nur Ilahi dan Nur Muhammad. Teringat waktu kecil, ketika diajari sholat oleh bapak saya, beliau lebih dulu menjelaskan tentang fungsi dan tujuan sholat, baru kemudian tentang gerakan sholat dan bacaannya. Setelah itu, beliau menjelaskan bahwa setiap sholat memiliki waktu/masa yang telah ditetapkan oleh Allah. Karena setiap sholat memiliki waktunya sendiri berdasarkan rotasi matahari, maka setiap sholat pun memiliki cahayanya sendiri-sendiri berdasarkan waktu pelaksanaannya. Hingga sering saya bertanya kepada beliau, apakah ruh juga memiliki cahaya sebagaimana ia ditiupkan dan kembali kepada Allah sesuai waktu yang telah ditetapkan-Nya? Ini pertanyaan saya yang beliau belum jawab. Dan Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mewafatkannya sebelum dia sempat menjawab pertanyaan saya. Semoga Allah merahmatimu, bapak.

Menggunakan fungsi hati sebagai tempat masuknya Cahaya Ilahi, terdapat dua pintu hati. Pertama adalah pintu masuknya Cahaya Tuhan (Nuur Rabbaani); dan kedua adalah pintu-pintu masuknya setan. Cahaya Ilahi hanya memiliki satu pintu, sedangkan pintu untuk masuknya godaan dan bisikan setan banyak jumlahnya.

Al Qur’an menyebut jalan Tuhan dengan kata “shiraath”. “Wa anna haadzaa shiraathi mustaqiiman fattabi’uhu. Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus. Maka ikutilah Aku,” QS. Al An’am : 153

Kita semua paham, bahwa sumber lahirnya kecintaan diri kepada Allah bertempat di hati. Demikian juga tempat bersemayam dan terpancarnya Cahaya Ilahi adalah hati. Merawat hati dengan memberikannya makanan “dzikrullah” agar tetap menampilkan Cahaya Ilahi. Agar Cahaya Ilahi tetap menyinari hati, pikiran, dan seluruh perilaku. Dzikrullah adalah ibadah yang paling utama untuk membersihkan hati. Hati yang bercahaya atau cahaya hati (Nur ‘aini) akan melahirkan hati yang  bersih (qalbun salim).

Pentingnya merawat dan memahami fungsi qalbu sebagai tempat bersemayam dan lahirnya Cahaya Ilahi. Karena dari qalbu yang bersih seseorang bisa mengenal dan memahami Cahaya – Petunjuk Kebenaran dari-Nya yang telah terhampar di langit dan bumi. Allah memberikan perumpamaan Cahaya-Nya (petunjuk) kepada langit dan bumi di dalam Al Qur’an. Mari kita merenungi ayat di bawah ini berdasarkan tafsirnya yang benar: 

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” QS An Nuur : 35.

Dulu waktu masih aktif di Jamaah Tabliq, banyak saya mendengar ulama-ulama dari Pakistan dan Yaman berkata, “siapa yang amal ibadahnya di terima oleh Allah, maka kelak di akhirat, ketika  menyeberangi titian shiraath, ia akan melesat secepat kilat. Merenung kembali sifat kata “kilat”, ini mengambarkan sifat cahaya. Kecepatan kilat mengambarkan sebuah proses waktu. Hal ini memiliki kepadanan paham dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah menemui Allah untuk menerima perintah sholat. Jalan menuju Sumber Cahaya adalah ibadah – sholat. Dan kunci mengenal dan mengingat Sumber Cahaya adalah selalu berdzikir kepada-Nya.

Meninggalkan kata shiraath dalam arti lain sebagai jembatan menuju surga, shiraath adalah cahaya atau petunjuk jalan kebenaran dan keselamatan dari Allah. Kebenaran dan keselamatan ini telah ditunjukkan oleh Allah kepada Manusia, bahwa Dia adalah sumber kebenaran dan keselamatan. Selain dari jalan-Nya adalah kesalahan dan kebinasaan. Manusia tak bisa menunjukkan cahaya kebenaran dan keselamatan kepada sesamanya, kecuali atas ijin dan kehendak Allah.

Pada lanjutan ayat di atas, Allah mengatakan, “wa laa tattabi’u subula fatafarraqa bikum ‘aan sabiilih. Dan janganlah kalian mengikuti banyak jalan, karena kelak kalian akan tercerai berai dari jalan-Nya.” Lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa ada banyak terdapat cahaya – jalan – atau petunjuk. Tapi yang memiliki kebenaran dan keselamatan hanya cahaya-jalan-petunjuk dari Allah.

Untuk memahami Cahaya Ilahi, kita tak bisa menggunakan pendekatan pemanfaatan hati secara fisik atau perasaan. Tapi harus menggunakan fungsi terdalamnya sebagai ruhani untuk mengungkap hal ghaib. Atau hati dipindahkan pemahamannya menjadi qalbu. Sebab Allah Maha Ghaib, sehingga tabir yang menutupi keberadaan-Nya di dalam diri tidak bisa disingkap dengan materi. Dia Maha Lembut (Al Lathiif), sehingga kekuatan dan kekerasan tidak bisa digunakan untuk memahami-Nya. Itulah Cahaya Ilahi, hanya bisa dipahami dengan perantaraan cahaya-Nya pula, lewat cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Manusia tak bisa mendekati dan melihat Cahaya Allah dengan perantaraan mata telanjang. Nabi Musa AS telah jatuh pingsan karena itu. Jangankan Musa AS, gunung dan bukit yang secara fisik memiliki kekuatan melebihi manusia, hancur lebur karena Cahaya-Nya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. QS. Al A´raaf : 143

Akhinya, bagaimana aku memahami Nur Muhammad agar bisa memahami Nur Ilahi, bila aku memadamkan cahaya hatiku. Bagaimana cahaya hatiku bisa menjadi terang, bila gambar dunia telah terlukis di cermin hatiku. Tiada sesuatu yang bermanfaat bagi hatiku, selain menyendiri untuk masuk ke medan berpikir tentang rahmat-Nya. Dunia ini gelap gulita, hanya Cahaya-Nya Yang Haq yang menampakkan semuanya. Segala cahaya akan redup, padam, dan sirna, hanya Cahaya Ilahi yang Abadi.

Yaa Robbana!

Kemuliaan dan kesucian cahaya wajah-Mu menyinari segala sesuatu

Wahai Cahaya nan Mahakudus

Wahai Awal dari semua awal

Wahai akhir dari semua akhir

Ampunilah segala salah dan khilafku

Mahasuci dan Maha Terpuji Engkau

 

(Kaetaro untuk Diri).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s