CINTA ALLAH MENIADAKAN PENGHAMBAAN


Bismillahirrohmaanirrohiim

Ya Allah!
dengan kemuliaan-Mu, Engkau menyayangiku
dengan kesucian-Mu, Engkau mengasihiku
dengan keperkasaan-Mu, Engkau melindungku
dengan keagungan-Mu, Engkau menolongku
dengan kekuasaan-Mu, Engkau mengawasiku
dan dengan rahmat-Mu, Engkau mencintaiku

love-allahMengapa kita mencintai Allah? Pertanyaan sederhana ini tak habis kupikir jawabannya selama ini. Tetapi mungkin bagi kebanyakan orang, jawabannya sangat sederhana dan mudah didapat. Siapa saja bisa menjawabnya, dari berbagai sudut pandang dan berbagai pilihan dasar pembenaran. Namun bagiku, pertanyaan ini sangat kompleks, butuh perenungan dalam, butuh ilmu tertentu, dan butuh kejujuran pribadi untuk menjawabnya.

Bagi yang pernah membaca kitab “Al-Mahabbah” karangan Imam Al-Ghazali, tertulis bahwa:

Fa inna al-mahabbah lillaah ‘azza wa jalla hiya al-ghaaya al-qhuswaa min al-maqaamat wa dzarwah al-‘ulyaa min al-darajaat. Artinya, sesungguhnya kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla adalah tujuan puncak dari seluruh maqam dan kedudukan yang paling tinggi.”

Cinta kepada Allah adalah maqam tertinggi. Tak ada lagi maqam sesudahnya, setelah mencintai Allah. Di dalam kitab ini Al-Ghazali mengatakan lagi, bahwa setelah mencintai Allah dengan sebenarnya cinta, maka yang akan diperoleh adalah hasil – buah dari cinta itu sendiri.

Hasil atau buah dari mencintai Allah adalah kerinduan kepada-Nya (syauq), kemesraan kepada-Nya (uns), menerima dengan lapang dada seluruh ketetapan-Nya (ridha), dan lain-lain. Maqam-maqam lain di bawah mahabbah, seperti perasaan takut (khauf), pengharapan (raja’), jujur (shiddiiq), sabar, ikhlas, zuhud, dan sebagainya, adalah maqam yang mengantar kepada mahabbah.

Memang benar bahwa cinta kepada Allah tak bisa meniadakan – atau mengganti status kehambaan kita kepada-Nya. Karena dasarnya, manusia tetap sebagai hamba – ciptaan dan Allah sebagai Tuhan – Pencipta. Namun pandangan ini dengan kebenarannya yang absolut, tak melarang – membatasi manusia untuk memahami cinta kepada-Nya dengan penyebutan ‘Allah Kekasihku’.

Menyebut Allah dengan sebutan “Kekasih”, dasarnya bersumber dari rasa kerinduan kepada-Nya, mengharapkan kehadiran-Nya, dan membutuhkan kasih sayang-Nya.

Sebutan “Allah Kekasihku” meniadakan pikiran kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya karena pertimbangan kewajiban penghambaan. Seluruh yang kita lakukan kepada-Nya sebagai kekasih, tak lagi karena alasan untuk memperoleh pahala dan menghindari dosa. Karena kebaktian kita kepada-Nya telah lahir dari kebutuhan akan cinta-Nya. Sehingga tiap saat kita melakukan apa saja yang bisa membuat Allah senang dan bahagia. Kita selalu memilih untuk melakukan dan memberikan yang terbaik hanya untuk-Nya.

Apakah ada alasan logis kita menyebut Allah sebagai Kekasih-ku? Pertanyaan ini saya jawab juga dengan pertanyaan, “apakah Allah tidak mencintai kita sebagai kekasih-Nya?”

Ini awal Ramadhan 1434H, saat yang tepat bagi setiap orang untuk jujur merenungi kehidupan dirinya. Menghitung kembali seluruh nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya sejak ia hidup di alam rahim. Mencari tahu  rahasia-rahasia cinta Allah kepada dirinya. Mempertanyakan kembali, kenapa Allah memberikannya kesempatan hidup.

Bila kita telah berhasil memperoleh jawaban dari beberapa pertanyaan di atas, maka lebih layak Allah yang menyebut kita sebagai “kekasih-Nya”, dibanding kita yang menyebut-Nya sebagai “Kekasih-ku”.

Saudaraku, kecintaan Allah kepada hamba-Nya sangat sulit untuk kita berikan batasan dan penjelasannya. Entah dengan pendekatan apa hendak mendefinisikannya. Atau atas dasar apa kita membantahnya.

Bukti Allah mencintai kita, di antaranya, Dia memberikan kita kehidupan di atas bumi. Dia memberikan kita hak hidup, hak mencari nafkah, dan hak beranak pinak berapapun kita sanggup. Dia menyediakan seluruh jawaban dari kebutuhan dan kepentingan kita, dan memberikan kita keleluasaan tak terhingga untuk memperolehnya.

Apakah perintah dan larang Allah untuk manusia adalah bukti kita tidak dianggap oleh-Nya sebagai kekasih? Apakah status hamba yang melekat di diri manusia membantah cinta-Nya kepada kita? Kembali lagi, kedua pertanyaan ini saya jawab juga dengan pertanyaan: apakah kita melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan-Nya sebagai seorang hamba, atau sebagai seorang kekasih-Nya?

Menggunakan pertanyaan untuk menjawab pertanyaan, bukan untuk menghindari penjelasan – atau karena tidak ada jawabannya. Tetapi bertujuan mengajak diri kita untuk belajar memahami fakta-fakta Keilahian dan kemanusiaan secara jujur. Karena sesungguhnya, Allah telah menyediakan jawaban-jawaban itu di dalam hati dan akal kita. Namun sayangnya, kemalasan kita dalam belajar ilmu agama, tidak mau merenungi penciptaan, dan tidak jujur mensyukuri nikmat dari-Nya, yang menjadi sebab kita tak menemukan jawaban. Kalaupun ada jawabannya, pasti menyimpang dari kebenaran.

Memahami Allah sebagai kekasih, selalu akan membuat kita terjaga – tersadar ketika melakukan – masuk dalam sebuah kesalahan dan perbuatan dosa. Kitapun senantiasa bersiap melakukan kebaikan dan ibadah kepada-Nya. Karena hati kita telah terpaut dengan kehadiran-Nya. Kita merasa dekat dengan-Nya, dalam setiap hembusan nafas kehidupan.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim berkata:

“Seandainya bagi seorang hamba hijab dari karunia-Nya, kebaikan-Nya dan apa yang diperbuat-Nya terhadapnya dari sisi yang dia ketahui atau yang tidak dia ketahui, niscaya hatinya akan luluh karena cinta dan rindunya kepada-Nya.”

Mencintai Allah sebagai Kekasih dan menjadikan diri kita sebagai kekasih-Nya, membuat kita tak terpaksa berlaku taat kepada-Nya. Kita pun jadi enggan untuk melupakan-Nya. Kita selalu secara sadar tak mau berpaling dari kehendak-Nya. Sekali lagi, memahami-Nya sebagai Kekasih membuat kita larut dalam kemanisan dan kelembutan kasih sayang-Nya.

Seorang penyair mulia menyatakan rasa cintanya kepada Allah sebagai Kekasih-nya. Dia datang kepada Allah, di pintu-Nya dia mengetuk, untuk cinta-Nya yang tercurah kasih sayang kepadanya:

Aku menjaga gelapnya malam dengan mengingat-Nya
Dan rindu kepada-Nya tanpa enggan untuk bersabar
Justru aku selalu datang dalam senang
Dan mengetuk pintu Tuhan Yang Mahaagung

Saudaraku, hati ini harus dibersihkan dari hijabnya. Hijab yang menempatkan perintah dan larangan Allah dalam bahasa kewajiban seorang hamba. Memahami Allah sebagai “Sang Kekasih”, akan menggiring jiwa kita menuju “nur makrifat dan bimbingan-Nya”. Ketulusan cinta dari-Nya akan termaknai sebagai makanan, minuman, dan obat penyembuh. Hakikatnya cinta dan kekasih, keduanya menyatu sebagai kesatuan perbuatan – wahdatul al-af’aal dalam diri kita.

Memahami Allah sebagai kekasih, harus disandarkan dari bagaimana Rasulullah menjadikan Allah sebagai kekasihnya. Meskipun bahasa dan perilaku cinta dari Rasulullah tak mampu kita capai dalam derajat sama, paling tidak kita tetap berusaha belajar memahami keberadaan Allah sebagai “Kekasih-ku” mengikuti cara-cara Rasulullah.

“Katakanlah, ‘jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalia’.” (QS. Ali Imran : 31).

 

 (KAETARO. Awal Ramadhan 1434H)

————————————————–

Sumber gambar: http://waytoislam.files.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s