KITA BUKAN PEJUANG, APALAGI PAHLAWAN


SwordDalam minggu ini, dua kali saya membangun obrolan serius dengan beberapa teman terdekat. Mereka adalah sahabat-sahabat yang memiliki posisi terhormat di lembaganya masing-masing. Pada beberapa kesempatan, sering saya menyapa mereka sebagai saudara sendiri. Sahabat adalah juga saudara, meskipun kami tidak lahir dari satu rahim ibu.

Saya menemukan semangat tersendiri ketika bersama mereka, saat asap rokok-rokok kami berlomba terbang menyelimuti ruangan. Ada kedamaian dan penghargaan yang saya rasakan, ketika gelak tawa kami membahana, dan bibir kami saling mengejek dan memaki. Inilah dinamika dari arti persahabatan dan persaudaraan.

Apa yang kami obrolkan tak jauh dari apa yang kami alami dan kerjakan .Saya tidak menganggap obrolan kami sebagai sebuah bentuk kerisauan atas sebuah fakta kehidupan. Apalagi dari kemauan suci untuk berbuat yang terbaik untuk orang lain. Entah berapa banyak ide dan gagasan dari kepala mereka membuat saya terkesima dan kagum. Semangat dan jiwa besar mereka memberikan arti tersendiri bagi saya. Namun sayang, saya tak pandai mengungkapkan secara lisan rasa bahagia itu.

Saudara Suhu Air dan Suhu Tanah, kalian membuat saya bangga sebagai sahabat dan saudara.

Saya senantiasa berpikir, seperti apa kedua orang ini memaknai obrolan-obrolan kami. Apakah sebagai mengisi waktu senggang, menghilangkan kejenuhan, ataukah sebagai ruang penyaluran ide dan gagasan di luar formalitas pekerjaan. Saya memahami ini sebagai pelajaran berharga untuk mengukur kelemahan diri sendiri, memahami sifat dan maksud orang lain, mencari ide dan gagasan baru yang unik, dan mempererat hubungan sebagai sahabat – saudara. Bisa jadi apa yang saya pahami berbeda jauh dengan mereka. Atau bisa bertolak belakang. Namun inilah manfaatnya kita perbanyak obrolan dan diskusi.

Tak bisa disangkal, dalam dua obrolan ini saya terkesan agresif dalam berbicara.Saya terlalu egois dengan apa yang saya miliki. Bila ingat ini, kadang saya merasa malu kepada mereka. Tetapi ini harus saya lakukan, karena karakter asli mereka belum juga keluar. Saya sadari sejak awal, mereka masih menggunakan etika dalam berkomunikasi. Terkesan hati-hati dalam berbicara agar tak menyinggung orang lain dan terjadi kesalahpahaman pikiran. Beda dengan saya yang seperti angin ribut dan gelombang. Saya terlanjur menilai, apa yang mereka tampilkan saat itu belum menunjukkan siapa diri mereka sesungguhnya. Pikiran saya ini bisa saja salah. Untuk kalian berdua, saya mohon maaf!

Heheheee…ternyata kejujuran itu sangat normatif dan abstrak sifatnya. Berpikir danberbicara secara mengalir, seperti yang mereka dengungkan, tidak mereka lakukan.

Bertambahnya usia dan pengalaman hidup, saya berpikir, lebih baik jujur lebih dahulu kepada diri sendiri, baru kemudian jujur kepada orang lain.  Kejujuran yang dimulai kepada diri sendiri, akan melatih kita untuk berlaku jujur kepada orang lain. Sedangkan kejujuran kepada orang lain yang lebih ditonjolkan, akan menyebabkan kejujuran kita lahir karena keterpaksaan dan tuntutan/permintaan orang lain.

Kejujuran bukanlah sikap tanpa alasan dan pertimbangan akal. Ia bukan dituntut atau dimintai baru dikeluarkan. Ia tetap merdeka layaknya kita membutuhkan udara untuk bernafas. Ia tak boleh ditunjukkan secara polos dan lurus. Apalagi di situasi yang tidak jelas dan kepada sembarang orang. Berlaku jujur membutuhkan kemasan yang unik, kepada orang yang benar, dan di kesempatan yang tepat. Hanya anak kecil yang bisa jujur dan bohong secara polos dan tulus. Kejujuran orang dewasa selalu terbingkai rasa pamrih. Siapapun tak bisa menghindari hal ini.

Bekerja dan belajar dalam ikatan tata aturan formal yang kaku, pemikiran yang dingin dan membatu, ide dan gagasan yang diniatkan untuk mencari muka, masing-masing orang merasa dirinya lebih hebat, harus kita matikan dan kubur. Bila perlu, kuburan itu tidak kita beri nisan, karangan bunga, dan doa-doa suci. Kita harus berani untuk keluar dari lingkaran kesombongan diri dan ambisi yang tidak rasional; menikmati secara benar dan bahagia dengan apa yang telah kita pilih sebagai jalan hidup; harus mau untuk mengkritik dan mengadili diri sendiri; dan tidak mau hidup dalam bayang-bayang kebesaran orang, atau terikat dengan pemikiran yang tidak kita pahami dari orang lain.

Dalam keseharian, saya senantiasa tergoda dengan pernyataan orang: “kita harus mulai dari hal-hal kecil dan sederhana,” dan “jangan dibikin rumit.” Saya tidak tahu pasti dari mana asal pikiran seperti ini muncul. Bagi saya, tidak ada di dalam kehidupan sesuatu yang sederhana, kecil, dan tidak rumit. Saya pun membantah sesuatu bisa disederhanakan, dikecilkan, dan dipermudah. Selama ini saya memahami kata “sederhana, kecil, dan rumit” sebagai mendesain kerangka berpikir, dan bukan untuk melakukan sesuatu. Mungkin kita lupa dan tidak merenung tentang laut atau samudera. Laut hanya bisa menjadi laut, karena ia diisi oleh tetes-tetes air. Persoalannya bukan pada substansi membangun sesuatu, tapi substansi tujuan dari sesuatu. Ini menyangkut cara berpikir, bukan cara melakukan sesuatu. Atau berpikir lebih dulu tentang tujuan, baru kemudian berpikir tentang cara mencapai tujuan.

Melepaskan sejenak hal-hal di atas, sederhananya, bila saya tekun mendidik diri saya sendiri dalam berpikir dan berperilaku, menghargai kemampuan dan hasil karya saya, serta mengakui kelemahan saya, saya yakin bahwa menghargai orang lain dan menerima perbedaan kebenaran secara otomatis bisa saya miliki.Sebab saya bukan robot yang bergerak atas dasar perintah orang lain; bukan patung yang terbentuk dari hasil pahatan dan ukiran tangan orang. Sejatinya saya bergerak berdasarkan kemauan dan kesadaran sendiri, dan membentuk jati diri berdasarkan pemahaman terhadap realitas lingkungan dan tujuan hidup sendiri.

Perubahan-perubahan diri yang saya lakukan, tidak akan mengikuti apa yang orang lain kehendaki. Sikap dan pemikiran saya berubah berdasarkan kemampuan saya memahami lingkungan dan memetik pelajaran darinya. Tetapi ini tidak berarti saya antipati terhadap ide dan gagasan orang lain. Karena pada dasarnya, saya menyukai kritikan, nasehat dan bimbingan dari orang lain. Bahkan saya merasa butuh dimaki dan dimarahi orang, agar saya sadar diri. Kecuali itu, saya membenci sanjungan dan pujian, sekalipun itu disampaikan orang dengan ketulusan.

Berjalannya waktu yang bertolak dari satu tahapan kehidupan ke tahapan lain,silih bergantinya kehadiran sahabat dan musuh, mengajarkan saya tentang pentingnya memahami diri sendiri. Yaitu mengenal jelas kemampuan dan kekurangan sendiri. Bila saya lemah dalam satu hal, saya harus mencari orang lain yang memiliki kelebihan tentang itu, kemudian saya belajar darinya dengan cara saya. Dan bila saya memiliki kelebihan di satu hal, saya akan mencari orang lain yang memiliki kelemahan itu, kemudian saya membagi kepada dia dengan cara saya. Oleh karenanya masing-masing dari kita tidak boleh memilih peran sebagai hakim dan jaksa untuk kehidupan orang lain.

Saya selalu berpikir, setiap orang harus bersikap berani menunjukkan identitas dirinya dalam pergaulan. Tidak ada salahnya, bila kita mengatakan kepada orang lain, “saya bodoh, saya tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Bisakah anda membantu mengajari saya?” Dan bukan malah memilih menutupi satu kelemahan dengan seribu kelebihan. Dasar belajar harus dimulai dari kejujuran menilai dan mengakui kelemahan diri sendiri, bukan mengejar kepandaian diri. Sebab memiliki ilmu dan pengetahuan adalah untuk melatih dan mengajari diri bagaimana berlaku rendah hati kepada sesama.

Saya senantiasa sadar, bahwa hidup ini adalah belajar untuk berbuat… belajaruntuk mencari tahu… belajar untuk memahami… dan belajar untuk mengakui. Kehidupan tak menuntut kita untuk menjadi orang hebat; menjadi super hero;  dan segala macamnya. Kemarin, kini, esok dan nanti, kita akan terus belajar untuk menjadi orang hebat, super hero, dan yang lain. Termasuk kehidupan tidak memaksa kita untuk jujur. Ia hanya menasehati kita untuk selalu dan tekun belajar tentang kejujuran dan menghargai kejujuran sebagai sifat yang baik. Sejatinya, saya tidak ingin seperti bunglon yang melakukan perubahan diri berdasarkan naluri ada bahaya mengancam dan cari selamat.

Harusnya tirai kesombongan diri kita singkap, bila perlu kita robek dan campakkan ke dalam parit. Hendaknya tembok penghakiman kepada orang lain kita runtuhkan, bila perlu kita remas hingga hancur jadi debu. Hendaknya gerbang keakuan diri kita pecahkan, bila perlu kita cabik-cabik dan membuangnya ke dalam dasar laut. Hendaknya kepentingan memilih diam dalam istana kenyamanan  kita runtuhkan, bila perlu puing-puingnya kita bakar hangus. Hendaknya menara gading memandang diri lebih hebat daripada orang lain kita robohkan, bila perlu bekasnya kita tutupi dengan lumpur hitam. Sahabat dan saudara, kita adalah kita yang sesungguhnya, karena mereka adalah mereka yang sesungguhnya.

Menjadi sosok yang aneh dan unik adalah penyimpangan dalam pandangan banyak orang. Terkadang kita bisa disebut bodoh dan gila, suka cari muka atau cari perhatian. Hingga akhirnya kehadiran kita akan dianggap sebagai pengganggu, batu sandungan, dan dinistakan orang. Kita akan dinilai sebagai pengacau dan pemicu pertikaian. Semoga kita tidak dibilang menganut paham sesat dan tidak percaya adanya Tuhan.

Sebagai manusia kita harus sadar, bahwa Tuhan menciptakan milyaran manusia dengan beragam perbedaan sifat dan karakter. Kenapa Tuhan dengan Kemahakuasaan-Nya tidak menciptakan milyaran manusia dengan bentuk fisik, sifat dan karakter yang sama dan sejenis. Sudah tentu ada maksud dan rahasia Tuhan di balik semua ini. Marilah kita belajar bersama mencari tahu maksud dan rahasia Tuhan dalam menciptakan perbedaan. Sejatinya perbedaan adalah saling mengakui dan menghargai eksistensi masing-masing.

Sahabat dan saudaraku, sadarilah! Hidup ini bukan milik kita sendiri. Ia milik banyak orang. Kehidupan ada dan berproses dari gabungan berbagai macam ide dan gagasan banyak orang. Dinamikanya lahir dari banyak pikiran dan perasaan orang lain. Janganlah bekerja karena ingin disebut orang sebagai pejuang… apalagi mengharapkan gelar pahlawan. Karena bila ini yang kau harapkan, maka  sejatinya kau telah menipu dirimu sendiri. Kau telah mengkhianati keberadaan orang lain yang selalu bersamamu setiap hari… kau mendustakan peran serta dan bantuan orang lain kepadamu. Sudah tentu kita sepakat, janganlah mengorbankan prajurit agar jenderal mendapat bintang jasa.

Pejuang dan pahlawan hanyalah sebutan. Gelar dan penghargaan yang diberikan oleh orang. Keduanya adalah drama kehidupan yang terbangun dari sikap pamrih dan penuh kepalsuan. Hendaknya kita sadar, sebutan dan gelar yang diberikan oleh orang lain adalah beban hidup yang memenjarakan kebebasan kita. Meskipun pada sisi lain keduanya adalah penghargaan dan penghormatan terhadap kita.  Bila kau memaksakan diri untuk mencari gelar pejuang dan pahlawan, maka hargailah juga kepahlawanan orang-orang yang menyebabkanmu memperoleh gelar pejuang dan pahlawan. Karena tanpa mereka, kau tidak akan pernah mampu menciptakan keberhasilanmu.

Apapun yang kita lakukan bersama dan atau di masyarakat, sebenarnya muncul dari rasa pamrih kita. Olehnya kita jangan bersilat lidah untuk mengaburkannya dengan berkata, “saya peduli, saya prihatin.” Marilah kita memberikan gelar pejuang dan pahlawan kepada orang-orang kampung. Karena dari merekalah kita mendapatkan motivasi untuk bermimpi dan berkarya. Atau kita memberikannya kepada orang-orang yang kita cintai, karena dari merekalah mimpi dan motivasi kita tersirami dan terpelihara.

Bila kita merenung, pejuang dan pahlawan sebaiknya kita persembahkan kepada masyarakat kecil di kampung-kampung. Merekalah pahlawan yang sesungguhnya. Kita hanyalah pemeran pengganti dalam sebuah drama epik. Jadi sadar dirilah, kita bukan aktor utama, apalagi penulis skenario kehidupan orang lain.

Untuk seluruh penjelasan di atas, saya mohon maaf, bila saudara-sahabat merasa tersinggung. Silahkan anda memaki dan mengatakan saya sebagai orang sombong karena menggurui orang lain. Namun inilah saya yang sesungguhnya dalam berpikir dan menyatakan pendapat.  :)🙂🙂

 

————————————————————

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s