REKONSTRUKSI IDENTITAS POLITIK MUSLIM PAPUA (Bagian 1 dari 4)


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujuurat : 49).
PENGANTAR

aW1hZ2VzL2NpdGl6ZW4vY2l0aXplbl8xMjg5OTI4MTgwX2kwSW41UTlWLmpwZw==Bicara Islam dalam da’wah Islam adalah bicara tentang mengabarkan – menyampaikan Keesaan Allah Swt dan Kerasulan Muhammad Saw. Sebab Da’wah Islamiyah berpokok dari kedua hal ini. Sedangkan bicara da’wah Islam dalam teritori Papua adalah bicara tentang asli Papua dan peranakan Papua yang memeluk Islam sebagai agamanya. Pada tahapan berikutnya adalah bicara tentang melembagakan nilai dan ajaran Islam sebagai pedoman hidup dan tata aturan berperilaku. Hasil akhirnya adalah terbangunnya akhlak Islami yang memberikan sumbangan bagi pengkayaan kebudayaan nasional bangsa Papua.

Konteks di atas harus dilepaskan sebentar dari membicarakan perjuangan Papua Merdeka. Atau bicara tentang identitas fisik ras Papua – Melanesia, kulit hitam dan rambut keriting. Karena soal Papua Merdeka adalah arena perjuangan praktis, sedangkan soal ras bangsa Papua bersifat imanent – atau ketetapan Tuhan yang harus diterima secara sadar sebab tidak bisa dipilih dan diperdebatkan.

Pernyataan di atas memberikan pesan bahwa perjuangan Papua Merdeka harus ditempatkan sebagai, ‘cara dan jalan menuju cita-cita’, dan bukan sebagai tujuan nasional. Sedangkan penggunaan ‘kulit hitam dan rambut keriting’ sebagai identitas politik, harus didudukkan kembali agar dibicarakan bersama dan disepakati sebagai konsensus nasional. Karena fakta genealogi – dan fisik bangsa Papua tidak seluruhnya demikian.

Bangsa Papua juga harus memahami dan berjiwa besar untuk membenarkan fakta historisnya, bahwa suku-suku asli Papua memeluk tidak hanya satu agama dan satu kepercayaan saja. Selain Kristen sebagai agama mayoritas, Islam menempati urutan kedua. Bangsa Papua tidak boleh mengkhianati jati dirinya, bahwa meskipun menganut dua agama samawi, tapi dalam prakteknya, terjadi akulturasi (sebagian asimilasi) antara nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kepercayaan asli (kebudayaan). Pada sisi inilah, bangsa Papua memiliki kekuatan kultural, karena ‘Rumah Papua’ dibangun, diisi, dan dilindungi oleh lebih dari tiga ratus lima puluh etnis – dan sub etnis dengan berbagai perbedaan latar kultural, agama dan kepercayaan, kekuasaan teritori, dan hukum adat.

Bangsa Papua harus sadar diri, bahwa jauh sebelum Islam dan Kristen masuk di Tanah Papua, bangsa Papua telah memiliki keyakinan dan kepercayaan aslinya sendiri. Kepercayaan asli ini mengakui, bahwa hanya ada satu kekuasaan tunggal yang menciptakan dan menguasai kehidupan – TUHAN. Kepercayaan yang mengatur hubungan kemanusiaan – hubungan manusia dengan alam – dan hubungan manusia dengan kekuatan Agung/Tuhan. Sayangnya, nilai-nilai luhur ini kemudian hilang, dan tergantikan dengan kebudayaan bangsa lain yang masuk lewat perantara para penyebar agama-agama samawi.

Selanjutnya saya tidak akan mengulang kesalahan pemikiran dari kebanyakan orang asli Papua, yaitu perdebatan klasik yang biasa didiskusikan oleh kalangan kelas menengah Papua: Agama pertama yang masuk ke Tanah Papua – dan agama yang berhak memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Papua dan paling berjasa di dalamnya. Membahas topik ini, hanya akan memperlebar jurang perbedaan dan mengganggu usaha membangun persatuan dan nasionalisme Papua. Tidak ada titik temu dalam membicarakannya, karena ketidakjujuran memahami sejarah dan kuatnya semangat sektarian dan etnosentris.

Sejarah pergerakan bangsa Papua paska kolonial Belanda, tak bisa dipungkiri, bahwa perjuangan Papua Merdeka pada banyak hal dipelopori oleh gereja dan tokoh agama Kristen. Gereja memainkan peran strategis sebagai lembaga pengkaderan politik dan tokoh-tokoh agamanya sebagai aktor politik yang menanamkan idiologi Papua Merdeka. Situasi ini dapat terjadi, karena mayoritas bangsa Papua memeluk agama Kristen. Kondisi ini sama terjadi dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, dimana pesantren dan mesjid – kyai dan ulama sebagai pelopor perjuangan pembebasan (karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam).

Fakta di atas, tidak boleh dilihat secara sempit. Pada kenyataannya, elemen-elemen perjuangan Papua Merdeka dan Indonesia Merdeka terdiri dari persatuan kaum mayoritas dengan kaum minoritas. Persatuan berdasarkan kesamaan cita-cita, kesamaan identitas sosial, perasaan senasib, kesamaan musuh – dan ancaman, dan solidaritas kesatuan wilayah mukim. Contohnya, pergerakan perjuangan Indonesia Merdeka berhasil karena dilakukan bersama antara pribumi dan warga asing (China dan China peranakan, Eropa dan Eropa peranakan, India, Tamil, Arab, Jepang, dll).

Faktor lain yang menyumbang kepada dominasi peran gereja dalam perjuangan Papua Merdeka, para misionaris asing sejak awal menginjak kaki di tanah Papua, telah menanamkan rasa nasionalisme Papua pada diri umat Kristen. Semangat nasionalisme yang dibangun dengan mengedepankan kesamaan identitas fisik dan kesamaan keyakinan. Nasionalisme ini semakin menguat di berbagai lapisan masyarakat asli Papua, iramanya dijaga baik oleh misionaris karena mereka tinggal dan hidup menyatu dengan masyarakat asli Papua. Manajemen Pekabaran Injil dilakukan secara sistimatis dengan dukungan modal dan pelayanan sosial yang baik.

Berbeda dengan itu, awal masuknya Islam di tanah Papua tidak murni melalui misi dakwah Islamiyah. Kesultanan Ternate dan Tidore melakukan ekspansi politik pemerintahan, sedangkan tujuan da’wah Islamiyah hanya menumpang secara kebetulan (karena utusan-utusan sultan beragama Islam). Pengislaman beberapa suku pesisir di jazirah Onim hingga Teluk Bintuni adalah pengislaman yang dilakukan tidak terencana, tidak membumi – dan mengakar, dan tidak melembaga.

Pemberian gelar dan pangkat, seperti Mayor, Sadasa, Orang Kai, Kapitan, Bintang, Korano, Sangaji, dsb. motifnya murni kepentingan politik pemerintahan. Para pemimpin suku yang diberi gelar dan pangkat, mereka kepanjangan tangan dari pemerintahan sultan. Bukan sebagai tokoh agama yang diberi tanggungjawan oleh sultan (Amirul Mu’minin – wilayah kekuasaan kesultanan) untuk mendidik dan menanamkan nilai dan ajaran Islam kepada masyarakatnya – melakukan da’wah.

Kondisi di atas memberikan dampak negatif dalam konteks da’wah Islamiyah di Tanah Papua. Setelah pengaruh kesultanan Ternate dan Tidore melemah, dan mereka tidak lagi mengunjungi Papua secara pemerintahan dalam waktu lama, beberapa suku asli Papua yang awalnya memeluk Islam beralih ke kepercayaan aslinya, dan kemudian memeluk agama lain pada akhirnya.

Pendekatan agama yang dilakukan oleh kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore serta misionaris asing, pada kenyataanya digunakan pula oleh pemerintah Indonesia dalam meng-aneksasi bangsa Papua. Bangsa Papua tidak boleh melupakan sejarah, bahwa suku-suku yang dikirim pertama kali oleh pemerintah Indonesia ke tanah Papua berasal dari suku-suku di kepulauan Maluku. Suku-suku ini sejak awal telah berhubungan dengan bangsa Papua lewat kedua kesultanan tadi dan misionaris asing.

Pada masa awal mendekati Penentuan Pendapat Rakyat – PEPERA, pemerintah Indonesia melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh Islam Papua dalam menjalankan misi politiknya. Pemerintah Belanda pun melakukan hal yang sama, mendekati tokoh-tokoh Kristen Papua untuk mempertahankan eksistensi paham politiknya di Tanah Papua. Kondisi ini memberikan pesan jelas kepada bangsa Papua, bahwa Indonesia dan Belanda sama-sama menjadikan agama sebagai pendekatan menarik simpati dan alat politik. Dan sekarang, bangsa Papua terjerumus ke dalam – dan mengikuti permainan kotor Indonesia dan Belanda.

Pada masa Orde Baru, intelijen pemerintah Indonesia mengembangkan strateginya dengan pola yang sama. Yaitu membuat klasifikasi kepatuhan dan kesetiaan orang asli Papua kepada NKRI berdasarkan pendekatan agama: Islam mendukung NKRI, sedangkan Kristen mendukung kemerdekaan Papua. Pada tahun 70-an dengan program nasional transmigrasi, intelijen pun memperlebar pendekatannya dengan memainkan issu, ‘Pendatang – peranakan Papua – dan Asli Papua’ untuk memuluskan aksinya. Tujuannya memberikan gambaran besar kecilnya kekuatan pro dan kotra NKRI. Sangat menyedihkan dan bodoh, mayoritas orang asli Papua menelan bulat-bulat – membenarkan strategi pecah belah dan menguasai yang dijalankan oleh intelijen Indonesia.

Bangsa Papua barus berbangga diri dengan sejarah kehidupannya sebelum masuk agama dan pemerintahan kolonialis (Belanda dan Indonesia). Kenapa demikian? Karena sejarah mencatat, bahwa kita telah hidup berdampingan antar suku dengan saling menghormati hukum adat, batas wilayah adat, dan kepemilikkan kekayaan alam. Negara-negara yang warganya melakukan penyiaran agama di Papua, seperti Belanda, Jerman, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Indonesia, adalah negara-negara yang gagal mengemban misi Ketuhanan dalam pemerintahannya. Karena dari merekalah akar kolonialisme, imperialisme, liberalisme, ekspansionisme, dan pemerkosaan hak asasi manusia menjalari Tanah Papua.

Sebagai anak berdarah Papua saya harus katakan, bahwa kita bangsa Papua terperangkap dalam permainan politik bangsa lain. Kita telah digiring masuk dalam perang idiologi – perang yang membunuh identitas kebangsaan Papua. Ibaratnya kita adalah pion dalam permainan catur, kita akan dikorbankan untuk menyelamatkan benteng, perdana menteri dan raja. Atau kita dikondisikan untuk saling melemahkan dan saling memangsa satu sama lain. Karena memang ketidakstabilan internal bangsa Papua dan membuat rapuh ikatan solidaritas dan nasionalisme bangsa Papua adalah tujuan utama mereka.

Ketidakcermatan dan sikap tergesa-gesa bangsa Papua dalam menyikapi perubahan global, menjadi penyebab lain kemunduran tujuan perjuangan Papua Merdeka. Dan pada sisi lain, mengaburkan identitas kultural dan identitas keimanan. Terlalu banyak kelompok perjuangan dan faksi militer berbasiskan semangat kesukuan dan wilayah adat. Terlalu banyak paham dan pemikiran yang diadopsi dari luar sebagai basis idiologi kebangsaan. Ini belum lagi bicara tentang banyaknya orang dan kelompok oportunis yang menggunakan ‘Papua Merdeka” sebagai kendaraan untuk memperoleh kepentingan pribadi dan golongan.

Mempertimbangkan berbagai hal di atas, untuk merekonstruksi Identitas Politik Muslim Papua, Islam sebagai institusi religius beserta nilai dan ajarannya, tidak bisa disalahkan. Yang harus disalahkan adalah pemahaman dan perilaku muslim Papua dalam berislam. Karena telah salah, menjadikan Islam sebagai tujuan hidup, dan bukan sebagai salah satu jalan kebenaran yang dipilih secara sadar untuk menuju kepada Tuhan (Allah Azza wa Jalla). Kita telah menjadikan Islam sebagai sesembahan selain Allah. Muslim Papua tidak pandai memahami perbedaan agama dan keyakinan sebagai suatu ketetapan dari Tuhan yang harus diimani. Karenanya perbedaan agama (dan kepercayaan) dipandang sebagai hambatan utama untuk membangun nasionalisme Papua. Muslim Papua tidak beragama sebagaimana perintah Tuhan di dalam Al Qur’an, tapi beragama mengikuti gaya penjajah.

Kondisi beragama seperti yang terjadi pada Muslim Papua, itu pun terjadi pada kehidupan beragama Kristen Papua.

Kita harus jujur mengakui, bahwa keislaman dan kekristenan bangsa Papua terjadi lewat perantaraan tangan-tangan bangsa kolonial dan imperialis. Ini fakta sejarah yang tidak boleh dibantah oleh setiap orang asli Papua! “Pedang dan Kitab Suci” atau lebih halus “Roti – Anggur dan Kitab Suci” adalah model pendekatan yang digunakan untuk mengislamkan dan mengkristenkan kita.

Oleh karena itu dalam beragama, Muslim Papua harus kembali kepada Al Qur’an dan Hadist, dan Kristen Papua harus kembali kepada Injil dan sifat mulia Yesus Kristus. Dan jangan mengikuti sifat dan perilaku para penyebar agama Islam dan Kristen dalam beragama. Kesadaran akan Kebenaran Ilahiyah tidak boleh dibangun atas dasar pemaksaan dan penindasan, bujuk rayu dan janji manis, dan politik balas jasa. Sebab Kebenaran Ilahiyah hanya bisa dipahami dengan bahasa kesadaran akal, kelembutan dan kasih sayang, keikhlasan nurani, dan penghormatan atas persamaan derajat dan martabat manusia.

———————————————

Sumber gambar: http://citizenimages.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s