TANAH ADAT dan PEMETAAN PARTISIPATIF: Bersama Menata Kembali Tempat Mukim dan Ruang Hidup


(Bagian 1 dari 3)

 

“Tanah adalah ibu kandung kehidupan. Alam adalah guru kehidupan yang jujur mengajari manusia tentang kasih sayangdan indahnya saling berbagi manfaat hidup.” (KAETARO dalam “PATOK 75”).

Tulisan ini tidak memiliki pegangan referensi akademik dan ilmiah berupa teori, konsep, dan data yang dicuplik langsung (copy paste) seperti biasa dilakukan oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti pada umumnya. Semua sumbernya dari isi kepala saya semata (pemikiran dan pengalaman). Olehnya, segala kesalahan dan ketidak-tepatan saya membahasakannya, mohon dimaafkan.

 

4266549728_92410c8ce4PENGANTAR

Tidak bermaksud menggurui para pelaku dan pendamping pemetaan, saya menulis essai ini. Tulisan ini lahir dari niat mengasah cara berpikir dan sudut pandang saya tentang masyarakat adat, tanah dan alam, dan pemetaan wilayah adat. Termasuk mendudukkan kembali secara tepat di pemikiran saya, jiwa dan prinsip ‘Pemetaan Partisipatif’.

Bicara tanah adat dan pemetaannya, senantiasa berujung pada aspek dasar: masyarakat adat,wilayah dan tanah adat, tata aturan adat, dan pemetaan yang dilakukan oleh masyarakat adat’. Keempat aspek ini menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Setiap aspek memiki kekuatan dan kekhasan tersendiri, tapi saling melengkapi manfaat.

Untuk pemetaan tanah adat, menurut pengalaman saya, hanya pendekatan “Pemetaan Partisipatif” yang paling bisa melakukannya. Selain dari pendekatan ini, memiliki bias kepentingan dan tujuan. Pendekatan lain tidak memiliki kekuatan pada proses dan partisipasi masyarakat langsung secara aktif.

Kekuatan pendekatan ini terletak pada: Keterlibatan aktif seluruh pihak berdasarkan posisi dan perannya masing-masing dan keberpihakan jelas terhadap masyarakat adat. Dari mulai menggagas pemetaan, melakukan pemetaan, mengevaluasi proses dan hasil pemetaan, pengesahan petaan, mengatur penggunaan peta, menggunakan peta, seluruhnya dilakukan secara partisipatif dan berpedoman pada kesepakatan bersama.

PemetaanPartisipatif selalu menghadirkan keunikannya tersendiri. Tidak hanya padaperalatan dan teknologi, metode, dan siapa yang melakukannya. Kondisi masyarakat, kebudayaan, luasan wilayah, apa yang mau dipetakan, dan situasi dan kondisi – dinamika  selama proses, itulah keunikannya. Perbedaan perspektif memahami pemetaan partisipatif, anatara peta sebagai tujuan atau sebagai alat, memberikan arti tersendiri.

Sejak tahun 2000, tanah dan wilayah adat secara keruangan – peta dan pemetaan, menjadi bagian tak terpisah dari kerja-kerja sosial dan lingkungan di Tanah Papua. Demikian pentingnya aspek keruangan dalam kebudayaan, hingga peta – tanah dan wilayah (dan isinya) dinilai sebagai elemen kunci mendiskusikan kehidupan suatu komunitas adat. Memang demikian, karena tanah – alam – dan isinya adalah bahan-bahan yang menyumbang kepada terbentuknya ide – gagasan – kepercayaan – dan perilaku masyarakat adat (adat dan kebudayaan).

Akhir-akhir ini, beredar kabar di Manokwari, bahwa pemerintah dan lembaga adat hendak melakukan pemetaan wilayah adat. Mempetakan tanah-tanah adat milik suku-suku Papua yang bermukim di Papua Barat. Tujuannya untuk memperjelas batas dan status kepemilikan tanah adat dari masing-masing suku. Pihak perguruan tinggi dihadirkan untuk mendiskusikannya, membuat konsep dasar dan strategi pemetaan.

Pendapat saya pribadi untuk kabar tersebut, itu suatu langkah maju melindungi kehidupan dan kebudayaan suku-suku Papua. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah mempetakan tanah adat, benar-benar muncul dari kebutuhan masyarakat adat sendiri? Atau apakah peta wilayah adat yang tertulis di atas kertas dengan bermacam garis warna dan simbol, menjadi kebutuhan masyarakat adat? Ataukah ada tujuan lain?

Menurut hemat saya, ketika pemetaan tanah adat didekati dari kepentingan politik dan ekonomi, maka maksud dan tujuannya harus dibicarakan bersama, secara terbuka – dan jujur dengan komunitas – komunitas adat.  Tentu dalam membicarakannya, semua pihak harus duduk dalam posisi sederajat dan saling menghormati. Ini dimaksud untuk menjawab pertanyaan: Untuk kebutuhan siapa pemetaan tanah adat dilakukan? Siapa sesungguhnya yang akan memperoleh manfaat terbesar dari peta tanah adat?

Berdasarkan pengalaman, peta tanah adat tidak bisa dijadikan solusi pragmatis untuk menjawab masalah-masalah di masyarakat adat. Tidak bisa menjadi tujuan untukmenyelesaikan konflik agraria, khususnya tanah adat. Apalagi dipaksakan kepada masyarakat adat untuk menerima dan melakukannya.

Dalam kerangka kerja Pemetaan Partisipatif yang dilakukan oleh beberapa pihak, saya temukan banyak kekaburan pemahaman tentangnya. Terutama pemahaman mereka tentang  nilai yang menjiwai pemetaan tanah adat. Turunannya, bagaimana dan seperti apa memahami peta dan pemetaan. Apakah sebagai tujuan, alat, ataukah pendekatan – metode? Ataukah peta dan proses pemetaan dijadikan sebagai alat analisis keruangan?

Khususpemerintah, akademisi, lembaga adat, dan konsultan pemetaan, mayoritas memahami peta partisipatif sebagai tujuan. Tujuan membangun kehidupan masyarakat adat. Cara pandang ini tidak salah, karena sesuai dengan kepentingan mereka. Tetapi terlalu menyederhanakan tanah adat, pemetaan tanah adat, dan kehidupan masyarakat adat. Ini bentuk pembingkaian issu dengan menggunakan standarisasi materi dan nominal.

Kekuatan pemetaan tanah adat ada di kebenaran proses, keterlibatan seluruh komponen masyarakatadat, menghormati hak milik masyarakat adat, kejelasan maksud dan tujuan, dan kesepakatan adat – mandat adat dan mandat sosial. Hal-hal ini yang menjadi azas dan prinsip dasar pemetaan partisipatif. Kemudian baru membicarakan kemungkinan implikasi positif dan negatif dari peta yang dihasilkan. Sangat disayangkan, bila pemetaan tanah adat dimaksudkan untuk terjadi situasi pelimpahan hak kepemilikan tanah adat menurut kaidah-kaidah hukum positif!

Sangat beda dengan pemahaman kalangan NGO’s lebih sering melakukan pemetaan tanah adat secara partisipatif. Para aktivis memahami pemetaan dan peta sebagai alat pengorganisasian masyarakat. Sebagai pendekatan – metode, untuk mendudukkan kembali dan mempersatukan seluruh komponen adat. Peta sebagai alat bersama bagi masyarakat adat, untuk merefleksikan: siapa dirinya, bagaimana kehidupannya, dan apa yang harus dilakukan.

Perbedaan utama memahami jiwa peta partisipatif, bukan pada metode pemetaan yang dipilih.Tetapi pemahaman latar belakang dan tujuan pemetaan. Peta mau dijadikan sebagai apa, untuk siapa, dan memposisikan masyarakat adat sebagai apa dan siapa di dalam pemetaan.

 

————————————————-

Sumber gambar: http://farm3.static.flickr.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s