REKONSTRUKSI IDENTITAS POLITIK MUSLIM PAPUA (Bagian 2 dari 4)


IDENTITAS POLITIK PAPUA

vol-12-tari-noinoi-di-kampung-muslim-tarak-papua-infobackpackerMenggagas Indentitas Politik Papua harus berangkat dari kesadaran akan kesamaan nasib dan musuh bersama: Diperlakukan tidak adil – dan sewenang-wenang, serta dimiskinkan dan dibodohkan secara sistimatis oleh pemerintah dan penguasa yang zalim. Kemudian baru bicara kesamaan kultural dan genealogi (karena aspek ini lebih tepat diwacanakan dalam ‘Identitas Budaya Politik’).

Kultur dan genealogi, kedua faktor ini tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur untuk mengatakan, “Identitas Politik Muslim Papua”. Sebab pada dasarnya, di dalam tubuh bangsa Papua keduanya pun memiliki keragaman. Contohnya, budaya suku-suku pegunungan sangat berbeda dengan suku-suku pesisir. Bentuk fisik (tulang tengkorak) orang pegunungan berbeda dengan orang pesisir.

Saya kembali tekankan, menggunakan pendekatan ras (Melanesia) sebagai simbol pemersatu dan identitas kebangsaan, adalah pilihan yang keliru. Penggunaan ras sebagai alat politik memberikan implikasi negatif dalam percaturan kehidupan dunia. Karena saat ini, mobilitas manusia sudah tidak mengenal batasan teritori dan ras. Dan pada sisi lain, hanya akan menjadikan orang Papua sebagai bangsa yang tertutup dan susah menerima perubahan-perubahan penting dari luar. Kita bisa melihat jelas, USA, Inggris, dan Perancis menjadi bangsa besar karena warga negaranya terbentuk dari berbagai macam ras.

Kalaupun identitas ras Melanesia dijadikan sebagai strategi politik Internasional untuk menggalang dukungan bangsa-bangsa Melanesia, terbukti hal ini tidak memberikan kekuatan politik yang berarti. Penyebabnya ada dua hal: Pertama, dalam percaturan politik global dan kekuatan ekonomi internasional, negara-negara ras Melanesia tidak memiliki ‘bargaining position’ yang kuat; Kedua, kita ras Melanesia yang menempati Papua Barat – West Papua lebih memiliki kekuatan sosial politik (jumlah etnis dan sub etnis – dan keragaman kebudayaan) dan ekonomi (sumberdaya alam, luas wilayah, posisi strategis wilayah) dibandingkan negara-negara ras Melanesia yang lain.

Dalam konteks identitas kultural, hendaknya bangsa Papua menyadari, bahwa apapun yang ia lakukan, tetap saja tidak akan mampu mempertahankan kebudayaan aslinya. Sebab kebudayaan memiliki tiga sifat dasar perubahan: dinamis (mengikuti waktu), mencair (mengikuti ruang), dan elastis (mengikuti konteks). Kebudayaan (sistim nilai dan norma, perilaku, kepercayaan, dan artefak) asli bangsa Papua akan terus berubah mengikuti perubahan pola pikir, penguasaan sains dan teknologi, dan kontak dengan bangsa – budaya lain. Ilustrasinya demikian, bangsa Papua tidak boleh bersedih, ketika panah dan tombak tergantikan oleh pistol dan senjata. Fungsinya tetap sama, pistol dan senjata adalah juga alat untuk berburu, mempertahankan diri, membunuh musuh seperti halnya panah dan tombak.

Apalagi agama dijadikan sebagai identitas politik. Agama tidak mengenal batasan benua, teritori hukum adat, ras, dan negara. Ini dikarenakan sifat dasar agama adalah hubungan personal dengan Tuhan, bukan hubungan bangsa atau ras dengan Tuhan. Kasih Tuhan tidak mengenal perbedaan warna kulit dan bentuk rambut. Berkat dan karunia dari Tuhan pun tidak mengenal warga suatu bangsa dan negara memeluk agama apa.

Bangsa Papua harus belajar dari kegagalan negara-negara besar yang menjadikan agama sebagai alat politik negara dan pemerintahan. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika, India dan Myanmar, Vatikan, Israel, Inggris – Spanyol – dan Portugal/Portugis (pada abad pertengahan), dan sekarang Indonesia, dll. Terbukti bahwa mereka gagal menjadikan agama sebagai alat politik dan identitas kebangsaan. Dan masih banyak negara lain yang mayoritas warganya memeluk agama dan menganut aliran tertentu, tapi kebijakan politik negaranya kolonialis, imperialis, kapitalis, liberalis, dan segala macam keburukan.

Fakta ini menyatakan tegas, bahwa agama tidak boleh dijadikan sebagai alat politik negara – pemerintah. Tuhan tidak bisa dipenjarakan dalam batasan suku bangsa, ras, negara, dan teritori. Agama tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk berbuat tidak adil dan sewenang-wenang terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lain.

Merumuskan Identitas Politik Bangsa Papua harus dimulai dari persatuan suku-suku Papua memahami siapa dirinya, lingkungan – wilayah/tanah – ruang dimana ia hidup, dan kesamaan cita-cita. Memahami diri sendiri adalah memahami tentang nilai dasar kebudayaan Papua dan prinsip hidup yang diyakini; memahami lingkungan adalah memahami realitas ruang dan waktu kekinian di mana bangsa Papua hidup; dan memahami cita-cita adalah memahami perubahan yang diinginkan terjadi dan bagaimana mewujudkannya.

Saya pikir, yang paling mungkin bisa mengikat persatuan bangsa Papua adalah memadukan kesamaan nilai dan norma yang bersumber dari kebudayaan asli Papua dan agama. Seperti, keadilan, kesejahteraan, cinta damai, tolong menolong berbuat baik, cinta dan kasih sayang, saling menghormati, kemandirian, menghargai kehidupan, melindungi orang lemah, tidak merampas hak milik orang lain, dll. Inilah nilai-nilai dasar yang terdapat di dalam Islam dan Kristen dan kebudayaan asli Papua.

Dari sinilah hendaknya bangsa Papua membentuk identitas politiknya. Sebab siapapun dia, entah beragama Islam atau Kristen (tidak beragama – atau menganut kepercayaan asli), asli Papua atau pun peranakan dan pendatang, pasti merasa tenang dan damai hidup di Tanah Papua – Negara Papua Barat.

Persoalan mengadopsi idiologi bangsa lain dan kemudian direplikasi, sebaiknya dihindari. Identitas politik yang baik dan benar bagi suatu bangsa harus bersumber dari nilai dasar dan jati diri – akar kebudayaan dan cita-citanya sendiri. Selain itu, memilih identitas politik yang bersifat materi dan fisik, sebaiknya dihindari. Sebab identitas fisik bisa dimanipulasi, cepat mengalami perubahan, sangat eksklusif, dan kurang dijiwai oleh warga suatu bangsa yang memiliki tingkat pluralitas.

—————————————-

Sumber gambar: http://www.infobackpacker.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s