DEMI CINTA YANG ENGKAU TITIPKAN, TUHAN


bismillahBissmillahirrohmaanirrohiim.

Demi cinta yang Engkau titipkan. Cinta adalah keselamatan dan kebenaran hidup. Bilamana cinta adalah kehidupan, maka ia bersumber dari ruh yang ditiupkan Allah; bilamana cinta adalah keselamatan, maka ia terbentukr dari kasih sayang Allah; Bilamana cinta adalah kebenaran,  maka ia membentuk ketulusan, keikhlasan, dan rasa syukur kepada Allah.

Manusia dan kehidupan senantiasa berhubungan erat atas sebab-sebab cinta. Tak ada kehidupan tanpa cinta. Tak ada keselamatan tanpa cinta. Tak ada kebenaran tanpa cinta. Dan bila ada cinta yang tidak berisi keselamatan dan kebenaran, maka itu bukan cinta, tapi nafsu syahwat.

Cinta adalah karunia terbesar dari Allah kepada hamba-Nya, manusia. Atas dasar cinta, maka Allah menciptakan manusia dan kehidupan. Oleh karena cinta adalah karunia Allah, maka ia adalah titipan. Titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak oleh Allah.

Telah menjadi ketetapan-Nya yang azali, bahwa manusia diciptakan dengan naluri cinta. Yaitu kebutuhan untuk dicinta dan mencintai. Cinta adalah fitrah manusia, sekaligus fitrah penghambaan kepada-Nya. Fitrah yang berisi keselamatan dan kebenaran. Fitrah yang senantiasa mengingatkan dan mengajak diri untuk kembali kepada asalnya, beriman kepada satu kebenaran dan satu keselamatan, Allah Azza wa Jalla.

Mengutip hadist Rasulullah Saw yang diriwayatlan oleh Turmudzi dari Anas, “Cintailah Allah atas apa yang Dia berikan kepadamu dari berbagai nikmat-Nya.” Hadist ini menjelaskan, bahwa manusia mencintai Allah atas dasar apa yang ia telah terima dari Tuhan-nya. Maka hanya kepada Dia, cinta sejati harus dipersembahkan. Maksudnya mengembalikan perasaan cinta yang utuh dan tulus kepada-Nya.

Dalam mencintai Allah, terdapat dua bentuk kelahiran cinta, yaitu: Pertama, cinta yang bersemayam di dalam ruh; dan Kedua, cinta yang muncul melalui hati dan perilaku.

Bentuk yang pertama adalah cinta yang lahir akibat ruh dinisbatkan kepada Allah. Bila cinta sesama manusia mengenal bentuk pemisahan dan bergantung pada ruang dan waktu, maka cinta karena penisbatan ruh kepada Allah tidak mengenal bentuk pemisahan serta ruang dan waktu. Ia menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Bentuk cinta ini dijelaskan oleh Al Qur’an dalam surat Al-A’raf, ayat 172. Allah berfirman dengan bahasa cinta, kelembutan, menggugah perasaan, untuk menyadarkan manusia senantiasa ingat kepada asalnya:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Di manakah letak pesan cinta dalam ayat ini? Pesannya terdapat di balik pertanyaan (dialog) Allah dengan ruh. Jika selama ini orang-orang mukmin berkata, “Allah adalah kekasihku yang Maha Mencintai-ku”. Maka pertanyaan Allah di ayat tersebut akan menjadi, “Bukankah aku ini Kekasihmu?” Dan mereka menjawab, “Betul (Engkau Kekasih kami).

Sekali lagi! Cinta adalah kehidupan, keselamatan, dan kebenaran. Tidak hanya cinta kepada sesama manusia (sebagai kekasih) yang membutuhkan pengakuan dan kesetiaan. Cinta manusia kepada Tuhan-nya pun membutuhkan pengakuan. Allah meminta persaksian dan pengakuan ruh terhadap keberadaan-Nya. Persaksian dan pengakuan, bahwa sesungguhnya Allah Maha Pencipta, hanya kepada-Nya semata keimanan (rasa cinta) disandarkan.

Apakah yang dirasakan oleh jiwa sepasang kekasih yang telah mengaku  saling mencintai? Mereka akan diselimuti perasaan rindu, kesedihan bila berpisah, dan rasa haru yang mendalam. Wujud nyata rasa cinta Allah pada manusia, Dia menganugerahkan Iman dan Islam. Dan buah dari itu, tanpa berkesudahan Dia memberikan nikmat dan karunia yang tak terkira.

Lanjutan dari firman Allah tersebut di atas (ayat 172) dan kemudian ayat 173 di surat yang sama adalah:

“(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka.”

Bagian akhir ayat ke- 172, dan ayat ke- 173, bicara tentang kesetiaan dalam mencintai. Rasa cinta yang benar harus dibuktikan dengan perilaku setia yang tulus. Karena kelemahan sifat dan akal manusia, maka pengingkaran atau pengkhianatan pasti dilakukannya. Oleh sebabnya, Allah mengingatkan manusia akan sumpahnya dengan memberikan karunia dan nikmat. Sedangkan manusia menjaga kemurnian dan kesetiaan cintanya dengan bersyukur dan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Kedua ayat tersebut mengajarkan kepada manusia tentang tiga hal utama dalam mencintai: Pertama, apa yang menjadi alasan mencintai; Kedua, pengakuan (berjanji – bersumpah) untuk mencintai; dan Ketiga, memegang teguh pengakuan mencintai atau kesetiaan.

Saudaraku, hanya Allah yang paling berhak mendapatkan makna sebenarnya  cinta. Dia satu-satunya alasan dan sebab orang menyatakan cinta. Siapapun dia, ruhnya memiliki kecenderungan kuat kepada yang paling dicintainya, paling dirinduinya, yaitu Allah. Namun, ketika ruh mengalirkan hasrat cintanya, naluri kebinatangan manusia mengirimkannya kepada  kepentingan memenuhi hawa nafsu.

Ruh mencintai Kemahaindahan Tuhan-nya yang bersifat abadi. Ruh merindukan cinta Tuhn-nya yang bersifat sempurna. Ruh membutuhkan kasih sayang Tuhan-nya yang bersifat menyelamatkan. Sedangkan naluri kebinatangan yang berada di dalam diri manusia, hanya mementingkan keindahan yang bersifat fana, cinta dengan pamrih, dan kasih sayang yang palsu.

Ayat ke-172 surat Al-A’raf, mengingatkan kita tentang cinta pertama manusia kepada Tuhan-nya. Ayat ke- 173 surat tersebut, menceritakan kemungkinan kita mengkhianati dan mengingkari pernyataan cinta kepada Tuhan-nya.

“Yaa Allah. Demi cinta yang Engkau karuniakan. Yaa Robbana. Demi nafas hidup yang Engkau titipkan…! Tidaklah sempurna keimananku kepada-Mu tanpa didahului perasaan cinta yang tulus kepada-Mu.” (Kaetaro).

Bagaimana bentuk kedua dari cinta manusia kepada Allah Swt? Cinta yang lahir melalui jiwa dan perilaku, memiliki perbedaan sifat dan bentuk. Bentuk cinta pertama dipahami dalam bahasa ruh – perasaan dan naluri keimanan yang murni (Tauhid) dan beragama yang lurus (Islam). Bentuk kedua dibuktikan pernyataannya dengan perasaan dan pikiran yang berbentuk perilaku nyata.

Fitrah jiwa manusia senantiasa mengajak pemiliknya melakukan perbuatan yang benar dan baik. Demikian juga cinta, selalu mengajak kepada perilaku  mulia dan selemat. Cerminannya, setiap manusia mendambakan kebersihan jiwa dan keluhuran perilakunya. Selalu mengingat Allah,  beribadah kepada-Nya, merasa diawasi-Nya, menyadari salah dan dosa, keinginan bertobat, menghindari maksiat dan kemungkaran, memohon pertolongan-Nya, dsb. adalah bentuk dari cinta kedua.

Ruh adalah rahim yang melahirkan kecintaan dan keimanan kepada Allah. Di dalam hatilah rasa cinta dan keimanan kepada-Nya bersemayam. Pada ruang-ruang akal, cinta dan keimanan berproses, membentuk, dan lahir nyata. Ketika cinta kepada Allah redup, hilang, atau tergantikan dengan cinta kepada selain-Nya, maka lahirlah kesesatan dan pengingkaran terhadap-Nya.

“Yaa Robbana. Keimananku kepada-Mu lahir dari rasa cintaku kepada-Mu. Kesadaran cintaku kepada-Mu tumbuh di hati dan bermekaran di akalku. Aku menghamba kepada-Mu, karena membutuhkan cinta-Mu.” (Kaetaro).

Kebersihan jiwa (hati dan akal) adalah syarat mutlak mencintai Allah. Yaitu menjauhkan diri menyekutukan, menyamakan, membandingkan, dan membayangkan cinta-Nya sama dengan cinta dari selain-Nya. Mengajari hati dan akal untuk mencintai Allah berdasarkan Al Qur’an dan contoh dari Rasulullah.

Apabila kita mencintai kekasih dunia dengan membersihkan jiwa kita dari menghadirkan kekasih-kekasih lain, maka mencintai Allah Swt pun demikian. Yaitu membersihkan jiwa kita agar tidak mencintai tuhan – kekasih yang lain dengan derajat yang sama dan lebih tinggi.

Di dalam Al Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 165, Allah Swt menyatakan tentang kecintaan manusia kepada selain-Nya. Ini sebuah peringatan, bahwa manusia cenderung lupa diri, dan lemah menjaga kemurnian cintanya. Allah berfirman:

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.”

Menyangkut kebersihan jiwa dalam mencintai Allah, Tuhan tempat sandaran keimanan, telah dinyatakan oleh-Nya di dalam Al Qur’an, surat Asy-Syams ayat 9 – 10. Firman Allah berbunyi demikian:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Maksud dari ayat ini adalah keberuntungan bagi orang yang pandai menjaga rasa cintanya (fitrah keimanan) yang dititipkan Allah kepada dirinya. Caranya adalah memberi makan cintanya dengan nilai-nilai Al Qur’an dan hadist, beribadah hanya kepada Allah, dan penghambaan total kepada-Nya.

Ibaratnya di dalam kehidupan manusia, apabila kita memberikan cinta kepada seseorang, lalu orang itu mengkhianatinya, maka kita akan menarik kembali cinta kita, kemudian diberikan kepada orang yang mencintai kita. Allah Swt menggunakan pengibaratan demikian untuk memperingati manusia akan akibat pengkhianatan kepada-Nya.

Di dalam Al Qur’an, surat Al-Ma’idah ayat 52, Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya,”

Apakah mencintai Allah Swt dibutuhkan pengorbanan? Kebanyakan orang mengatakan, “Ya”. Tetapi saya berkata, “Tidak”. Pernyataan ini berlaku juga untuk mencintai Rasulullah dan kedua orang tua kita, meskipun memiliki derajat ketulusan cinta yang berbeda.

Untuk mencintai Allah, manusia telah dikaruniai berbagai kemampuan. Apa yang manusia butuh dan perlukan untuk menyatakan cinta dan setia kepada-Nya telah tersedia. Tidak perlu mencari cara dan sebab dan alasan baru. Jadi, tidak ada yang namanya pengorbanan dalam mencintai Allah Swt. Yang ada hanya, “mengembalikan apa yang telah ada di dalam diri kepada Tuhan”.

Yaa Robbana. Aku mencintaimu bermodalkan nikmat dan karunia yang telah aku nikmati dari-Mu. Aku mencintai-Mu berdasarkan kasih sayang-Mu kepadaku. Tanpa rahmat dan pertolongan-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup membalas cinta suci-Mu.” (Kaetaro).

(KAETARO. Fanindi Dalam, 01 Muharam 1435 Hijriyah).

————————————————————————

Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s