RAMADHAN, Bulan Kasih Sayang


ramadhan-al-mubarak</aKBissmillahirrohmaanirrohiim

Berbagai kesibukan membuat kita tak sempat berpikir, bahwa kehidupan dan waktu terus berjalan. Tak terasa, waktu telah mengantar kita memasuki Ramadhan. Bulan ini penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah. Suatu bulan yang hadiahkan Allah kepada manusia untuk memperbanyak pahala dan memperbaiki diri. Ramadhan salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt kepada kita. Suatu kasih sayang dari-Nya, yang tak bisa dinilai dengan materi dan amal ibadah.

Demikian mulianya ramadhan, hingga ia menjadi bulan terbaik di antara sebelas belas bulan. Bulan yang di dalamnya Allah turunkan Al Qur’an sebagai petunjuk – penjelas – dan pembeda perkara hak dan bathil. Bulan yang di dalamnya Allah sediakan satu malam terbaik dan termulia di antara seribu bulan.
Ramadhan telah datang, mari kita menyambutnya dengan penuh suka cita. Memasukinya dengan niat semata-mata menyembah dan beribadah kepada-Nya. Membersihkan diri dan harta demi mengagungkan dan mensucikan Dia Sang Pencipta. Menata kembali sifat dan perilaku, menimbang lagi kebenaran niat penghambaan, meluruskan jalan hidup, sembari memohon pertolongan dari-Nya.

Hidup di dalam Ramadhan merupakan kesempatan terbaik bagi setiap muslim. Karena tak semua orang berkesempatan memasuki ramadhan. Ada yang memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan ramadhan tahun ini, tapi sayang kematian telah menjemputnya. Ada yang berharap memasuki ramadhan tanpa masalah, penderitaan, dan beban hidup, tapi sayang harapannya tidak terkabul. Sebagian lagi berharap menjalani ramadhan bersama orang yang dicintai, tapi sayang orang yang dicintai telah berpisah dengannya, atau telah meninggal dunia.

Ramadhan mengajari kita keindahan dari beribadah secara berjamaah. Sudah tentu terasa hambar, bila sahur – buka puasa, sholat wajib, sholat lail, tadaruz Al Qur’an, i’tikaf di masjid, kita sendirian. Suasana religiusnya, hari-harinya yang mengharu biru dalam beribadah dan beramal, saling bersilaturrahmi, membawa kita pada kebutuhan akan rasa kebersamaan.

Tak seorang pun ingin memasuki ramadhan tanpa bersama sanak keluarga, jauh dari orang-orang terkasih. Suasana pasti terasa beda, bila kita hidup sendirian dalam bulan ini. Ramadhan menyadarkan kita, bahwa dalam menjalani hidup dan menyembah Allah, kita butuh perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Kita butuh pemaafan, dan kita butuh memberikan maaf kepada orang lain.

Ramadhan memiliki kekhususan dalam kasih sayang. Ia menghadirkan sejuta bahasa cinta bagi yatim piatu, fakir miskin, dan orang teraniaya. Bagi mereka, Allah bukakan hati dan pikiran orang-orang mampu untuk menyantuni mereka. Meskipun memasuki ramadhan tanpa kehadiran ayah-ibu, rezeki yang cukup untuk hidup sehari, dengan penderitaan yang mendera, Allah mengasihi mereka dengan karunia-Nya yang berbeda. Kesendirian, kemiskinan, dan penderitaan yang mereka alami, digantikan dengan pahala dan rahmat berlipat ganda oleh Allah.

Dalam ramadhan, beribadah dan beramal, bukan lagi pahala yang dicari. Tetapi keridhaan Ilahi semata yang menjadi tujuannya. Ramadhan menjadi bulan penuh kasih sayang. Di dalamnya setiap muslim berlomba menebar kebaikan dan pertolongan, serta sadar diri untuk tulus berbagi cinta kasih kepada sesama dalam hal kebaikan. Sungguh, di bulan ini, niat cinta kasih kemanusiaan terjaga dari gangguan nafsu dan syahwat.

Ramadhan, bulan penuh keheningan diri dan bertawakal. Bulan yang memasung sepak terjang setan dan iblis. Bulan ini meleburkan perbedaan lahiriah, mematikan rasa iri dan dengki, memusnahkan amarah dan dendam, mematahkan kesombongan dan prasangka buruk, demi bersatunya bathin-bathin yang senantiasa mengharapkan ridha Ilahi.

Pernahkah anda berpikir sejenak di awal bulan ini, “andai tak ada ramadhan dengan segala kemuliaannya. Andai di dalam ramadhan tak ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan?” Atau anda berpikir sederhana saja, “andai saya tidak bertemu dengan ramadhan tahun ini?”

Pintu ramadhan telah terbuka lebar. Terpancar cahaya kemuliaan, tercium aroma wangi keagungan dari dalamnya. Cahayanya terang membedakan, cahayanya jujur menjelaskan, cahayanya tulus mengasihi, dan cahayanya lembut menuntun setiap hati yang rindu kembali kepada Tuhan-nya. Allah meridhai kita memasuki Ramadhan 1434H, Dia meridhai Ramadhan tahun ini menjadi milik kita. Ini satu kesempatan mulia dalam hidup. Tetapi bila kesempatan ini tidak kita terima dengan penuh syukur, tidak berusaha mengambil manfaat terbesar dari dalamnya, maka sungguh merugilah diri kita. Karena belum tentu kita bisa menemui Ramadhan tahun di depan.

Akhirnya, Allah telah memberikan kita kehidupan di sebelas bulan lalu, kemudian Dia memberikan kita satu bulan untuk mendapatkan sebesarnya ampunan, sebesarnya kesempatan memperbanyak pahala, dan seluasnya jalan dari pintu-pintu rahmat-Nya. Ramadhan dengan segala keistimewaan dan kemuliaannya, yang di dalamnya terdapat ‘lailatul qadar’ dan “nuzulul Qur’an’, adalah bukti cinta kasih Allah kepada kita yang tak terbantahkan.

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s