Cinta Sejati, Bernama IBU


Bismillahirahmaanirrahiim

“Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya…” (QS. Luqman : 14).

 

qqqAdakah cinta kasih yang menyamai cinta kasih seorang ibu kepada anaknya? Adakah cinta kasih yang bisa meniadakan cinta kasih seorang ibu kepada anaknya? Atau, adakah ukuran pasti untuk menilai tinggi rendahnya cinta kasih seorang ibu kepada anaknya? Jawabannya, TIDAK ADA!

Demikian agung dan mulianya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, hingga hanya cinta dan kasih sayang dari Allah yang melebihinya. Hanya bahasa dan pesan kasih sayang Allah, yang meniadakan bahasa dan pesan kasih sayang ibu kepada kita. Namun demikian, cinta dan kasih sayang Allah lebih pada wujud keimanan dan penghambaan. Tetapi  dalam tataran hidup manusia, seluruh cinta dan kasih sayang lain, tunduk dan tak berarti di bawah keagungan dan kemuliaan cinta kasih seorang ibu.

Cinta kasih ibu kepada anaknya adalah qodrat manusiawi dan fitrah kehambaan baginya seorang perempuan. Setiap perempuan tak bisa mengelak, atau pun menghindar dari qodrat dan fitrah ini. Keduanya menjadi suatu ketetapan Allah, serta menjadi amanah yang dihadiahkan Allah kepada perempuan yang telah menjadi ibu. Perempuan yang menunaikan amanah ini berarti beribadah kepada Allah, sedangkan mengkhianatinya adalah dosa. Inilah rahasia terbesar cinta kasih Allah kepada perempuan sebagai seorang ibu.

Pada banyak kasus yang berbeda, kita mengetahui ada ibu yang menyakiti, menelantarkan, bahkan membunuh anak kandungnya. Kejadian ini bila dipikir baik, tidak bersumber dari keinginan terdalam hati seorang ibu. Faktor-faktor eksternal dan tekanan hiduplah yang menjadi pemicu semua ini. Rendahnya tingkat keimanan dan pemahaman agama seorang dari ibu yang menjadi penyebabnya.

Marilah kita merenungi sekali lagi cinta kasih ibu kepada kita, sejak kita di alam rahim, hingga kita dewasa.

Bila setiap ibu diberi kesempatan memperoleh anak kandung oleh Allah, dengan memilih tidak mengandung dan melahirkan lewat, maka pasti setiap ibu akan memilihnya. Seluruh perempuan di muka bumi akan memilih kesempatan ini. Sayangnya, pilihan ini tidak diberikan oleh Allah kepada manusia. Hanya Adam AS dan Siti Hawa AS saja yang penciptaannya tidak melewati kandungan dan rahim seorang ibu.

Kandungan dan rahim ibu, adalah perlambang cinta kasih Allah kepada kita lewat perantaraan manusia – ibu kita. Keduanya adalah pintu makrifat-makrifat Allah yang diberikan kepada manusia. Di dalamnya, untuk pertamakali Allah mengambil sumpah – persaksian dari seorang calon anak manusia tentang Ketuhanan-Nya (Keesaan dan Keberadaan Allah). Dan situ pula, Allah pertama kali menyatakan cinta kasih-Nya kepada manusia secara nyata. Rahim ibu adalah Baitullah…, tempat bersemayam dan terpancarnya cahaya cinta kasih Allah kepada kita.

Setelah Allah menyempurnakan penciptaan kita, lalu men-tauhidkan kita di alam rahim, kewajiban kita hanyalah bersujud dan memuliakan-Nya. Urusan kebutuhan makan – minum dan pemeliharaan kita, sepenuhnya Allah bebankan kepada ibu kita. Allah mewajibkan ibu kita untuk memenuhi segala kebutuhan kita di alam rahim.

Selama lebih sembilan bulan kehidupan kita di alam rahim, selama itu juga beban dan penderitaan yang ditanggung oleh ibu kita. Setiap perubahan fisik dan gerakan kita di dalam perutnya, memberikan pengaruh kesakitan dan penderitaan besar kepada ibu. Sehat dan tidaknya kita, memberikan pengaruh bagi jiwa dan fisik ibu. Kemanapun ibu pergi, dengan setia kita dibawa olehnya. Bila malam hari, ibu pasti merasa lelah tak terhingga, hingga tidurpun ia tak nyenyak. Kadang ibu tersenyum, tapi lebih banyak ia menahan rasa sakit yang luar biasa. Apapun bisa dilakukan ibu demi kenyamanan kita dalam kandungannya. Hingga tindakan ibu secara sengaja tidak merawat dan mencelakai kita di kandungannya, berakibat dosa dan murka Allah bagi dirinya.

Setelah melewati proses itu, tibalah masa kelahiran kita. Kesakitan dan penderitaan ibu yang yang bermandikan peluh dan darah, saat melahirkan kita, bisa menyamai sakitnya sakaratul maut. Atau paling tidak kependihannya setingkat di bawah sakaratul maut. Sebab pada fase ini, hidup dan matinya ibu, ibaratnya setipis helai rambut. Ibu merelakan darahnya tumbah membasahi tanah berapapun banyaknya, menumpahkan peluh yang memandikan dirinya, merelakan bagian tubuhnya robek dan disayat, hingga ia merelakan kehormatan dirinya yang paling dilindungi untuk dilihat dan dipegang oleh orang yang bukan suaminya. Pastinya, bila ia disuruh memilih dalam kondiri kritis, ibu memilih rela kehilangan nyawa, demi menyelamatkan hidup kita.

Setelah kita lahir selamat, dan beranjak besar. Ibu memberikan kasih sayangnya yang tulus, senantiasa merawat dan melindungi diri kita. Ia terus bersusah payah memberikan yang terbaik untuk kita, meskipun ia tak mampu dan memiliki keterbatasan. Ia menyusui kita, menggendong, menyuapi makan, memandikan, membersihkan kotoran, memberikan pakain terbaik, menyanyikan lagu – bercerita, dan menidurkan dan membangunkan kita. Ibu rela tidak tidur berhari-hari untuk merawat kita yang sedang sakit. Hingga ia rela menahan lapar demi memberikan makanannya – mencari  makanan untuk kita.

Dari mulut dan tangan ibu kita, untuk pertamakali kita mengetahui dan mengenal agama ini – Islam. Ibu mengajari kita mengenal Allah… dan memampukan kita melafalkan nama-nama-Nya yang mulia. Ia mendidik kita mengenal rasulullah, mengajari kita bagaimana mencintai rasulullah. Ibu adalah madrasah agama yang pertama bagi kita di dunia.

Pernahkah anda bayangkan, di saat anda masih kecil dulu, ketika anda sedang makan, ibu anda memperhatikan anda dari kejauhan? Yang mendasari ia memperhatikan anda, hanya dua hal: bila anda menikmati makanan, ia bahagia dan tersenyum. Tapi bila anda tidak menikmatinya, ia menjadi sedih – mungkin juga meneteskan air mata, karena merasa bersalah tak mampu menyediakan makan sesuai keinginan anda.

Pernahkah anda bayangkan, ketika anda menolak dipakaikan pakaian olehnya, karena menurut anda pakaian itu tidak bagus – tidak sesuai keinginan anda, kemudian ibu anda marah-marah? Sesungguhnya, kemarahan dia adalah untuk menutupi kesedihan dan rasa kekurangannya. Yakinlah, setelah itu ia akan sedih dan menangis, karena tak mampu memenuhi keinginan anda… ia menyesali perbuatan marahnya.

Pernahkah anda bayangkan, ketika kecil dulu, anda sakit. Di malam hari, ketika semua mata telah tidur nyenyak, menutupi diri dengan selimut hangat, menikmati mimpi indah, ibu anda masih berjaga di samping anda. Mungkin saat itu dia sedang menggendong anda, dengan tubuh yang lelah dan wajah dirundung sedih, dia berdoa, “Yaa Allah, sembuhkanlah anakku…”

Pada hal lain, bila aku dimarahi dan dipukuli bapak, ibulah yang selalu tampil untuk melindungi dan membelaku, apapun kesalahanku. Terkadang ia rela menjadikan tubuhnya sebagai ganti diriku untuk dipukuli. Ia rela bertengkar dengan bapak, demi menyelamatkan aku.

Setelah dewasa, kita pergi merantau untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah, ibulah orang yang paling merasa sepi dan sendiri. Di dalam setiap sujud dan doanya, ibu senantiasa mendoakan kita. Ia selalu berharap di setiap hembusan nafasnya, agar Allah senantiasa melindungi dan menyayangi kita… agar Allah mencukupkan rezeki dan nikmat bagi diri kita. Bila kita sakit dan tertimpa musibah, ibulah orang pertama yang merasakan – mengetahuinya.

Ibu selalu berharap kita berhasil dalam hidup. Ia selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untuk kita. Bila kita belum berhasil, dialah orang pertama yang akan mengulurkan tangan, pikiran dan perasaan untuk menolong kita. Dan bila kita telah berhasil, ibulah orang pertama yang memberikan ucapan selamat, kemudian ia berlalu pergi, ia tak mau mengharapkan balasan kita. Karena keberahasilan kita dalam hidup, telah menjadi buah kebahagiaan bagi dirinya.

Bila suatu waktu kita meninggal dunia lebih dulu darinya, ibulah orang yang paling merasa sedih dan kehilangan. Dialah yang selalu menatap kuburan kita – memegang dan memeluk nisan kita – dan bersimpuh di tanah. Sambil meneteskan air mata kasihnya, ia merenungi kembali masa kanak-kanak kita yang menurutnya sangat indah dan manis, kemudia ia  mendoakan kita, “Yaa Allah, ampunilah segala salah dan dosa anakku, berikanlah tempat yang terbaik dari-Mu untuk anakku”. Semua ini ibu kita lakukan, karena kita adalah bagian tak terpisahkan dari cintanya.

Terlalu banyak beban dan tanggungjawab, penderitaan dan resiko, air mata – peluh – dan darah yang harus ditanggung dan ditumpahkan oleh ibu, hingga aku tak mampu menghitungnya. Aku tak kuasa menjelaskannya satu persatu.

Beberapa hal di atas tentang wujud cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada kita – anaknya , tak terbantahkan. Tak bisa aku buktikan lagi kebenarannya. Karena wujud cinta dan kasih sayangnya, telah menyatu dalam darah dan ruhku. Tak ada cinta dan kasih sayang lain yang bisa menandinginya, apalagi menyamai cinta kasih ibuku kepadaku.

Akankah cinta dan kasih sayang dari ibuku, aku khianati? Akankah aku sudahi berbakti kepadanya, setelah nanti ia meninggal dunia? Jawabannya, TIDAK!

Di bulan Ramadhan 1434H, bila ibu kita masih hidup, marilah kita mengunjunginya, memohon ampunan dan restunya, menyayanginya, mendoakannya, membahagiakan hatinya, dan memenuhi segala keperluannya semampu kita. Bila ibu kita telah meninggal dunia, marilah kita berdoa kepada Allah, agar Allah menyayangi dan mencintainya, agar Allah menempatkannya di tempat termulia. Kita harus tetap mengamalkan nasehat-nasehat bijak darinya, yang pernah dia ajarkan kepada kita semasa hidupnya.

Marilah kita membanggakan ibu kita masing-masing dihadapan Allah, dengan menjadikan diri kita taat kepada-Nya dan kepada rasulullah. Karena hanya dengan itu, kita bisa menghargai secara nyata cinta dan kasih sayang dari ibu kita.

Ibu, kepadamu kuberbakti tiada henti. Nasehatmu tak pernah kulupakan, “selalulah membagi kasih sayang dan ilmu kepada orang lain yang membutuhkan”. Semoga Allah menyayangi dan merahmatimu di usia senjamu.

 

(KAETARO Untukmu MAMA).

——————————————

Sumber gambar: http://tarbeyah.files.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s