GET Writing


Get-writingKita tidak bisa melakukan sesuatu, karena kita tidak berani mencoba. Kalau pun kita berani mencoba, kita tidak bersungguh-sungguh untuk terus mengulanginya.

Apapun saja yang awalnya dipikir sulit, sebenarnya kesulitan itu bersumber dari dalam diri kita sendiri. Karena kita telah menjadikan kata, “TIDAK BISA” sebagai sahabat karib. Kata ini selalu menjadi sebab utama banyak orang tidak memberdayakan potensi diri yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya.

Banyak orang membangun mimpi-mimpinya. Hanya orang sedikit yang bersungguh-sungguh belajar – berusaha untuk mewujudkan mimpinya. Merekalah orang-orang yang membalikkan “Tidak Bisa” dari sahabat karib menjadi musuh. Kata “Tidak Bisa”…, adalah pernyataan yang sepele. Bisa juga disebut sebagai pernyataan sambil lalu. Kata ini akan menjadi penghalang utama kemajuan dan penggerus terbaik semangat melakukan sesuatu, apabila terlalu sering dikemukakan sebagai alasan.

Ini pun terjadi dalam pekerjaan menulis. Banyak orang mengatakan, “saya tidak bisa menulis,” atau “saya tidak pandai menulis.”

Menurut hemat saya, untuk menulis, bukan bicara soal “bisa” dan “pandai”. Tapi bicara soal “mau” dan “belajar“. Mau melakukan sesuatu yang dipandang penting dan dibutuhkan. Belajar untuk menjadi “mau” dan “tahu” melakukan sesuatu. Kehidupan ini membutuhkan proses yang sungguh-sungguh dilakukan secara sadar.

Sederhananya! Menulis adalah memindahkan bahasa lisan ke tulisan. Apa yang kita pikir dan rasakan, yang biasanya tersampaikan lewat lisan dan mulut, dipindahkan ke dalam tulisan. Ini bukan suatu hal yang susah.

Sederhananya seperti ini🙂

Huruf + Huruf = Kata + Kata = Kalimat + Kalimat = Paragraf + Paragraf = Tulisan (Utuh). Lalu diberikan tanda baca sesuai tujuan dan intonasi seperti kita berbicara🙂

Tidak ada seorang pun penulis di muka bumi yang hebat dan ahli dalam menulis. Bila kita mempelajari hasil karya penulis-penulis besar dunia, terbukti bahwa mereka membutuhkan bantuan orang lain. Seperti membutuhkan bantuan Editor untuk mensistimatikakan, memperjelas struktur kalimat, menegaskan gaya bahasa, memperbaiki disksi dan semiotikanya, dan mengembalikan tulisan ke tujuannya.

Keberhasilan dalam menulis,  yang seringkali membesarkan seorang penulis dan menempatkannya pada posisi dihormati, tidak berdiri sendiri. Penulis dan tulisan membutuhkan peran dan bantuan orang – pihak lain. Menulis adalah proses sosialisasi – atau memasyarakatkan ide dan gagasan. Menulis adalah bagaimana mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kepada orang lain.

Pada lain hal, pekerjaan menulis mengajari seorang penulis untuk bersikap tidak terburu-buru, teliti, berpikir terbuka, rendah hati, tidak sombong, menerima perbedaan pendapat dan kebenaran secara bijak, dan mau belajar bersama dengan dan dari orang lain. Ini kalau menulis diniatkan sebagai sahabat karib dan cara belajar…: Wadah mencurahkan isi hati dan buah pemikiran, dan membangun komunikasi yang harmonis dan terbuka dengan orang lain (pembaca).

Tetapi kalau niat kita menulis hanya dijadikan agar penulis dibilang pandai, hebat, dihormati, dan motif ekonomi semata, maka jangan heran, bila sering ditemui ada penulis yang berlaku sombong dan angkuh…! Penulis yang merasa tulisannya lebih hebat daripada tulisan orang lain.

Tidak ada kesempurnaan dalam dunia tulis menulis. Hanya kitab suci dari Tuhan-lah bentuk kesempurnaan itu terwakili.

Sejatinya, menulis adalah juga belajar. Belajar memaknai karunia dan berkat dari Sang Ilahi dengan bahasa tulisan. Menulis adalah bentuk lain dari peribadatan kepada Tuhan….!

————————————————————————

Sumber gambar: http://followyourfeelgood.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s