Membangun Alur Cerita Film, “Rekonstruksi Metode Pelatihan Audiovisual”


Usability-Testing-UK-Cinema-WebsitesSaya bukan seorang Filmmaker! Suka nonton film, apalagi sebagai kritikus film. Saya lebih suka membaca dan menulis. Persahabatan dengan beberapa Filmmaker lokal, membuat saya memberanikan diri ikut bersama mereka mendiskusikan film dan cara pembuatannya. Untuk menyesuaikan diri dengan mereka, saya berpikir sederhana: “Saya tidak harus menjadi Filmmaker seperti mereka. Tapi saya harus memperluas pemahaman, yaitu memasukkan film dan sinematografi sebagai bahan bacaan.”

Mencermati penjelasan dan merenungi setiap tahapan membuat film yang disampaikan para Filmmaker, kemudian memadukannya dengan hasil membaca, saya berkesimpulan, bahwa membuat film tak ubahnya dengan menulis. Sifat dasar film adalah menggabungkan unsur gambar (vidio) dengan unsur suara (audio) untuk menyampaikan suatu gagasan – ide. Bagaimana memadukan sifat gambar dan suara yang pada dasarnya berbeda, agar bisa saling bersesuaian secara apik. Pada lain hal, tulisan pun digunakan untuk memperjelas pesan dari film.

Secara umum, sifat film dan tulisan terbagi dalam dua kategori utama. Yaitu fiksi dan non fiksi. Turunannya bisa menjadi banyak. Kekuatan keduanya terletak pada kemampuan imajinatif – atau membayangkan dan membangun sesuatu di dalam kepala sebagai kerangka berpikir. Bedanya, substansi fiksi bukan pada fakta dan realitas. Sedangkan non fiksi adalah menyajikan kebenaran sesuatu yang bersumber dari fakta dan realitas.

Gambar, suara, dan kata…, pada dasarnya telah ada dan menjadi isi kepala. Sudah tentu berdasarkan pengalaman hidup, kepekaan menangkap – membayangkan – dan memahami sesuatu, dan kapasitas diri. Ibaratnya puzzle yang berserakan di alam pikiran dan terdapat di lingkungan sekitar. Layaknya Puzzle, ia hanya bisa bermanfaat bila melalui proses pengkategorian, perekatan dan pemaduan, penataan kembali, dan pemasukkan unsur estetika.

Gagasan dan ide adalah embrio film. Menterjemahkannya ke dalam kerangka berpikir adalah cara untuk menjabarkan dan menjelaskan bentuknya. Pada ranah berpikir ini, saya memahami film sebagai wadah komunikasi. Sebab ia terbangun dari gabungan elemen-elemen pikiran dan perasaan, keahlian dan pengetahuan, dan teknologi. Apakah film bisa disederhanakan sebagai alat komunikasi? Menurut saya tidak demikian. Sebab kata “alat” pemaknaannya lebih bersifat mekanis dan berdiri sendiri. Film memiliki kompleksitas elemen yang jauh lebih rumit daripada tulisan – menulis.

Dari hal di atas, saya berpikir, bahwa untuk berhasil membuat film yang bermutu, sumbernya tidak dari kepemilikan peralatan dan teknis penggunaan alat. Ada kemampuan (skill) lain yang harus dimiliki oleh seorang Filmmaker. Yaitu kemampuan membangun kerangka berpikir tentang prinsip-prinsip film, membangun alur cerita, mengemas pesan, dan memasukkan unsur seni dan perasaan ke dalam film. Sederhananya, film bukan murni produk akal semata. Tetapi merupakan gabungan dari memanfaatkan fungsi akal dan perasaan. Karenanya, selain ketajaman akal, dibutuhkan kedalaman dan kepekaan perasaan untuk membuat dan memahami film.

Setiap Filmmaker tidak bisa menampik, bahwa rangkaian kerja produksi  film tidak bebas dari aspek seni dan sastrawi. Keduanya, menurut saya, paling bisa menggambarkan suasana psikologis dan pandangan filosofis Filmmaker dalam film yang diproduksinya. Dari sinilah, ruh sebuah film dapat ditelusuri, hingga berujung kepada karakter dan identitas pembuatnya.

Dalam beberapa pelatihan audio visual (teknik pembuatan film) yang saya temui, bagaimana mengeksplorasi pikiran dan perasaan dalam memproduksi film kurang diberikan tempat. Tak jarang, dipandang sebelah mata oleh pelatih – fasilitator. Aspek teknis selalu mendominasi materi pelatihan. Menempati ruang terbesar dalam pelatihan, kemudian diikuti dengan pemaparan latar belakang, maksud dan tujuan membuat film.

Singkat kata, kemampuan berpikir dan berperasaan dalam membuat film, saya sebut sebagai memahami jiwa dan ruh film. Karena pada aras pikiran dan perasaanlah kehidupan sebuah film yang diproduksi dipertaruhkan kualitasnya. Di sinilah kekuatan imajinasi dan kebenaran realitas yang berbeda dan bertentangan dipadukan dalam bahasa gambar dan suara oleh Filmmaker.

Berhubungan dengan itu, saya bertanya kepada seorang teman kantor. Dia pernah mengikuti pelatihan pembuatan film yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga besar dari pulau Jawa. Pertanyaan saya mengerucut pada dua hal itu. Jawabannya, bahwa pelatihan pembuatan film harus berjenjang: Aspek teknis adalah pelatihan dasar (Elementary Knowledge), sedangkan kerangka berpikir dan berperasaan dalam membuat film adalah pelatihan tingkat lanjut (Advance Knowledge). Menurutnya, hal-hal yang saya maksud hanya bisa dilakukan di tingkat pelatihan sekelas editor film.

Dari jawabannya, saya kemudian berfikir, “setahu saya, pelatihan pembuatan film yang selama ini dilakukan di Manokwari, adalah menyiapkan orang untuk belajar dengan cara melakukannya langsung di lapangan. Artinya, tidak ada pelatihan lanjutan yang sengaja akan dibuat untuk itu.” Alangkah baiknya bila pelatihan dilakukan dengan memasukkan kedua aspek tersebut sebagai bagian utuh dalam materi pelatihan. Ini cara sederhana mensiasati tidak adanya pelatihan lanjutan yang diprogramkan untuk calon-calon Filmmaker lokal.

Menurut hemat saya, metode-metode konvensional yang selama ini digunakan dalam pelatihan pembuatan film, harus dibongkar dan ditata kembali atau di-rekonstruksi. Sama halnya dengan menulis. Di mana peserta pelatihan menulis hanya dilatih untuk menulis secara teknis. Namun pemahamaannya tentang: bagaimana membangun simpati dan empati dari pembaca, mengkerangkakan pikiran dan perasaan dalam menyusun alur cerita tidak diajarkan. Lucunya lagi, peserta di ajari layaknya anak sekolah dasar, belajar tentang struktur kalimat berdasarkan pola subjek – predikat – objek – keterangan (SPOK) sesuai standar Ejaan Yang Disempurnakan – EYD.

Peserta pelatihan yang pada dasarnya orang dewasa, harus dibiarkan merdeka mengakselerasi kemampuan dirinya. Harus disediakan saluran yang terukur bagi mereka untuk mengalirkan pikiran dan isi hatinya. Sebab dalam menggunakan akal dan perasaan, tidak ada rumusnya…, tidak ada kata, “harus begini, dan jangan begitu.” Di sinilah sebenarnya ruang penyadaran bagi peserta pelatihan. Pintu masuk untuk menggugah kesadaran mereka mencintai kerja-kerja perfilman dan kepenulisan.

 

Membangun Alur Cerita dalam Film

          Lanjutan sub bagian ini tidak membahas teknik menulis alur cerita dalam film. Fokus bahasan diarahkan pada pentingnya memasukkan materi pembuatan alur cerita dalam film di dalam setiap pelatihan dasar pembuatan film. Tujuannya agar calon-calon Filmmaker memiliki pemahaman dasar yang utuh tentang kerja-kerja pembuatan film dan film sebagai wadah komunikasi ide dan gagasan kepada publik. Khusus bagi aktifis, film pun harus dipahami sebagai salah satu alat pengorganisasian opini publik.

Membangun ketajaman pikiran dan kepekaan perasaan dalam merumuskan alur cerita film, bukan pekerjaan mudah. Tetapi bukan berarti tidak ada cara untuk mengasah kemampuan ini. Saya selalu berprinsip, bahwa awal mula mempelajari sesuatu, tidak boleh mengikuti cara-cara baku. Karena sesuatu yang sudah dibakukan, tentu akan bertentangan dengan kebiasaan yang telah tertanam di dalam diri. Karena pikiran dan perasaan kita akan mengirim respon penolakkan: Saya Tidak Bisa.

Sama seperti menulis, penulis pemula selalu merasa sulit merumuskan gagasan yang akan ditulis sebagai paragraf pembuka di lembar pertama tulisannya. Apalagi urusan film yang memadukan kemampuan unsur-unsur berbeda (gambar – suara – tulisan). Masalah ini terjadi, karena ide dan gagasan penulisan belum di atur secara terstruktur di dalam kepala. Terlalu luasnya sudut pandang yang digunakan, menyebabkan penulis sulit menemukan fokus pikirannya sendiri.

Saya pribadi, awalnya merasakan kesulitan ini dalam dunia menulis. Langkah yang saya lakukan untuk mensiasatinya, adalah memilih sebanyak mungkin kata-kata kunci. Kemudian baru memilih satu kata kunci utama. Kata kunci itu saya buat penjelasan – penjabarannya dengan menghubungkan ke inti cerita (pesan) yang terkandung di dalam isi tulisan.

Dari hasil diskusi dengan sahabat Andy Saragih, saya katakan, “kita harus membuat bingkai berpikir. Agar membantu kita tidak berlaku mata keranjang dalam menjaring dan merumuskan ide dan gagasan dari suatu topik.”

Dalam membuat alur cerita, ada tiga babakan baku dalam film. Film senantiasa berisi “Awal/Pembukaan – Isi – dan Akhir/Penutup”.

Tahap pembukaan adalah proses awal mengajak – menuntun alam pikiran dan perasaan penonton memasuki film. Saya lebih suka memahami tahap ini sebagai, “ungkapan memikat menyambut perhatian penonton.” Pada aspek inilah yang saya maksudkan menggabungkan kekuatan pikiran dan perasaan. Dan hal demikian akan terus berlanjut ke tahap isi dan tahap penutup dari suatu film. Babak awal adalah memperkenalkan topik persoalan kepada penonton: Tokoh – dan karakter, ruang dan latar, dan suasana.

Babak Isi adalah kondisi di mana penonton diajak untuk lebih mengenal, memahami latar belakang – maksud – dan tujuan dari ide dan gagasan yang diceritakan. Babak Isi adalah cerminan utuh dari satu rangkaian cerita. Di sini, kemampuan analisis dari Filmmaker harus digunakan. Babak ini berisi penjabaran situasi, kondisi sebab akibat – dan saling mempengaruhi antar unsur-unsur pembentuk cerita. Hasil analisis dari setiap unsur dijelaskan baik. Kejelasan sikap dari Filmmaker harus mulai diperkenalkan ke dalam cerita.

Babak Akhir, film bisa berisi kesimpulan, berupa solusi, tidak ada solusi, atau dibiarkan menggantung. Makanya pada Babak Isi, kejelasan dan ketegasan sikap Filmmaker harus mulai diperkenalkan. Pada banyak film, yang alur ceritanya dibuat runut – jelas dan mengasikkan, Filmmaker menyerahkan kesimpulan akhir cerita kepada penonton.

Bagi saya, pembuatan alur cerita (film dan tulisan) tidak boleh dibuat monoton dan datar. Apalagi mengikuti standar sinetron-sinetron Indonesia. Setiap Filmmaker hendaknya memiliki kemauan keras untuk berlaku inovatif dan kreatif dalam membuat cerita film. Ada saat di mana kisah yang difilmkan atau ditulis dibuat melambung tinggi, mendatar lalu bergelombang, hingga menukik jauh ke bawah. Film, apapun genrenya, unsur konflik (masalah muncul) – klimaks (masalah memuncak) – dan anti klimaks (masalah menurun), selalu memberikan kesan tersendiri di hati penonton. Tak bisa di sangkal demikian besar perannya dalam mempengaruhi pikiran penonton.

Perhatikan saja film-film fiksi ilmiah produksi Holywood. Atau perhatikan film-film Box Office yang diangkat dari kisah nyata dan novel fiksi berlatar kehidupan dan cinta. Bila belum cukup, cermati juga film-film cartoon, seperti Tom and Jery, Sponge Bob, Angry Birds, dsb. Hingga film fiksi bertema epik seperti Power Rangers,  Ultra Man, Spiderman, Superman, dll. Bila dirasa belum cukup juga, pelajari lagi alur cerita film-film dokumenter lingkungan dan ilmu pengetahuan versi Discovery Chanel dan National Geographic. Semuanya menjadikan konflik-klimaks-anti klimaks untuk mengemas kekuatan pesan film dan menghindari terjadinya rasa bosan penonton.

Pada dasarnya ketiga hal tadi tidak harus muncul dari adanya masalah yang difilmkan. Peranan ketiganya lebih pada menarik perhatian, menaikkan perhatian, dan menurunkan perhatian penonton. Ini soal kepandaian menonjolkan – memunculkan, bagian-bagian kisah yang dianggap paling penting dan berpengaruh dalam kesatuan alur cerita.

Saya tidak anti film dan tulisan yang disajikan monoton dan datar. Tapi menurut hemat saya, hal seperti itu hanya bisa terjadi, bila Filmmaker dan penulis menjadikan dirinya seperti robot dan patung. Bentuk penyangkalan terhadap hukum kausalitas kehidupan: perubahan dan dinamika. Bila ada film dan tulisan yang disajikan monoton dan datar, saya bisa katakan, telah terjadi stagnasi atau kemandegan berpikir dan berperasaan dalam diri pembuatnya. Sebab pikiran dan perasaan harus dinamis dan mampu diadaptasikan mengikuti perubahan dimensi ruang dan waktu.

Banyak terdapat hal lucu dari pelatihan menulis dan pembuatan film di Tanah Papua. Mencermati penjelasan dari sahabat Andy Saragih (Direktur Mnukwar), bahwa Camera Person – kameramen berbeda dengan Filmmaker. Tetapi kenapa pelatihan-pelatihan yang selama ini dilakukan, mengarahkan peserta untuk mampu memproduksi film dari sudut pandangnya sendiri? Sedangkan dasar pelatihan yang dibuat untuknya atau diikutinya, lebih kepada dasar-dasar menjadi Camera Person – kameramen.

Fakta di atas membuat saya bingung. Saya mengandaikan kasus itu, ibaratnya, “peserta dilatih untuk mengenal tombak dan bagian-bagiannya, cara menggunakan, cara merawat dan memperbaikinya. Setelah itu mereka diminta menyusun strategi berburu dan berburu secara benar untuk memperoleh hasil yang memuaskan.” Maaf! Siapa sebenarnya yang bodoh? Pemateri dan pelatih, ataukah peserta yang segaja dibodohi oleh mereka?

Masih menurut Andy, bahwa setahu dia, jumlah Filmmaker setanah Papua tidak lebih dari lima jari. Ini suatu kondisi yang tidak sehat, dalam pandangan saya. Karena begitu seringnya pelatihan yang dilakukan, tapi hasilnya hanya begitu.

Kembali seperti yang saya kemukakan sebelumnya, film adalah wadah komunikasi. Kesungguhan dan keahlian mengemas pesan (ide dan gagasan) dalam bentuk alur cerita yang dinamis dan mengalir adalah unsur utama yang harus terpenuhi. Ini bukan berarti penguasaan keahlian teknis di ke sampingkan. Keduanya tetap harus berjalan saling melengkapi sebagai kapasitas diri seorang Filmmaker. Yang saya persoalkan, adalah pelatihan yang hanya menitikberatkan penguasaan keahlian teknis peralatan semata.

Sahabat Andy selalu mengeluh tentang masalah ini. Menurutnya, kurangnya minat membaca dan tidak mau belajar menulis, menjadi penyebab sulitnya menciptakan seorang Filmmaker lokal. Sebab membuat alur cerita – skrip film, harus dimulai dengan keahlian membaca dan menulis. Ia mengakui, mayoritas orang yang mengaku Filmmaker di Manokwari, tidak bisa menulis baik. Padahal dengan menulis, seorang Filmmaker akan bisa melakukan pemilihan kata yang mudah divisualkan.

Bagi saya, alur cerita yang ditulis adalah bentuk operasional ide – gagasan dan pernyataan Filmmaker di dalam filmnya. Ia adalah bangunan besar dari film. Di sinilah Filmmaker menggambarkan secara rinci ide dan gagasannya.

Untuk membuat alur cerita yang baik, Filmmaker harus menguasai tematik film yang dipilihnya. Kajian dan riset menjadi utama syarat yang harus dipenuhi. Data dan fakta yang terkumpul harus dikategorisasi dan dirangkai berdasarkan pendekatan alur dan kemasan cerita yang dipilih. Dari data dan fakta yang ada, seorang Filmmaker melakukan imajinasi. Yaitu imajinasi berdasarkan panduan data dan fakta. Hasil imajinasi itulah yang kemudian dituangkan secara tertulis sebagai kerangka cerita dalam film.

“Kebanyakan teman-teman membuat film tidak melalui proses kajian yang baik. Terkadang ada film yang tidak dipahami sendiri oleh pembuatnya,” demikian penuturan Andy. “Saya, sering sarankan kepada teman-teman, sebaiknya membuat film dari apa yang paling kita kuasai, pahami,” lanjutnya.

Sangat sulit membuat alur cerita untuk film, bila kita tidak pandai menulis. Dan sangan sulit untuk bisa menulis baik, bila kita tidak mau banyak membaca. Bukan hanya membaca buku – tulisan saja. Dinamika kehidupan yang terjadi di sekitar lingkungan kita, perlu untuk dibaca juga. Kepekaan pikiran dan perasaan terhadap perubahan yang terjadi, dengan sendirinya akan mengajak kita untuk mencari tahu, kenapa dan bagaimana perubahan itu terjadi. Inilah pintu masuk melakukan kajian – penelitian dalam skala tertentu.

Di bawah ini saya buatkan satu contoh kerangka penulisan alur cerita film berdasarkan sistimatika yang telah dikenal umum. Saya melakukan perubahan mendasar pada isi dan sistimatikanya, karena tidak dibuat oleh orang-orang yang dipercayakan untuk membuat film ini. Film ini telah mati suri selama delapan tahun lebih, meskipun bahan mentahnya telah dikumpul sangat banyak. Asumsi saya, film ini tertunda pengerjaannya, karena pembuatnya belum mau belajar menulis kerangka dan alur ceritanya.

Judul : Menggali Rupiah di Hutan Bakau
Tema : Aktifitas ekonomi rumah tangga mama-mama pencari kepiting bakau
Tujuan/Pesan : Pemanfaatan sumberdaya alam lokal untuk peningkatan ekonomi keluarga, Pengelolaan ekosistem mangrove secara lestari, Pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis rumah tangga, Kritik terhadap strategi program pemberdayaan ekonomi dari Dinas Perikanan Kabupaten Teluk Bintuni
Cerita : Keuletan dan ketekunan perempuan kampung Warganusa 1 menghidupi keluarganya, pengetahuan dan ketrampilan perempuan kampung dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan, kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam
Bentuk : Multikarakter (wawancara dengan perempuan pencari kepiting,  tokoh masyarakat kampung, pihak pemerintah dan perusahaan)
Potensi

Konflik

:

:

Ketergantungan warga kampung terhadap kelestarian ekosistem mangrove

Kehadiran investasi pertambangan dan kehutanan berdampak terhadap rusaknya ekosistim mangrove, Beban kerja dan besarnya tanggungjawab perempuan dalam keluarga, dan diskriminasi program pemberdayaan ekonomi oleh pemerintah dan investor terhadap status dan peran serta hak ekonomi perempuan

Elemen : Footage video, aktifitas perempuan mencari kepiting bakau, hutan bakau (mangrove) di kampung Warganusa 1 – dan Teluk BintuniFoto lokasi camp perusahaan LNG Tangguh dan perusahaan HPH
Durasi : 30 menit, Format MiniDV (Betacam, atau Seluloid).

Menurut saya, kerangka sederhana seperti inilah yang harus mulai diperkenalkan secara sungguh-sungguh kepada peserta pelatihan pembuatan film. Tidak dimaksudkan agar mereka langsung memahami dan bisa melakukannya. Cukup saja mereka mengerti, bahwa untuk membuat film, dibutuhkan kemauan dan kesungguhan. Salah satunya dengan berimajinasi berdasarkan data dan fakta. Kemudian, imajinasi itu dikerangkakan – ditulis ke atas kertas sebagai alur cerita.

Alur cerita yang ditulis berdasarkan kemampuan pikiran semata, akan tersampaikan kering. Tidak bisa membangun rasa simpati dan empati penonton terhadap aktor dan masalah.

Contohnya. Akal tak mampu menggambarkan berharganya tetesan peluh, kepenatan, kerisauan, dan derita yang dialami oleh perempuan-perempuan tua yang berjibaku dengan lumpur, terik matahari yang membakar, dan ketidakadilan, demi menyediakan sesuap nasi dan harapan untuk anak-anaknya di rumah.

Sepintar dan semampu apapun kemampuan nalar dan pikiran seorang Filmmaker, ia tetap tak akan mampu menghadirkan pesan ini ke dalam filmnya. Sejatinya, perasaan hanya bisa didekati dan ditangkap oleh perasaan juga. Peran akal yang untuk membentuknya dalam rangkaian cerita.

Pada ranah ini, apapun genre film yang dipilih Filmmaker untuk menggambarkan ide dan gagasannya, kepekaan rasa atau perasaan, menempati peranan yang sangat penting. Kata sahabat saya, Andy Saragih, “buatlah film dengan menggunakan perasaan juga.”

(KAETARO untuk Sahabat. Manokwari, Oktober 2013).

—————————————————————–

Gambar: http://usabilitygeek.com/

One thought on “Membangun Alur Cerita Film, “Rekonstruksi Metode Pelatihan Audiovisual”

  1. bagus nih, bisa nambah wawasan ane, soalnya kepikiran bikin film juga, tapi masih kesulitan bikin alur ceritanya. Harus belajar nulis ya, oke deh.. hehe makasih artikelnya.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s