Anak adalah amanah


Bismillahirrahmaanirrahim.

“Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang luhur.” (Ibnu Majah).

imagesAnak adalah amanah. Atau lengkapnya anak adalah amanah dari Allah untuk hamba-Nya. Arti bebasnya anak adalah titipan dari Allah kepada kedua orang tuanya. Judul ini bertujuan untuk menghindari pernyataan, “begini seharusnya mendidik anak menurut Islam.” Judul seperti ini bertujuan memberikan keleluasaan kepada pembaca, terlebih para orang tua untuk mengembangkan metoda-metoda inovatif versinya sendiri dalam mendidik anaknya.

Menurut saya, termasuk rumit membahas soal pendidikan anak. Apalagi bila itu didekati dari sudut pandang ilmu mendidik dan psikologi anak. Atau menggunakan cara dan model tertentu yang saat ini marak berkembang di dunia kita. Namun demikian, dunia anak yang memiliki keistimewaan dan karakteristik tertentu, tak bisa dipisahkan dari dunia orang tua. Kenapa demikian, karena ini tentang siklus hidup manusia. Atau proses perulangan tahapan-tahapan pendidikan.

Tak bisa disangkal, pendidikan anak yang baik sejak dini menyumbang lima puluh persen keberhasilan hidupnya di usia dewasa. Sisanya hasil pengembangan karakter dan kepribadian anak sendiri dari pengalaman hidup dan pendidikannya. Meskipun mendidik anak adalah hal rumit, tapi bukan berarti orang tua yang tidak memiliki latar pendidikan formal yang baik tidak bisa mendidik anaknya. Sebab pintu masuk mendidik anak terletak pada kedekatan emosional, perhatian dan rasa tanggungjawab, dan pemahaman sifat dan karakter anak.

Dari mana sumber materi atau bahan untuk mendidik anak? Pengandaiannya seperti ini: jangankan kehidupan manusia, kehidupan binatang, kehidupan tumbuhan, keberadaan benda mati pun bisa menjadi inspirasi cemerlang untuk mendidik anak. Hingga setetes air yang berperan membentuk sungai dan samudera pun memiliki hikmah untuk menasehati dan mendidiknya. Intinya orang tua mau sejenak merenungi sesuatu dan kemudian mengambil hikmah pendidikan darinya. Kemudian hikmah itu dielaborasi menjadi muatan-muatan pelajaran untuk mendidik sesuai karakter kebaikan yang dimiliki orang tua.

Bicara anak sebagai amanah adalah bicara tentang bagaimana menghidupi, membesarkan, dan mendidik anak agar menjadi “taat dan berbakti”. Atau menjadi sesosok pribadi yang patuh terhadap pesan dan panggilan kebaikan. Tak usah berpikir terlalu jauh dan tinggi tentang hasil didikan. Atau anak akan menjadi apa setelah ia dewasa. Cukuplah kata “taat – ketaatan” dan “berbakti – kebaktian” menjadi simpul utama yang mengikat tujuan pendidikan anak. Kedua kata sifat ini sangat mengemuka, bila dilekatkan dengan hubungan kepada Tuhan, hubungan kepada orang tua, dan hubungan kepada sesama manusia.

Kita bersyukur, Islam sebagai agama yang paripurna telah meletakkan dasar-dasar pendidikan anak sejak awal. Dalam Islam, pendidikan anak tidak dimulai sejak anak di kandung atau saat usia bayi sampai anak-anak. Tetapi dimulai sejak bapak ibunya belum menikah. Artinya setiap pribadi muslim berhak mendapatkan pendidikan dari orang tuanya dan wajib mendidik dirinya sendiri sebelum ia berumah tangga dan memiliki anak. Hingga jangan heran, bila Rasulullah menasehati umatnya yang akan menikah untuk memilih calon suami dan istri berdasarkan kebaikan pemahaman agamanya.

Dalam Islam, aspek ketaatan dan kebaktian menjadi tujuan utama pendidikan keimanan dan akhlak. Saya pikir, semua tujuan pendidikan untuk generasi muslim harusnya menjadikan ketaatan dan kebaktian kepada Allah sebagai fondasi utama. Sebab dengan ini, sifat dan perilaku anak tetap terikat dengan fitrah kehambaan dan kemanusiaannya. Sejauh apapun seorang anak berbuat jahat atau buruk sifatnya, ia pasti mengenal jalan kembali (menyesali dan bertobat) kepada kebenaran Ilahiyah.

Berhubungan dengan itu, kesadaran akan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, akan selalu menjadi pengingat hati dan akalnya. Tak perlu kita kwatir, bila suatu saat anak menyimpang dari kebenaran dan berbuat keburukan. Itu suatu hal yang lumrah dan manusiawi. Yang penting adalah anak telah tahu kebenaran seperti apa yang haru  ia yakini dan jalan mencari kebenaran seperti apa yang harus dia lalui.

Di dalam Al Qur’an, surat Luqman ayat 13, Allah memberikan contoh tentang pendidikan ketaatan dan kebaktian. Sebuah contoh yang bersumber dari kehidupan keluarga yang mulia, Luqman Al Hakim:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Ayat ini menerangkan tentang makna ketaatan dan kebaktian dalam memenuhi kewajiban penghambaan yang telah melekat pada diri setiap manusia. Hanya dengan tidak menyekutukan Allah, seseorang akan terhindar dari berbuat kezaliman untuk dirinya dan orang lain. Hanya dengan keimanan yang benar kepada Allah, seorang anak akan tahu manfaat berbakti kepada orang tuanya, berbuat kebaikan kepada sesama, dan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mulia.

Setiap keluarga pasti memiliki kebahagiaan tersendiri atas anak-anaknya. Senantiasa mengharapkan keselamatan dunia akhirat untuk anak-anaknya. Sampai mendambakan kehidupan anak-anaknya lebih baik dan bahagia daripada kehidupannya sendiri. Namun di balik semua itu, ada sebuah kebahagiaan yang lebih tinggi, yaitu ia ingin agar anaknya berbakti dan menghormati dirinya sebagai orang tua.

Mencermati kenyataan hidup, kebanyakan anak-anak yang berperilaku baik dan berhasil dalam hidupnya berasal dari keluarga yang baik. Namun demikian, tidak jarang kita temui anak-anak seperti itu lahir dari sebuah keluarga yang hancur dan tidak peduli pendidikan anaknya. Demikian seperti itulah Allah memberikan gambaran nyata kepada manusia tentang kekuasaan dan ketetapan-Nya.

Pada dasarnya, anak adalah karunia dari Allah kepada sebuah keluarga. Lazimnya nikmat dan karunia, anak bisa membuat orang tuanya lupa diri/lalai dan terkena fitnah, bila tak disyukuri secara benar. Kehidupan anak yang menyimpang dari ketentuan Allah akibat tidak mendapatkan didikan yang baik dari orang tua, bisa menjadi bencana yang merusak kehormatan dirinya dan keluarganya.

Allah telah mengingat manusia tentang hal tersebut di dalam Al Qur’an, surat Al Kahfi ayat 46:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Anak dan harta oleh Allah sama diibaratkan sebagai sebuah perhiasan. Keduanya bukan menjadi harta yang kekal dan menyelamatkan, bila orang tua tak pandai memelihara (menafkahi dan mendidik) dan memanfaatkannya (menuntun dan mengarahkan) sesuai ketentuan Allah. Harta dan anak sama-sama memiliki hak untuk dipenuhi oleh pemiliknya. Bila hak harta adalah dicari secara halal dan dibelanjakan untuk tujuan ibadah, maka ia akan menjadi baik; Sedangkan hak anak adalah mendapat pendidikan yang benar tentang agama dan kehidupan agar ia pun melakukan kebaikan dalam beragama dan kehidupannya.

Sama seperti harta adalah alat dan kendaraan untuk beribadah kepada Allah, anak pun adalah ladang pahala dan sumber kehormatan untuk orang tuanya. Anak bisa menjadi alat dan kendaraan bagi orang tuanya untuk menuju ketaatan yang penuh kepada Allah dan Rasulullah.

Untuk harta yang tak bernyawa saja kita diharuskan mensyukuri dan menjaganya secara baik,  apalagi terhadap kepemilikan harta yang bernyawa – anak. Kehadiran seorang anak dalam keluarga, harus menjadi pengingat oran tua untuk selalu bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Allah kepadanya. Ia tak boleh lalai dari mengingat Allah. Ia harus selalu memohon kepada Allah agar memberinya kekuatan dan kemampuan dalam merawat dan mendidik. Ia pun tak boleh berhenti berharap, agar Allah senantiasa melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada anaknya.

Pada banyak kasus di masyarakat, sering kita temui anak yang tidak taat dan berbakti kepada oran tuanya. Banyak juga orang tua yang menelantarkan anaknya. Ini kedua hal yang memiliki hubungan sebab akibat. Mencari tahu penyebabnya, harus kembali ke pangkal pendidikan di dalam keluarga. Terutama pendidikan tentang ketauhidan; atau seperti apa orang tua menterjemahkan pemahaman ketaatan dan kebaktiannya kepada keesaan Allah.

Selain memberikan anak kepada suatu keluarga, Allah pun mengiringinya dengan berbagai cobaan tentangnya. Kelapangan atau kekurangan rezeki dan atau kecintaan yang demikian besar dari orang tua kepada anaknya adalah satu bentuk cobaan itu. Tidak jarang kita temui, banyak orang tua yang rela melakukan perbuatan tercela dan haram hanya untuk memenuhi keinginan dan membuat anaknya bahagia. Bahkan ada orang tua yang rela mati demi menyelamatkan nyawa anaknya. Demikian besarnya perhatian orang tua kepada anaknya, kadang bisa membuat orang tua menjadi lupa diri kepada siapa niat kecintaan dan pemeliharaan itu ia berikan. Ia melupakan pertolongan dan kekuasaan Allah dalam memelihara dan mencintai anaknya.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfal : 28).

Dalam sebuah hadist yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Tirmidji yang ditulis Muttafaqun ‘Alaih, Rasulullah bersabda:

“Cobaan seseorang yang datang pada keluarganya, hartanya, anaknya, dirinya dan tetangganya, dapat ditebus dengan puasa, sholat, dan amar ma’ruf nahi mungkar.”

Dari hadist ini bisa dipetik pelajaran, bahwa fitnah yang datang dan atau bersumber dari anak, bisa ditebus dengan puasa, sholat, dan ber- amar ma’ruf nahi mungkar. Puasa dan sholat adalah wujud peribadatan invidual sebagai media introspeksi diri dan kepasrahan kepada kekuasaan dan kehendak Allah; sedangkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah media untuk mengaplikasikan dan mensosialisasikan kepada sesama manusia hasil dari puasa dan sholat.

Islam telah mengajari kita untuk tidak menyamakan kecintaan terhadap lain hal dengan Allah. Derajat kecintaan kepada anak tak bisa disamakan atau disandingkan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Kecintaan kepada Allah akan menyelamatkan anak dan diri orang tua. Tetapi kecintaan orang tua kepada anak yang berlebihan tidak akan menyelamatkan diri dan anaknya.

Mencintai anak harus disikapi dalam keseimbangan dan kepantasan. Dilakukan sesuai hak dia dan pemenuhan kewajiban anak itu sendiri kepada orang tuanya. Demikian juga, anak pun harus memiliki batasan dalam mencintai orang tuanya, agar ia tak lupa untuk lebih mencintai Allah dan Rasulullah.

Rasulullah selalu mendidik para sahabatnya dengan lebih mengedepankan contoh baik dan keteladanan dalam berbagai hal, dibanding nasehat lisan. Secara psikologis, usia anak-anak lebih mudah mengingat/menangkap gerakan dan gambaran daripada bunyi dan suara. Bila setiap orang tua menempatkan dirinya sebagai penyeru kebaikan, dan anaknya ditempatkan sebagai sasaran tujuan da’wah, maka ia akan melakukan lebih besar da’wah lewat perbuatan nyata (da’wah bil hal) dibanding da’wah secara lisan (da’wah bil lisan).

Kembali kepada mencintai anak secara seimbang dan pantas, saya mengutip isi kitab “Kaifa Turabbi Waladan Shalihan,”  sesuai pemahaman saya:

  1. Orang tua mencintai anaknya ada batasnya, begitu juga anak mencintai orang tuanya. Jangan karena rasa cinta itu, mereka lupa untuk mendahulukan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim harus lebih mencintai Allah dan Rasulullah lewat kepatuhan dan ketaatannya kepada hukum Allah dan Rasul-Nya di atas segala hukum lain
  2. Jangan sampai kecintaan kepada anak membuat orang tua menjadi bodoh, bakhil dengan orang lain, menjadi pengecut dalam mendidik anaknya. Ini mengisyaratkan, bahwa orang tua tidak boleh menjadi lemah dan tak berdaya, kehilangan akal dan semangat dalam menghadapi sifat dan perilaku buruk anaknya
  3. Sabar menghadapi cobaan dari anak. Cobaan ini bisa bersifat apa saja, mulai dari membesarkan dan mendidik, menghadapi tabiat buruk anak, musibah yang menimpanya, kematiannya, dsb. Sekali lagi, orang tua dalam menghadapi cobaan dari anaknya tak boleh membuat dia untuk lupa memohon pemeliharaan dan pertolongan dari Allah.

Mungkin kita berbeda dalam melahirkan metode-metode pendidikan dalam mendidik anak. Saya lebih cenderung mendidikan anak dalam kebaikan dengan menghadapkannya langsung kepada fakta dan kerugian dari sebuah kejahatan, dibanding menasehati dia lebih dulu untuk menghindari kejahatan. Atau ia mengetahui manisnya keberhasilan setelah ia merasakan pahitnya kegagalan; mengetahui manfaat berbuat baik setelah menyaksikan sendiri kerugian yang diderita orang lain yang berbuat jahat; dst.

Anak harus dihadapkan langsung dengan situai baik buruk dari sebuah realitas lingkungan di mana ia hidup dan besar. Menurut saya, tak ada gunanya menasehati anak tentang jangan mendekati zina dan mabuk-mabukan di dalam mesjid, tapi menjauhkan dirinya dari menyaksikan sendiri kerugian yang diderita oleh penzina dan pemabuk. Tak ada gunanya memaksa anak untuk belajar mengaji, sebelum menunjukkan kepada dia bahwa Islam dan Al Qur’an tidak bisa dipahami secara benar kalau ia tak bisa mengaji. Tak ada gunanya menyuruh ia sholat, sebelum memberitahu ia tentang sifat dan manfaat sholat bagi seorang muslim. Tak ada gunanya menyuruh ia menutup aurat, sebelum menjelaskan kepadanya bahwa aurat adalah identitas diri yang harus dijaga dan dilindungi kehormatannya, dst.

Jujurnya, saya terinspirasi dengan turunnya Islam di jazirah Arab kepada masyarakat jahiliyah. Dimana Islam dan Rasulullah diturunkan oleh Allah sebagai pembeda kebaikan – kebenaran dengan kebaikan – kebenaran yang lain. Olehnya, saya berpikir, bahwa mendidik anak adalah juga mengajari dia untuk mengenal dirinya agar ia tampil menjadi sosok dengan kepribadian dan keyakinan yang berbeda dari orang lain.

Merenungi generasi awal pemeluk Islam (Awaliyyun), saya sering bertanya dalam diri, kenapa sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia memiliki rasa cinta yang demikian dalam kepada Allah dan Rasulullah; memiliki pemahaman yang dalam tentang Islam; rela mengorbankan harta dan nyawanya demi keimanan dan tegaknya syiar Islam; hingga mereka sangat ridha terhadap ketentuan Allah dan Rasulullah, dan karenanya Allah pun ridha kepada mereka? Ternyata semua itu bersumber dari pengorbanan mereka yang begitu besar untuk masuk memeluk Islam. Mereka memperoleh Islam bukan dari orang-orang tua mereka, mereka tidak terlahir dari orang tua yang telah Islam. Sungguh, keislaman mereka lahir dari kesadaran diri dan perjuangan penuh susah payah.

Kalau kita? Kita adalah anak-anak yang terlahir dari orang tua yang Islam. Hingga tanpa susah payah pun, sejak terlahir kita otimatis dikatakan sebagai orang Islam. Dan sekarang, dengan segala harta dan jabatan orang tua serta kemudahan, kita bisa mendapatkan guru-guru agama yang dipanggil ke rumah untuk mengajari kita tentang Islam.

Minimnya pembentukkan karakter dari orang tua kepada diri anaknya agar mau bersusah payah/berkorban untuk berislam, membuat anak-anak menjadi tidak mencintai agamanya dalam sifat perilaku. Akibat buruk yang tampak awal darinya, anak-anak menjadi tidak taat dan tidak berbakti kepada oran tuanya, meskipun anak telah sholat lima waktu dengan baik dan paham isi Al Qur’an. Akibat buruk keduanya, ia menjadi sombong dan takabur dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama. Kemudian, sifat dan perilaku buruk lainnya pun bermunculan dengan berjubah kesalehan spiritual.

Terdapat lagi satu kesalahan yang rasanya tak boleh saya lewatkan dalam tulisan sederhana ini. Sebuah pendidikan agama yang salah dari orang tua, bersumber dari menanamkan sifat mementingkan diri sendiri (egosentris dan individulis) dalam berislam. Pendidikan agama yang dijauhkan orang tua dari realitas kehidupan lingkungannya, akan membuat anak lebih mementingkan dirinya sendiri dalam beribadah kepada Allah. Anak lebih cenderung meningkatkan kesholehan pribadinya sendiri, dan melupakan hak-hak orang lain di sekitarnya. Ia menjadi fanatik secara sempit, suka taklid buta, dan kurang bijak menyikapi perbedaan keyakinan – kebenaran. Orang tua lupa, bahwa Islam bukan agama yang tertutup (eksklusif) dan bukan agama yang suka memaksakan kebenaran kepada umat lain. Islam adalah agama sosial, karenanya ia membutuhkan masyarakat sebagai ruang aktualisasi kecintaan kepada Allah dan Rasulullah.

Pendidikan agama kepada anak, harus diarahkan oleh orang tua kepada tujuan anaknya menjadi sumber pencerah pemikiran dan pembebas kehidupan orang lain. Pada diri anak harus ditanamkan semangat hidup berjamaah dengan orang lain. Karena dengan hal ini, kualitas keimanan dan kepribadian anak bisa diketahui baik buruknya. Intinya dalam pendidikan anak, orang tua harus berani untuk menguji kemampuan mental dan akal anaknya sendiri.

Kekeliruan pendidikan tauhid yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya, tak jarang membuat kepribadian anak menjadi rapuh. Atau ia sulit menerima kenyataan hidup. Padahal berislam tidak hanya soal urusan hati dan logika saja, tapi juga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Sebab kekuatan hati, akal, dan fisik/jasad adalah unsur-unsur penegakan syiar Islam di dalam diri dan kepada orang lain.

Kembali mengutip (menyadur) isi kitab lain, “Tarbiyatu ‘l-Audad fi ‘l-Islam”, terdapat tujuh tanggungjawab mendasar dari orang tua dalam mendidik anaknya:

  1. Pendidikan Iman. Yang dimaksud dengannya adalah mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan (kecintaan kepada Allah dan Rasulullah), rukun iman, rukun Islam, dan syariah
  2. Pendidikan Akhlak (Moral). Dimaksudkan untuk mendidik anak dengan dasar-dasar moralitas yang bersumber dari nilai dan norma Qur’ani dan sunnah. Al Qur’an dan sunnah harus tetap menjadi pedoman berpikir dan berperilaku, meskipun tidak secara keseluruhan
  3. Pendidikan Fisik. Tak bisa disangkal bahwa menunaikan syariat Islam membutuhkan kondisi fisik yang mantap dan sehat agar jiwa lebih bergairah dan bersemangat. Olehnya anak harus didik agar selalu menjaga kesehatan, kebugaran, dan kebagusan tubuhnya
  4. Pendidikan Intelektual. Islam adalah agama untuk orang berakal dan mampu menggunakan akalnya untuk menyelami samudera ilmu dan kemakuasaan Allah. Hanya dengan kekuatan dan kecerdasan intelektual, seseorang bisa memahami keberadaan Allah dan ajaran-ajaran Islam. Secara kontekstual, hal ini dimaksud untuk memberikan kesadaran kepada anak tentang pentingnya ilmu dalam berislam dan kehidupan, kesadaran berpikir, membudayakan berpikir kreatif dalam belajar, pencipta dan pemula dalam berkarya, dan mengajar atau mengamalkan ilmunya, dst
  5. Pendidikan Psikhis. Ini dimaksudkan agar anak memiliki sikap berani dalam kebenaran, tegas dalam menentukan pilihan, percaya diri, tidak malu meminta bantuan orang lain bila tak mampu, tidak merasa rendah diri, bersikap sederhana tapi elegan, berterus terang, suka berbuat baik, mampu mengelola emosi, dsb. Sejatinya ibadah adalah melatih psikhis dalam mewujudkan sifat-sifat baik dan menahan timbul dan keluarnya sifat-sifat buruk
  6. Pendidikan Sosial. Ini dimaksudkan agar anak mampu menunjukkan akhlak  mulia dan etika keislaman dalam hidup bermasyarakat. Agar ia mampu menempakan dirinya sebagai seorang muslim dalam pergaulannnya, berbuat baik kepada sesama, menghargai orang lain, dsb
  7. Pendidikan Seksual. Pendidikan ini sangat penting dalam perkembangan pribadi anak, tapi terkadang sebagian orang tua masih menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu diajarkan kepada anaknya. Terdapat tiga hal medasar dalam pendidikan ini: seks, naluri seks, dan perkawinan.

Pada kenyataannya, tidak semua orang tua mampu mendidik anaknya dalam ketujuh hal di atas. Entah karena kurangnya pemahaman dan ilmu dari orang tua, tapi bisa juga karena faktor lain. Namun demikian, hendaknya pendidikan iman, pendidikan akhlaq, dan pendidikan fisik harus menjadi hal yang paling utama secara berurutan. Besar harapan, dengan berjalannya usia dan tingkat pendikan/pengetahuan anak, ia dapat berusaha sendiri untuk mendidik dan melatih dirinya dalam lain hal.

Mari kita renungi syair berikut:

Pemuda-pemudi kita tumbuh sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapak ibunya. Pemuda-pemudi itu tidak hidup dengan akalnya semata, tetapi ia hidup dengan agamanya. Maka dekatlah ia kepada agamanya. Kasih sayang kepada mereka adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya, maka berilah kasih sayang itu dengan cara yang benar.

Didiklah anak-anakmu mencintai Tuhan dan agamanya. 

Wassalam.

————————————————————–

Sumber gambar: http://macazzartbloger.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s