MENULIS dari Hal Yang SEDERHANA


Writing-writing-31277215-579-612Kebanyakan penulis mengatakan, “menulis adalah pekerjaan yang gampang.” Sebagian mengatakan, “menulis bukan pekerjaan yang susah.” Kedua pernyataan ini memiliki maksud yang sama. Ini pernyataan yang memotivasi orang lain untuk menulis.

Kedua pernyataan tersebut adalah penipuan. Sekaligus juga pengingkaran terhadap substansi menulis. Atau bisa dikatakan sebagai pernyataan menggampangkan sesuatu.

Menurut hemat saya, menulis bukanlah pekerjaan gampang. Ia tergolong sulit, karena berkaitan erat dengan kebiasaan dan kemampuan diri (skill). Analoginya, bila menulis adalah sesuatu yang mudah, maka pasti semua orang suka menulis. Atau, tak perlu mengikuti pelatihan berjenjang untuk bisa menulis.

Menulis hanya menjadi mudah, bila seseorang telah biasa melakukannya. Atau terus berlatih menulis. Yang gampang bukan menulis, tapi mendapatkan ide dan gagasan untuk menulis. Urusan menuangkan ide dan gagasan terpilih dalam bentuk tulisan, itulah pekerjaan sulit.

Tidak bisa dinafikan, bahwa dasar menulis bersumber dari kemampuan mengelola potensi otak sesuai fungsinya. Fungsi otak kanan dan otak kiri, harus dilatih terus fungsinya. Atau selalu dilatih untuk memahami dan menyatakan suatu. Meskipun demikian, keduanya tidak mesti selalu berimbang penggunaannya dalam menulis.

Menulis tidak terjadi seketika. Dibutuhkan beberapa pra-kondisi dasar untuk melakukannya. Sebut saja kemauan untuk menulis atau berlatih menulis. Otak harus dibiasakan fokus berpikir mencari dan merumuskan ide dan gagasan. Kemudian diikuti dengan memilih mana yang akan dipakai sebagai bahan dasar merumuskan tema tulisan.

Penguasaan tema tulisan, mengumpulkan bahan, dan kemampuan mengelolanya sebagai isi tulisan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Termasuk di dalamnya telaah yang baik mengenai sasaran pembaca, memilih sifat dan bentuk  penulisan, hingga mengemas pesan yang akan disampaikan.

Sekali lagi, menulis adalah suatu skill yang diperoleh dengan cara terus berlatih atau mengikuti pelatihan. Fakta ini tak bisa dibantah.

Hendaknya kita tahu, bahwa tulisan hebat selalu lahir tangan dari tangan penulis yang memiliki kemauan keras dan berdisiplin dalam berlatih menulis. Dari orang-orang yang belajar secara mandiri karena panggilan kemauan dirinya sendiri.

Mendidik diri sendiri atau belajar secara mandiri (otodidak) dalam menulis, terbukti menghasilkan banyak penulis besar di bidangnya. Otak mereka tidak kehabisan ide-ide cemerlang, serta mata pena mereka tidak pernah mengering. Merekalah penulis yang memiliki karakter tulisan unik dengan gaya penulisan menarik.

Terlepas dari bagaimana mulai menulis dan teknik penulisan, seorang penulis hendaknya menetapkan etika bagi dirinya. Sebuah kode etik yang membentuk sifat dan karakter kepenulisannya. Ini dimaksud agar penulis menjadi dirinya sendiri dalam berkarya. Memang sulit menjauhkan diri dari bingkai subjektifitas. Namun dengan kode etik yang dibuat sendiri, penulis bisa berlaku jujur dalam tulisannya dan menghargai pandangan orang lain.

Secara etika, awal mula menulis hendaknya dipahami sebagai kesadaran diri untuk belajar. Dan bukan menulis untuk berbagi cerita dan informasi kepada orang lain. Apalagi untuk tujuan mempertontonkan kemampuan dan kepandaian.

Kenapa tujuan awal menulis harus demikian? Seorang penulis tak boleh membantah eksistensi  menulis sebagai bentuk komunikasi. Sifat dasar menulis adalah mengelola unsur-unsur simbolik, merangkainya – menghubungkan,  dan mempertahankan makna dari setiap unsur tersebut. Hal ini akan membawa penulis kepada kesadaran normatif tentang kesederhanaan diri (rendah hati) dan sikap bijak menerima perbedaan kebenaran.

Tujuan-tujuan lain dari menulis, hendaknya menjadi urutan kesekian. Bukan menjadi tujuan utama. Ini yang dikatakan sebagai hakikat menulis: kembali mempelajari dan mengkomunikasikan apa yang telah dipahami sebelumnya.

Uraian dari dua paragraf di atas memberikan pesan, bahwa ilmu yang kita miliki hanya bisa dipahami dengan baik lewat cara menuliskannya kembali.

Saya terilhami dengan nasehat seorang penulis tentang hal di atas. Beliau sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri. Sewaktu saya membantunya menulis novel berjudul “Keydo: Novel tentang perempuan, cinta, dan para pejuang di jalan sunyi,” beliau berkata:

“Likin, menulis membantu kita untuk peka terhadap bentuk-bentuk kehidupan… mendidik kita rendah hati, tidak sombong, menghargai perbedaan dan kebenaran dari orang lain. Janganlah menjadi penulis yang suka menghakimi tulisan orang secara membabibuta. Menulis adalah suatu proses belajar kembali memahami sesuatu.”

Pernyataan beliau membawa saya pada satu kesimpulan tunggal, bahwa hendaknya kita mulai menulis dari hal-hal yang sederhana. Ini proses belajar kembali. Mulai menggunakan kata kunci yang bersifat tematik. Kesederhanaan dimaksudkan sebagai pemahaman tentang apa yang kita kuasai dengan baik. Dan kita memiliki kemampuan untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Semakin tinggi ide dan gagasan ingin kita tuangkan dalam tulisan, maka semakin besar bahan yang kita butuhkan untuk membentuknya. Semakin kita dituntut untuk taat pada alurnya dan memberikan penjelasan yang lebih.

Sebaiknya kita menghindari memilih tema penulisan yang luas dan umum. Bila tulisan kita tentang sebuah fakta, maka kita mendekati fakta tersebut dari sudut pandang yang tidak dibayangkan orang banyak. Lebih berfokus pada karakter yang unik dari fakta itu.

Contohnya: Tema penulisan, program beras miskin dari pemerintah terbukti mematikan produktifitas petani lokal. Kebanyakan penulis akan menyajikan fakta dampak negatif program beras miskin. Sebagian lagi akan menulis dalam bentuk kritik terhadap kebijakan pangan dan pembangunan pertanian. Kedua pendekatan ini adalah hal yang umum. Alangkah baiknya kita mempersempit bahasan dengan memilih satu saja pengaruhnya dan kemudian membahasnya tuntas: seperti, peningkatan beban kerja perempuan, berkurangnya alokasi biaya pendidikan anak, kebutuhan akan uang tunai untuk membeli bahan makanan di keluarga petani, dsb.

Mulai menulis dari hal sederhana, jangan dipahami sebagai tidak melatih otak untuk memikirkan ide dan gagasan cemerlang. Ini hanya dimaksudkan agar penulis selektif memilih topik dan sudut pandang penulisan. Penulis tidak boleh mata keranjang dalam menjaring ide dan gagasan. Seorang penulis harus jujur memahami keterbatasan kemampuannya.

Menyangkut pilihan sudut pandang dalam menulis, sebaiknya penulis menghindarkan dirinya dari berlaku latah atau membeo dalam menulis:

Contohnya: Tema penulisan tentang gelas. Bila penulis lain telah menulis tentang bentuk fisik, bahan-bahan pembuat gelas, dan fungsi gelas, maka alangkah baiknya kita menulis dari sudut pandang yang lain. Seperti menulis tentang aspek estetika atau nilai penting gelas dalam acara minum teh.

Menulis ibarat membiarkan otak-pikiran tetap mengalir apa adanya. Dalam pernyataan lain, hal ini saya katakan sebagai, “biarkanlah imajinasimu melesat cepat melebihi pandangan matamu.”

Dua contoh di atas memberikan pesan, bahwa dalam menulis, kita dituntut untuk lebih memfokuskan pikiran pada inti persoalan; pandangan; dan wawasan.

Niat awal menulis yang mengesampingkan tujuan “belajar kembali memahami apa yang telah diketahui,” akan membuat penulis pemula mandek dalam berpikir. Banyak dijumpai penulis pemula kesulitan mempetakan ide dan gagasannya sendiri. Penyebabnya karena rata-rata penulis pemula suka berpikir luas dan umum. Mereka juga terkadang menulis sambil mengedit tulisannya.

Dalam menulis, saya cenderung menghindari gaya penulisan anak kuliahan. Saya tidak mau memasung otak dalam deretan angka dan huruf yang mati. Tidak membiarkan tanda baca mengikuti kemauan saya, tapi kepada kemauan pesan. Apalagi menggunakan struktur pengkalimatan yang baku, dan ejaan yang sempurna secara tata bahasa. Kebiasaan ini membuat saya tidak begitu menyukai tulisan dengan gaya pelaporan dan pengumuman.

Kalau kita tekun belajar menulis, pasti kita mampu menciptakan genre penulisan yang berbeda dari umumnya. Kita bisa memasukkan karakter pribadi kita di dalam tulisan kita. Karena penggunaan struktur kalimat, pilihan diksi, dan tata bahasa dalam tulisan, bisa menjelaskan karakter dan kepribadian penulisnya.

Tulisan yang baik menurut saya, tidak hanya terletak pada aspek pesan tersampaikan dan perubahan pemikiran pada diri pembaca. Tetapi bagaimana memberikan ruang dan mengajak pembaca masuk ke dalam tulisan. Membuat pembaca berpikir dan merasakan, bahwa dialah aktor utama atau subjek di dalam tulisan kita.

Membuat tulisan yang demikian tidak mudah. Kita dituntut untuk lebih memahami aspek semiotika dan sastrawi. Berpikir sistematis dan faktual saja tidak cukup. Ini pun kalau kita mau merubah tata cara penulisan dari deretan angka dan huruf yang mati menjadi sesuatu yang hidup menurut akal dan perasaan.

Sejenak keluar dari gaya latihan penulisan baku menggunakan rumus “5W+1H”, saya ingin kita kreatif menggunakannya. Memang tak bisa dipungkiri, bahwa tulisan apapun juga pasti merujuk ke rumus ini. Tapi hendaknya kita memberikan muatan lebih ke dalamnya. Kita harus mau memberikan jiwa – kehidupan kepada: Apa, Siapa, Kapan, Dimana, Mengapa, dan Bagaimana.

Memberikan jiwa kepada “5W+1H” menurut saya adalah keharusan dalam menulis. Keenam elemen pembentuk tulisan, bukan sesuatu yang mati dan kaku penerapannya. Ia bukan rumus matematika yang hanya diterapkan matematis pula. Elemen-elemen ini berasal dan proses dan dinamika kehidupan.

Kepatuhan yang mutlak terhadap tata cara penulisan baku, akan mematikan kreatifitas berpikir. Akan memasung akal penulis dari aktif mencari gaya penulisan lain. Penulis tidak akan menjadi dirinya sendiri dalam menulis.

Membaca karya-karya ilmiah besar yang ditulis oleh penulis-penulis handal, membuat saya terkesima dan takjub. Mereka dengan merdekanya keluar dari kekakuan model penulisan akademik dengan memasukkan unsur-unsur sastra dan filsafat. Angka dan simbol kimia tidak dipasung dalam batasan rumus-rumus rumit. Konsep, teori, dalil, dan defenisi tentang sesuatu tidak didekati secara tekstual. Semua itu dibahasakan hidup, hingga mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Akhirnya, tulisan yang bermutu adalah tulisan yang menyampaikan kebenaran fakta dengan cara yang benar, jujur, dan  memberikan  pencerahan kepada pembaca.

Jadikanlah dirimu  sebagai penulis dengan gayamu sendiri. Sebab itu lebih bermakna, dibanding kamu menulis dengan mengikuti gaya orang lain.

Manokwari, April 2013.

—————————————-

Sumber gambar:  http://chronicle.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s