Memahami Makna Mata-Telinga-dan Mulut dalam Belajar


(Diangkat dari Pelajaran Pertama untuk Sang Penakluk: Mengenal Makna Diberikannya Mata-Telinga-dan Mulut oleh Allah sebagai Sarana untuk Belajar).

 

merenungSebelum membicarakan fungsi hati dan akal untuk belajar, baiknya kita memahami dulu dari mana keduanya memiliki bahan-bahan agar bisa berfungsi. Ini bukan berarti mengabaikan keduanya sebagai dua organ utama diri manusia dalam membentuk jati diri dan kehidupan. Cukup sulit memahamkan diri sendiri tentang hakikat hati dan akal, karena hal-hal yang berkenaan dengan fungsi keduanya bersifat abstrak.

Pembicaraan kita ini juga menjauhkan fungsi hati dan akal sebagai satu kesatuan sistem tubuh. Termasuk tidak mendekati keduanya dengan pendekatan ilmiah dan anatomis. Orang-orang yang memiliki kekurangan ini (penyandang disabilitas) di luar pembahasan kita. Pembahasan kita berfokus pada pendekatan makna belajar dan makna fungsi anggota tubuh secara terpisah. Bingkai belajar kita adalah pemahaman agama – secara Islami.

Mari kita memulai dengan memberikan ketegasan/kejelasan batasan, bahwa yang namanya belajar selalu dimulai dengan melihat, mendengar, dan berbicara. Atau dengan kata lain, memperhatikan, menyimak, dan bertanya. Memperhatikan ketiga kata kerja itu (lihat – dengar – bicara dan perhatikan – simak – tanya), maka yang bisa melakukan itu adalah: Mata, telinga, dan mulut.

Sejatinya secara kodrati Allah telah menciptakan anggota-anggota badan kita sesuai fungsinya masing-masing. Meskipun fungsi setiap anggota badan berbeda, tetapi dalam bekerja senantiasa saling melengkapi manfaat fungsi dari anggota badan yang lain. Demikian Allah menciptakan keunikan dan misteri tubuh manusia, agar manusia bisa berpikir dan mengambil pelajaran darinya.

Memang benar, kebanyakan orang mengatakan, bahwa seseorang bisa melihat sesuatu dengan mata bathinnya dan pemikirannya. Tapi sebaiknya kita menjauhkan hal itu dari bahasan kita. Sebab kemampuan itu pun pada akhirnya akan kembali juga kepada berfungsinya mata-telinga-dan mulut J

Ada satu hal yang harus kamu pahami, bahwa kebersihan hati dan ketajaman akal harus dimulai dari kejujuran mata dan telinga melihat dan mendengar sesuatu. Bila matamu melihat benda itu hitam dan telingamu mendengar suara itu merdu, maka biarkanlah mulutmu mengatakan seperti apa yang terlihat dan terdengar. Sebab mata dan telinga yang awas dan terlatih, selalu mengirimkan pesan yang benar kepada hati dan akal. Ini untuk melatihmu menundukkan kekuatan hati dan akal yang cenderung menyesatkan, bila keduanya tidak diberi makanan selalu mengingat Allah.

Kebanyakan orang lebih memilih melatih hati dan akalnya lebih dulu. Tapi hendaknya kita tidak demikian. Marilah kita berlatih menjaga dan mengembangkan diri dari hal yang paling sederhana: melatih fungsi mata-telinga-dan mulut.

Mata yang diawasi agar selalu melihat hal-hal baik dan bermanfaat akan membantu menjaga akal tidak memutar-balikkan kenyataan dan merawat hati tetap teguh; telinga yang selalu waspada untuk tidak mendengar berita/kabar bohong dan fitnah, akan membantu menjaga akal tetap berprasangka baik dan hati penuh kasih; mulut yang terjaga dari menebar fitnah dan membicarakan aib orang, akan menjaga akal tetap tajam dan hati tetap bersih.

Selalu ingat bahwa proses belajar selalu dimulai dengan melihat, mendengar, dan bertanya. Baru kemudian diikuti dengan membaca, menulis, dan membukukannya. Kesemua  itulah yang dinamakan sebagai telah berfungsinya hati dan akal atau kamu telah berperasaan dan berpikir. Jadi sebelum melatih perasaan (hati) dan pemikiran (akal), latilah lebih dulu organ-organ tubuh utama yang menyediakan bahan-bahan belajar untuk hati dan akal.

Hanya dengan melihat hamparan laut, tingginya gunung, tingginya bintang, silaunya matahari, dsb, maka akalmu bisa memahami, bahwa semua itu tak terjadi sendiri. Ada kekuatan yang Mahaperkasa yang menciptakannya, Dia itu adalah Tuhan-mu. Hatimu seketika bersyukur, sujud, dan takluk kepada kepada Kemahakuasaan Tuhan-mu dalam menciptakan segala sesuatu.

Hanya dengan mendengar suara kicau burung, gemericik air, desau angin, bunyi petir, dsb, akalmu dengan sendirinya akan sadar, bahwa begitu hebat dan indahnya Tuhan-mu menciptakan suara dan bunyi dengan perantaraan ciptaan-Nya. Hatimu dengan sendirinya menjadi lembut penuh kasih sayang dan kau memiliki perasaan yang peka.

Hanya dengan selalu membicarakan kebaikan dan menjauhkan lisan dari kejahatan, maka lidahmu akan selalu mudah melafalkan keagungan dan kesucian nama Tuhan-mu ketika kau sedang bahagia dan sedih. Hatimu akan selalu menjadi tempat bersemayam nama-Nya. Ini bukan tanpa alasan, sebab sesuatu yang selalu kita sebut namanya, pasti akan selalu kita ingat tentangnya.

Sebelum kau menempatkan Tuhan di hati dan akalmu, tempatkanlah keperkasaan dan kekuasaan wujud-Nya di matamu, keindahan dan kemerduan sifat-Nya di telingamu, dan kesucian dan kemuliaan diri-Nya di mulutmu. Karena hanya mata, telinga, dan mulut yang lebih dulu mampu membuktikan keberadaan-Nya, sebelum akal dan hati membenarkannya (mengimani).

Matamu yang melihat keindahan gradasi warna alam yang ditampilkan oleh peristiwa pelangi dan senja (sunset) akan mengirimkan pesan kepada akalmu untuk merenungi kekuasaan Allah menciptakan keindahan itu; hatimu meresapi keberadaan-Nya dan mengimaninya.

Telingamu yang menangkut desir angin, gemericik air, kicau burung, bunyi petir, akan megirimkan pesan kepada akalmu untuk merenungi bahwa semua itu tidak terjadi dengan sendirinya, ada kekuatan Mahabesar yang menjadikannya; hatimu menjadi tenang dan penuh kasih.

Mulutmu yang senantiasa menyampaikan Kebesaran dan Kebenaran darinya, karena mata dan telingamu telah terbiasa melihat dan mendengar Kemurahan dan Kerahmatan-Nya, akan mengirimkan pesan kepada akalmu untuk berpikir bahwa kau selalu dilindungi, disayangi, dan diselamatkan oleh Dia; hati menjadi takluk dan sujud kepada Kesucian, Kemuliaan, dan Keagungan sifat-Nya.

Membicarakan fungsi ketiga organ ini dalam kontek belajar, perhatikan ketika Allah menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah Saw lewat perantaraan Jibril AS!

Dalam hal itu, melepaskan hati Rasulullah sebagai tempat bersemayam keimanan, dan akal beliau sebagai tempat membenarkan dan menterjemahkan keimanan, Jibril AS mendekati Rasulullah dengan perkataan: “Iqra bismi rabbika”. Atau perkataan itu diartikan, “bacalah dengan nama Tuhan-mu, bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu, dan bacalah demi karena Tuhanmu.”

Ayat Al Qur’an pada surat Al ‘Alaq di atas menggambarkan suatu diialog. Hendaknya dialoq ini memberikan pemikiran kepada kita, bahwa Rasulullah melihat kenampakkan Jibril, beliau mendengar perkataan Jibril, dan beliau bertanya/berbicara kepada Jibril. Pada lanjutan ayat (ayat kedua), Allah menyebut kata benda (sesuatu yang memiliki sifat bisa dilihat dan atau bisa didengar bila benda itu memiliki suara/berbunyi), “Kholaqal insaana min ‘alaq – Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Baru kemudian pada ayat berikutnya (ayat ketiga), Allah memasukkan kata sifat yang bisa langsung dirasakan hati dan dipahami akal, “’Iqra wa robbukal akram – Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”

Kemudian pada ayat keempat surat tersebut  Allah mengatakan, “Alladzi allama bil qalam – Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam (baca tulis).”

Tata urutan surat Al ‘Alaq harus memberikan kita kesadaran berpikir, bahwa mulailah belajar dengan menggunakan organ-organ tubuh yang fungsinya  nyata dan mempelajari hal-hal yang nyata. Pada saat Jibril menyampaikan ayat-ayat itu, yang organ-organ tubuh yang pertamakali berfunsi di diri Rasulullah adalah melihat (mata), mendengar (telinga), dan kemudian bertanya (mulut).

Pada lanjutan ayat (ayat kelima), kemudian Allah memerintahkan Rasulullah (manusia) untuk mempelajari apa yang tidak/belum diketahuinya, “’Allamal insaana maa lam ya’lam – Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.” Pada fase inilah akal dan hati yang lebih mengemuka untuk mencari tahu sesuatu yang belum/tidak diketahui berdasarkan fungsi mata-telinga-mulut.

Di lanjutan ayat (ayat keenam), Allah mengingatkan manusia untuk tidak melampaui batas dalam belajar, “Kalla innal insaana layathghaa – Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” Ayat ini secara tersirat mengatakan, bahwa hati dan akal manusia (orang) yang tidak tunduk kepada Allah, cenderung bisa menjalankan fungsinya melampaui batas.

Urutan penjelasan surat Al ‘Alaq di atas harus dipahami dengan benar! Pahami juga, bahwa sejak kelahiran manusia, hati dan akalnya belum bisa menjalankan fungsinya secara baik dan maksimal. Ia berlatih hidup (mengenal sekitarnya) pertama-tama menggunakan mata-telinga-dan mulut.

Bertanyalah kepada dirimu sendiri! Dari mana akalmu bisa mengetahui dan memahami, bahwa Allah begitu Mahaperkasa dan Mahakuasa? Dari mana hatimu bisa merasakan dan menyemayamkan Allah di dalam dirimu? Sudah tentu dari semua yang pernah kau lihat, kau dengar, dan kau bertanya tentang-Nya.

Tahapan selanjutnya dari belajar memahami makna diberikannya mata-telinga-dan mulut oleh Allah untuk belajar, kita ibaratkan saja seperti: Membaca, Menulis, dan Kitab/buku.

Ayat-ayat surat Al ‘Alaq telah menjelaskan makna membaca yang sesungguhnya: Bacalah demi Allah! Membaca adalah proses penggabungan fungsi mata, telinga, dan mulut. Atau bisa juga kita membaca hanya dengan melihat, atau hanya dengan mendengar (menyimak), dan membaca secara bersuara.

Begitu pentingnya mata dan telinga untuk di awasi fungsinya (oleh hati dan akal) agar senantiasa mendatangkan manfaat kebaikan dan ibadah, Allah telah memperingatkan (mengibaratkan akibat dari kesalahan penggunaan keduanya) di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 7: “Khatamallahu ‘alaa quluubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala abshoorihim ghisyaawatuh walahum adzabun ‘adziim – Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” Di sini Allah menegaskan bahwa fungsi keduanya (mata dan telinga) adalah untuk melihat dan mendengar (baca, mencari tahu dan memahami) ayat-ayat-Nya yang bersifat tersurat – Al Qur’an (Qauliyah ) dan tersirat – Alam beserta isinya dan seluruh kehidupan (Qauniyah).

Menulis! Di dalam Al Qur’an surat Al Qalam ayat 1, Allah telah bersumpah dengan menyebut salah satu huruf fonemis dari rangkaian huruf-huruf Hijaiyah – . Dia juga bersumpah dengan pena – Qalam: “Nuun, walqalami wama yasthuruun – Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.”

Ayat di atas menjelaskan tentang membaca, menulis, dan hasil tulisan (kitab/buku/lembaran tulisan). Yang namanya kitab, tidak boleh dipahami hanya dengan batasan buku yang bersampul-memiliki halaman tulisan-dan bisa dipegang. Tetapi isi hati (perasaan), isi kepala (pemikiran dan pengetahuan – ilmu), dan alam serta segala isinya adalah juga kitab. Demikian juga dengan menulis, harus dipahami sebagai aksara tertulis, simbol yang terlihat, dan suara/bunyi. Selalu ingat, bahwa ilmu hanya bisa terus diingat atau dipahami baik, bila kita mengikatnya ke dalam diri dengan cara menuliskannya kembali.

Untuk yang kesekian kalinya, awal mula akal berpikir dan hati berperasaan adalah dari apa yang terlihat, apa yang terdengar, dan apa yang dibicarakan. Akal dan hati hanyalah tempat memproses seluruh pesan-pesan yang dikirimkan dari mata dan telinga.

Akhirnya! Pelajaran kita tentang makna diberikannya mata-telinga-dan mulut oleh Allah agar kita bisa dengan mudah belajar, cukup untuk hari ini. Nanti kita belajar lagi tentang hubungan ketiganya dengan fungsi hati dan akal. Selamat berlatih dan belajar menggunakan mata, telinga, dan mulutmu, Sang Penakluk J

Semoga Tuhanmu menjaga penglihatan, pendengaran, dan lisanmu dari melakukan keburukan dan kejahatan.

(Pelajaran yang belum selesai…)

 

 

(Abdul Solichin. Fanindi, April 2013).

————————————————

Sumber gambar: http://fkpmsman1.files.wordpress.com/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s