~ DEKOMPOSER ~


conflictOrang yang pernah belajar Ekologi, pasti memahami tentang peta jalur energi makanan saat berpindah dari satu spesies ke spesies lain atau “Rantai Makanan,”dan sekumpulan rantai makanan yang saling terkait satu sama lain atau “Jaring Makanan.” Ia pun mengerti maksud dari istilah “Produsen” dan “Konsumen” makanan serta hukum saling mempengaruhi yang terjadi antar keduanya. Termasuk juga mengenal siapa Charles Elton, seorang ekolog Inggris.

Bicara soal rantai makanan dan jaring makanan, pasti kita mengenal cacing, belatung, serangga, dan hewan-hewan kecil yang memakan sisa-sisa organisme lain yang telah mati setelah dimakan oleh konsumen primer. Hewan (spesies) seperti ini dikenal dengan sebutan “Dekomposer ” atau “Detritivor.” Tingkat terakhir di bawah dekomposer adalah fungi mikroskopik dan bakteri yang berperan dalam proses penguraian.

Dekomposer bisa dikategorikan sebagai petugas pembersih sampah. Sekalipun begitu, ia menjadi salah satu bagian penting dalam rantai dan jaring makanan.

Dalam menyerap energi (nutrien) dari sumber makanan (produsen), dekomposer memperoleh energi sisa yang ditinggalkan oleh konsumen primer, konsumen sekunder, konsumer tersier, dan seterusnya. Atau karena dekomposer adalah konsumen paling akhir (non mikroskopik), maka bahan makanan yang diperolehnya telah kehilangan banyak energi akibat pengoperan makanan di setiap tahapan konsumen.

Meminjam istilah ilmu Ekologi. Menyimak sifat alami dekomposer, seseorang yang suka memfitnah, mencaci maki, menghujat, menebar kebencian, dan memperdebatkan agama dan keyakinan orang lain, pastas diberi sebutan sebagai DEKOMPOSER. Kalau ada yang lebih buruk dari ini, ia diklasifikasikan ke dalam keluarga fungi dan bakteri. Keberadan dekomposer bukan tidak bermanfaat. Keberadaannya bisa dipahami sebagai ujian dan tantangan untuk mendorong tata kehidupan plural yang saling menghargai dan saling mengakui.

Bila Tuhan dan agama, dan substansi keduanya diibaratkan sebagai rantai makanan, serta hubungan sebab akibat dan saling mempengaruhi dari ketiganya diibaratkan sebagai jaring makanan, maka pihak-pihak yang mendiskusikan dan membicarakannya adalah konsumen. Para konsumen yang terlibat dalam pembahasan memiliki tingkatan penyerapan pengetahuan (energi – nutrien) sesuai kapasitas dan pengetahuannya. Mulai konsumen primer hingga konsumen tersier, tentu mengambil manfaat utama (terbanyak dan terbaik) dari sebuah pembahasan (produsen: Tuhan, Agama, dan subtansi keduanya). Konsumen pada rantai keempat hanya mengambil sisa manfaat yang tidak termanfaatkan oleh konsumen awal. Pengoperan energi makanan memberikan dua indikator: Kemampuan menyerap energi (manfaat) dalam jumlah besar dan terbaru; dan kemampuan menyerap energi (manfaat) terkecil dan tersisa.

Lazimnya naluri (dan akal) manusia dalam memilih sesuatu untuk dirinya, memprosesnya menjadi pengetahuan baru, pasti yang dipilih adalah mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya dan untuk orang lain. Sedangkan berseberangan dengan itu dikatakan sebagai sebuah kebodohan dalam belajar. Atau ketidakmampuan memanfaatkan kemampuan diri dalam memilih bahan dan cara belajar. Yang terakhir inilah sebenarnya hewan-hewan kecil yang terklasifikasikan dalam kelas dekomposer dalam sistem ekologi manusia.

Telah banyak kita temukan di dunia maya orang dan pihak yang memilih peran dekomposer. Mereka lebih memilih sebagai pembanding yang kontraproduktif dalam membicarakan isu-isu agama. Mencaci maki, memfitnah, menghujat, memutarbalik fakta dan kebenaran dari suatu agama, hingga secara sengaja mengadu domba umat beragama adalah modus yang dipilih. Sadisnya, mereka senantiasa mengaburkan identitas diri dan keyakinannya dalam beraksi. Tak jarang paham Atheis dijadikan sebagai kedok.

Perilaku dekomposer dalam konteks ini mengisyarakat bahwa di sekitar kita, ada orang-orang yang memiliki ketidakmampuan berpikir dan belajar secara produktif, kurang pandai menerima perbedaan dalam belajar dan bersaing. Contohnya:

“Seekor harimau tidak pernah mau memakan sisa bangkai dari binatang yang tidak dibunuhnya. Apalagi memakan sisa bangkai tikus yang dibunuh, sisa dimakan, dan telah ditinggalkan oleh seekor kucing. Tapi hewan di bawah kucing, seperti halnya burung gagak, dengan senang hati akan memakan sisa makanan dari kucing. Harimau selalu memilih mengambil manfaat utama dan terbesar dalam hal perolehan energi dibanding kucing; kucing akan melakukan hal yang sama seperti harimau dibanding gagak.”

Keterbatasan mengelola potensi diri, ketidakmampuan bersaing, cara pandang yang sempit, masa lalu yang kelam, kebingungan akan identitas, kehidupan yang tertutup dan labil, dsb, inilah yang kemudian membuat dekomposer mengambil peran kontradiktif dalam membicarakan agama dan Tuhan. Intinya, cacing dan belatung tetap akan memakan sisa makanan dan bangkai busuk, karena tubuh mereka seperti itu, ruang jelajah dan aktifitasnya terbatas,  karenanya besaran energi yang dibutuhkan pun terbatas.

Menurut hemat saya, terlepas seseorang beragama atau tidak, percaya ada Tuhan atau tidak, perilaku suka memfitnah, mencaci maki, menghujat, dan menciptakan konflik kepercayaan/keyakinan adalah sikap busuk (tidak etis) dalam memilih isu dan tema belajar. Hal seperti ini merupakan bahan pembicaraan atau bahan diskusi yang masuk dalam kategori sampah. Karena seharusnya sudah tidak menjadi pilihan bagi seseorang yang cerdas untuk perolehan/mengumpulkan energi (nutrien) bagi dirinya. Ini isu dan tema lama yang telah terbuang dari aras utama diskusi theogis secara humanistik!

Pada beberapa kasus, para dekomposer selalu memberikan alasan atas nama kebebasan berpikir (berlogika) dan kebebasan berpendapat. Menyanjung kemampuan akal dan berlogika sebagai sebab utama. Pernyataan seperti ini sah saja selama tidak memperkosa dan mematikan arti kebenaran milik dari orang lain.

Pada kasus lain, pasti kita temukan satu lagi modus dekomposer. Pada kenyataannya dekomposer bukan tidak menganut suatu agama dan bukan tidak percaya Tuhan. Ada dekomposer yang beragama, tetapi ia memilih mencantumkan agama lain sebagai keyakinannya. Contohnya, ia menggunakan agama Islam, memakai simbol-simbol Islami, tapi dalam aksinya ia menggunakan bahasa kritik untuk memutar-balikkan fakta dan kebenaran ajaran Islam. Tipu muslihat ini pun juga terjadi untuk agama lain, agama Kristen misalnya.

Bila dekomposer dalam ekologi binatang tidak memanipulasi dirinya, dekomposer dalam ekologi manusia melakukan manipulasi diri. Hingga yang lucu, dekomposer manusia bisa dengan gampang berganti-ganti jenis kelaminya. Ini menandakan bahwa hewan dalam kelas dekomposer lebih bersifat alamiah dan bermanfaat untuk membersihkan sampah dibanding manusia sebagai dekomposer.

Semua orang yang agama dan keyakinannya dinistakan oleh orang lain, pasti sepakat mengatakan bahwa kelas dekomposer manusia lebih rendah dan hina dibanding cacing, belatung, kecoak, dan hewan kecil lainnya. Untuk pemulung yang suka mengais sampah, mereka lebih mulia dan bermanfaat derajat humanistiknya dibanding pemulung dalam berpikir (manusia kategori dekomposer).

Menyangkut dekomposer dalam tema agama dan theologi, saya sering bertanya kepada beberapa dari mereka, “apa bentuk kepuasan bathin dan manfaat ilmu yang kau peroleh? Apakah perilaku seperti ini membuatmu memperoleh nama besar dan kebahagiaan?” Semua jawaban yang mereka berikan, tak pernah menyiratkan tujuan utama dari pertanyaan saya. Beberapa yang saya peroleh dari mereka hanya jawaban asal-asalan, dendam dan kebencian masa lalu, merasa diri paling benar, dan mengatakan melakukan seperti itu adalah hak asasinya.

Untuk mereka, saya hanya katakan, “berdebatlah secara pantas dan ksatria. Tunjukkanlah  identitasmu yang asli. Jangan hanya berani berdebat dan mengatakan orang lain salah dari balik pengkhianatan identitas dirimu sendiri.”

Jauh sebelum saya menulis “Dekomposer”… untuk kasus-kasus penistaan agama dan keyakinan yang dilakukan oleh beberapa teman di Facebook, saya telah menulis dua tulisan untuk mereduksi pengaruh negative hal ini: “Prinsip dan Etika Hidup di Dunia Maya” dan “Agama dan Perdebatan.” Kedua tulisan pertama saya berisi dua pesan utama dari masing-masingnya:

  1. Hidup dimanapun juga, setiap orang wajib membuat dan merumuskan tata aturan atau kode beretika untuk dirinya sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa hidup layaknya manusia yang memiliki kejelasan identitas, bermartabat dan punya harga diri, karena kita tidak hidup seorang diri dengan kebenaran kita.
  2. Janganlah mengganggu-mengusik agama dan keyakinan orang lain. Agama-keyakinan adalah suatu hal yang bersifat personal dan sensitif. Setiap pembicaraan yang menghantam kebenaran nilai-nilainya, adalah juga menghantam harga diri dan eksistensi penganutnya.

Untuk sahabat-sahabat saya terdekat, senantiasa saya sarankan untuk tidak merespon aktif geliat dan sepak terjang dekomposer. Alasannya sederhana, bahwa semakin kita peduli dan aktif merespon buah pikiran sesat dari dekomposer, maka mereka akan semakin giat mencari isu dan tema baru. Mereka pun akan semakin terorganisir dan saling memperkuat diri untuk merespon balik. Hingga, semua respon kita terhadap mereka hanya menjadi alat untuk membesarkan dan mempopulerkan mereka. Apalagi tak jarang saya temui, beberapa dekomposer memiliki ketelitian dan keuletan dalam mencari kesalahan dan titik lemah argumen dari lawan debatnya.

Sampai saat ini, saya tetap menempatkan dekomposer sebagai cermin bagi diri saya dalam mempelajari dan mengkaji ajaran-ajaran agama saya (Islam). Merekalah motivator nakal dan tak beradab, tapi berfungsi baik untuk mengasah keimanan dan pemahaman saya tentang Islam. Saya selalu berprinsip, bahwa kita membutuhkan iblis dan setan dalam kehidupan beragama dan ber-Tuhan. Karena di sinilah pemahaman ilmu agama dan keyakinan yang benar kepada Tuhan diuji kualitasnya.

Memperhatikan pertikaian dan debat tanpa ujung dengan dekomposer yang dilakukan oleh teman-teman di Facebook, secara tujuan mereka beda. Tetapi bila menelusuri rekam jejak perdebatan, secara tata bahasa mereka semua sama. Tak jarang yang mengaku Islam dan Kristen pun lebih banyak melakukan hujatan dan caci maki, dibanding dekomposer. Pemilihan kata dan struktur kalimat yang mereka gunakan, sama dengan yang dipergunakan dekomposer. Caci maki, hujatan, dan merasa diri paling benar dan pandai, mempertahankan pendapat, itulah semangat perdebatan mereka.

Saya sering tersenyum… ketika membaca kutipan-kutipan ayat-ayat kitab suci yang sering mereka gunakan sebagai referensi. Pada bagian ini, saya mengakui kekuasaan Tuhan. Kiranya dengan perdebatan-perdebatan seperti ini, masing-masing orang yang mengaku beragama, telah membuka dan membaca kitab sucinya yang sebelumnya tak diperdulikan keberadaannya. Tapi di balik itu saya sedih, khusus yang beragama Islam, mereka mengutip firman-firman Allah di dalam Al Qur’an tanpa memahami tafsirnya secara benar. Mereka menafsirkan dengan menggunakan pendapat pribadinya. Ini pun terjadi pada hadist-hadist yang mereka kutip. Jadinya, mereka adalah santapan empuk bagi para dekomposer.

Ketidak-sesuaian perilaku dengan lisan dari mereka, membuat saya sering berkata kepada saudara-saudara saya yang seiman:

“Bagaimana bisa anda yang seorang muslimah meladeni perdebatan dari umat lain tentang ‘fiqih muslimah”…, sedangkan anda berhadapan dengan mereka menggunakan tank top dan celana dalam.” Atau “bagaimana bisa kau mengatakan bahwa keagungan Islam salah satunya terletak pada keluhuran dan kelemah-lembutan akhlak umatnya, sedangkan kau telah mencaci maki dan menghina agama lain dalam perdebatan.”

Apapun kebenaran agama yang kita anut, dekomposer juga memiliki kebenarannya secara sepihak. Tidak mungkin kebenaran-kebenaran itu dipaksakan untuk didudukkan dalam cara pandang dan derajat yang sama. Sebenarnya tinggal masing-masing orang belajar lebih tekun memahami kebenaran agamanya dan, kemudian mengimplementasikannya secara nyata dalam kehidupannya sendiri.

Untuk para pendebat yang mewakili “nama agama dan Tuhan” yang diyakininya…., semoga pesan saya di bawah ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama:

  1. Tidak ada gunanya kau mengutip ayat-ayat dari kitab sucimu untuk membenarkan dirimu dan menyanggah kebenaran orang lain
  2. Tidak ada gunanya kau mengutip ayat-ayat suci dari kitab suci orang lain untuk membantah penganutnya
  3. Setiap orang tidak berhak mewakili agama dan Tuhan yang diyakini dan imaninya untuk berdebat dengan orang lain yang berbeda agama dan keyakinan
  4. Setiap orang berhak mempertahankan kebenaran agama dan keyakinannya dengan cara-cara yang santun dan cerdas
  5. Bukan agama dan keyakinan yang salah, tapi cara beragama kita yang salah
  6. Agama dan keyakinan bukan untuk diperdebatkan kebenarannya. Tetapi untuk dipahami dan dilaksanakan nilai-nilainya.

Demikian tulisan sederhana ini saya tulis, semoga ada manfaat bagi diri saya pribadi. Karena Dekomposer akan tetap ada… mereka berkembang biak layaknya hewan bersel satu, dan akan memakan keyakinan kita layaknya cacing tanah dan belatung. Wa Allaah A’lam.

 

(KAETARO untuk Diri. Fanindi, 12 Mey 2013)

 

——————————————————–

Sumber gambar: http://www.newmanagersonline.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s