Bilamana CINTA Bertutur


a78Bilamana akal mampu mengendalikan rasa dan hati mampu membersihkan pikiran, maka cinta lebih segar dari kelopak mawar, lebih semerbak dari secangkir madu. Tapi entahlah, apakah cinta sesederhana ini. Ataukah lebih rumit dari memahami layunya mawar, dan mencampuri madu dengan air.

Segampang cinta terucap, semudah itu pula ia terhempas karena nafsu yang merajai. Tapi entahlah, apakah cinta mudah tertakluk oleh keperkasaan nafsu. Ataukah memang awalnya adalah nafsu, kemudian diberi jubah cinta.

Terkadang saya tertawa, menertawakan diri sendiri. Hemat saya, sungguh lucu cinta menguat dalam bentuk kata-kata. Tetapi pada saat yang sama, maknanya kering dan terpenjara. Hingga cinta memisahkan diri dari sebab lahirnya. Inikah misteri dari kekuatan kata sebagai penyaluran hasrat cinta?

Kita jatuh dan terjerebab dalam berbagai defenisi cinta. Ibarat segelas air melarutkan dahaga yang membara. Atau sebutir berlian yang jatuh pecah…. berantakkan menjadi keping-keping kecil. Cinta…  semakin terbatasi dirinya dalam lingkaran kata, ia akan layu dan jatuh.

Akankah akal mampu mengurai cinta? Hati mampu menampungnya, agar tak ada celah untuk membantah? Jangankan saya… dan kamu, Rumy pun takluk tak berdaya menatap cahaya cinta yang kemilau. Rumy hanya berkata, “seperti keledai dalam lumpur, seperti itu akal tak mampu mengurai cinta.”

Dalam bayang-bayang diri yang mengajak malam panjang bercakap, cinta sendirilah yang dapat menguraikan cinta…, cahaya cinta sendirilah yang bisa menerangkan cinta. Bayang-bayang tak mampu memberi alamat pasti, sekalipun matahari menjelaskan dirinya dengan perantaraan bumi.

Saya telah menyandera cinta dengan tali temali rasa dan akal. Tetapi cinta tak pernah ragu mengantar…, menuntun saya dari satu kebingungan ke kebingungan yang lain. Cinta menyingkap rahasia, menjelaskan pesan, karena cinta menjelaskan dirinya sebagai rahasia Ilahi. Saya tertakluk, ketika lidah memaksa diri, tapi hati tidur dalam gelap dan akal tak berilmu.

Di manakah ruang dalam khayal untuk mendudukkan khayalan bagi zat-Nya. Hadir dan perginya cinta, ia keluar dan datang semau bibir berucap. Hingga tak aneh,kalau langit dan bumi menertawakanku dengan lantang. Aku malu…, memalingkan muka dari tatapan lembut empat penjuru mata angin.

Rahasia ini tak berujung. Awalnya saja sudah terbakar. Di tengah rahasia yang terpendam, ku tusukkan kalbuku dengan kerinduan. Seperti benih tersembunyi dalam perut tanah, ketika tumbuh, nantinya akan menjelma jadi satu dua helai daun hijau. Semoga hasrat yang tercurah tanpa tanya, menyuburkan padang kerontang.

Pernah aku membaringkan cinta, telanjang tanpa sehelai kain. Mengecup bibirnya yang ranum, aroma mulutnya begitu wangi. Tubuhnya putih mulus, mataku tak melihat bercak cacat dan celah. Geliatnya membangkitkan hasratku, mencumbuinya dirinya penuh nafsu. Di liang senggamanya yang  terkuak nyata, aku melihat diriku telanjang seperti bayi, bersujud kepada-Nya seperti dulu di alam rahim. Aku merasakan dinding rahimnya penuh kasih sayang, liangnya mengelus dan memeluk lembut. Tak bosan diriku menikmati keindahan payudaranya, kelembutannya membuatku ingin terlahir kembali.

Akankah aku mencintai Tuhan, setelah nyata melihat keindahan fisik-Nya?Ataukah aku hanya menyembah, ketika Dia memukulku dengan kepalan tangan-Nya yang perkasa? Tak sadar diriku, jangankan satu helaan nafas yang keluar,mengganti sehelai saja bulu roma yang tercabut dari kulit, ku tak mampu.

Sungguh, ketampanan wajah telah menjadi musuh. Betapa tololnya diriku berharap sandingan seorang gadis cantik bertubuh molek. Butanya aku mencintai kecantikan jasmani.  Hingga jiwaku terkurung oleh tajamnya kuku jemari-jemari lembut. Api rindu kepada selain dari-Nya, hendak ku redakan nyalanya. Walau nanti, hati ini dilanda sakit oleh desakan godaan asmara.

Sekarang, atau nanti, aku akan bertanya, “di manakah cinta yang tidak tercemar nafsu serta keinginan birahi berada?” Jawabanmu, dan suara sombong dari batu-batu hitam ini tak sanggup menjawab, “lakukanlah kebaikan yang tidak berselubung keburukan.” Karena ilham dan hidayah, bukan seekor anjing kudis seperti yang kutemukan siang tadi di tempat sampah. Cinta harusnya mencerahkan penglihatan bathin.

Tuhan membiarkan orang suci berderma. Sama seperti Dia membiarkan orang munafik bersembahyang. Meniru yang baik, meniru yang jahat, Tuhan tak pernah bingung melihatnya. Semua berjalan seperti tujuannya masing-masing. Nanti juga mengalir sendiri ke muara, karena kerohanian akan menjernihkan air kabur dan busuk. Seperti kesetiaan cinta yang tak pernah lelah memisahkan air dari minyak; cinta menyatukan air, kopi, dan gula menjadi minuman lezat, teman setia diri merenung di saat kesepian menyapa.

Terkadang sifat setia, khianat, dan cemburu berjalan bergandeng tangan mengiringi cinta. Ada saat ketiganya polos, tulus, tapi kadang juga memperlihatkan keakuannya. Aku tak mengatakan, “cinta adalah hamba Tuhan yang mati terhadap dunia dan hidup di dalam Tuhan.” Aku pun menolak kau membiarkan cinta tenggelam dalam ceruk ketiganya. Walaupun tubuh merupakan rumahnya iri hati, ku harap kau memahami cintamu, “sebagai sebutir debu takluk di bawah telapak kaki Keperkasaan Tuhan.”

Hati adalah permata, tak secuil pun cinta mampu menghitamkannya. Karena asal hati adalah tanah, bukan selainnya. Jika aku mampu mendustai cinta, ku tak mampu memisahkan tanah dari tubuhku. Bila ku mampu membersihkan hatiku, ku tak sanggup mengatakan diriku tak hina di mata Tuhan. Karena aku tak bisa jujur menilai kemurnian cintaku sendiri. Hanya Tuhan Hakim Maha Adil.

Semua orang boleh bicara kebaikan dan kemuliaan cinta. Aku tak membantah, bila dibilang, “di dalam cinta ada keselamatan.” Aku berpikir sederhana bahwa cinta merupakan karunia dari Tuhan. Maka di dalamnya ada perintah dan larangan.Cinta membutuhkan keteraturan dan nilai dalam pelaksanaan.  Perintah dan larangan dari-Nya, tak memaksa untuk dilaksanakan semuanya. Tuhan hanya memberikan pesan, hendaknya manusia berhati-hati dengan kelemahan dan kekuatan dirinya dalam bercinta.

Lain dari Rumy, Gibran berkata, “Itulah lagu yang dicipta dalam renungan,dan diterbitkan oleh keheningan, dan jauh dari keriuhan, dan dilipat oleh kebenaran, dan diulangi oleh mimpi-mimpi, dan disembunyikan oleh kebangunan,dan dinyanyikan oleh jiwa…, itulah lagu cinta…, lebih harum dibanding melati, adakah suara yang dapat memperbudaknya?”

Hanya yang bercinta dan pencinta yang paling bisa memahami cinta. Seirama dengan itu, cinta lahir dari kemerdekaan diri terhadap nafsu. Meskipun cinta membutuhkan gairah dan semangat untuk menyatakan dirinya, kata yang tepat untuk menyebutkannya adalah hasrat. Bukan nafsu. Sebab nafsu memiliki kecenderungan berlebihan,sedangkan hasrat adalah kehati-hatian.

Bilamana kita telah berteriak lantang, “aku tak butuh cinta!” Bisakah kita jawab teriakan itu dengan, “cinta tak membutuhkanku?” Kefakiran terhadap ilmulah penyebab cinta menjadi kering dan mati. Nafsu ingin memiliki segaladari cinta, menjadikan cinta sebagai panglima dalam segala urusan, membuat cinta tidak merdeka menjelmakan dirinya. Yang harus dirubah lebih dulu adalah cara pandang, melatih pemahaman secara benar, dan bukan memperlakukan cinta sebagai materi yang tersifati.

Ilmu agama adalah takhta dari kerajaan yang bernama diri. Dialah kecerdasan untuk merancang siasat yang rapi dan jitu dalam hidup. Cinta bukanlah sahabat karib yang arif dan bijak, apalagi musuh yang mengancam. Cinta akan memperlihatkan keraguan, manakala mata melihat banyak wujud. Ilmu adalah dengannya tirai dunia disibak,  dengannya gunung dan samudra tidak berdaya menghadapi manusia.

Cinta takkan pernah segar menceritakan dirinya, selama nafsu masih segar juga. Iman takkan segar hidup, bila nafsu bercinta telah menutup rapat pintu-pintu masuknya rahmat. Jadi bila cinta ditafsirkan menurut keinginan,maka maknanya akan menyusut, dan menyimpang. Seperti kau memandangi samudra luas, tapi meniadakan tetes-tetes air yang menjadi asal samudra.

Bila cinta dalam kata-kata ibaratnya bijian tasbih… ataupun ruas jemari, maka maknanya adalah ruh yang menjadi dasarnya hidup. Pahamilah gelombang samudra yang bergelora, besar dan angkuh, menampar punggung karang dan bibir pantai dengan pongah, tapi ia tak indah. Lebih indah riak-riak kecil yang menari gemulai di wajah telaga. Kelembutan dalam bercinta senantiasa menghadirkan seribu satu pesan kasih sayang. Tidakkah kau tersenyum ramah menyambutnya?

Bila nanti dalam hidupmu, cinta melahirkan kepedihan dan kedukaan. Sadarilah, bahwa cinta tak butuh pengorbanan dan penghambaan. Tuhan menciptakan pedih dan duka agar kebahagiaan menjadi nyata melalui perantaraan sesuatu yang berlawanan. Cinta dan kebahagiaannya adalah sesuatu yang tersembunyi. Tapi bukan berarti keduanya tak bisa dirasakan nyata. Ibaratnya, Tuhan tak punya lawan, tapi Dia selalu tersembunyi (Maha Ghaib)… Sedangkan cinta punya lawan, makanya ia membutuhkan lawannya untuk menerangkan kehadirannya.

Kekasihku. Entah siapa yang merasa dirinya sebagai kekasihku. Aku telah menghamparkan permadani, tapi bukan untuk telapak kakimu melangkah. Takkan ku nistakan cintamu. Apalagi mematikan mekarnya kembang-kembang setia yang kau sirami. Aku tak mau kita luruh, jatuh tertakluk oleh hantaman gelombang pemikiran cinta. Ku ingin kita menjauh dari jalinan kata-kata indah. Tidak seperti orang-orang merajut sajadah dari benang sutera, mengalungkan untaian mutiara di leher, menunjukkan jari manis terlingkar cincin emas ke wajah orang lain, atau mengharu-birukan puisi cinta dengan kata-kata manis dan bujuk rayu.

Kekasihku. Sudah saatnya kita diamkan sejenak cinta, agar ia tertidur pulas, beristirahat di luar penjara kata-kata. Bila kita tak mampu menampung tetes-tetes air, paling tidak kita mau menangkap satu percikan air yang diterbangkan angin. Untuk cintaku kepadamu, “Sungguh kepada-Nya kita akan kembali.”

 

———————–

Sumber gambar: http://ciricara.com/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s