BUNGA ILALANG: Catatan 01


Dengan menyebut nama-Mu, yaa Al-HAQ.

1280_1024_nature_wallpaper_106320843Siapakah bisa meramalkan tengah dan akhir hidupnya? Tak seorang pun mampu memberikan jawaban pasti tentangnya. Kehidupan selalu membawa kita dari suatu misteri ke misteri lain. Terkadang, kemarin kebahagiaan datang memenuhi diri tanpa kita menduganya. Tapi besok, tak ada jaminan kebahagiaan itu tak akan mengering dan berlalu, berpindah ke orang lain.

Kehidupan diri tidak berjalan satu garis lurus. Juga tidak bergelombang secara beraturan. Pastinya, kita senantiasa dikejutkan dengan apa yang akan terjadi beberapa waktu ke depan. Inilah rotasi kehidupan, perpindahan dari keheranan yang satu ke keheranan yang lain.

Kehidupan terus menampilkan suasana hati yang bertentangan. Bahagia dan luka telah menjadi sahabat setia bagi setiap diri. Keduanya terus berganti mengikuti bertambahnya usia. Bila hari ini adalah perpindahan dari luka ke bahagia, bisa jadi besok hari adalah perpindahan dari bahagia  ke luka. Atau bisa saja kebahagiaan berpindah ke kebahagiaan lain, dan luka berpindah ke luka yang lain.

Pernahkah kita bayangkan, bagaimana angin menyibakkan awan, angin menggerakkan permukaan samudera menjadi gelombang, angin merebahkan pucuk-pucuk ilalang?. Seperti itulah kehidupan, ada kekuatan Maha Besar yang mengaturnya.Tanpa kasih sayang-Nya, tanpa kehendak-Nya, angin tak kuasa.

Seperti benci dan rindu, seperti cinta dan khianat, seperti bahagia dan duka, dan sebagainya. Lazimnya manusia, selalu menginginkan hidupnya dipenuhi kerinduan, suka cita, cinta, dan kebahagiaan. Kebencian, pengkhianatan, dan masalah, pasti ditolaknya. Bisa juga, tidak mau dibicarakan.

Menjadi pertanyaan yang tidak perlu dijawab: Dari seluruh kompleksitas perasaan, yang di dalamnya ada cinta, khianat, dsb. siapa sebenarnya yang memenciptakan dan menempatkannya ke dalam diri? Apakah orang lain, atau diri sendiri…?

Kehidupan berproses mengikuti hukum sebab akibat. Hukum kausalitas kehidupan, yang mana manusia tak berkemampuan untuk menolak dan mengingkarinya. Bila itu merupakan hak mutlak dari Tuhan, lalu mampu apa manusia menggugat-Nya, mempertanyakan keputusan-Nya.

Dalam banyak hal, seringkali orang berkata, “saya menginginkan hidup saya dipenuhi oleh cinta dan kebahagiaan”. Ada lagi yang berkata, “pengkhianatan dan kebencian adalah sifat buruk”.

Namun dari kedua pertanyaan itu, saya berpikir, bahwa kebanyakan orang memiliki kemampuan besar untuk tidak berkhianat dan menghindari kebencian.Manusia mampu untuk tidak berlaku khianat dan meredakan kebenciannya. Menyangkut merawat cinta dan kesetiaan, dan sifat-sifat baik, hanya sedikit orang yang mampu melakukannya.

Menurut saya, menciptakan sesuatu yang baik, tidak sulit. Semua potensi untuk melakukannya telah ada di dalam diri, tinggal kita menggunakannya saja. Menjaga dan merawat apa yang telah diciptakan adalah suatu urusan yang lebih dari sekedar memiliki kemauan dan niat baik. Karena godaan terbesar selalu datang dari rasa ketidak-puasan atas apa yang telah dimiliki.

Menciptakan atau mengadakan hal baru, selalu lebih besar diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal. Makanya mudah untuk dikenali, dan dihindari kalau itu salah. Namun merawatnya, lebih disebabkan oleh faktor-faktor internal: perasaan dan pikiran sendiri. Sebab-sebabnya sulit dikenali, karena selalu berproses secara halus dan seringkali terjadi tanpa disadari. Manusia sering tertipu dengan penilaian dirinya sendiri tentang sesuatu yang dianggap baik dan buruk.

Ada keleluasan mutlak telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Tanpa meminta dan menunggu keputusan-Nya, manusia boleh bebas melakukan segala sesuatu yang dianggap baik untuk dirinya. Dan bila kemudian kebaikan itu di akhirnya menjadi keburukan dan kepedihan, apakah Tuhan yang harus disalahkan?

Masalah dan kebencian, seharusnya menjadi waktu bagi manusiauntuk berhenti sejenak. Melakukan semacam jeda kehidupan, mundur satu dualangkah, kemudian melangkah lagi. Kemunduran bukanlah kepahitan dan kegagalan. Tapi berdiam sejenak untuk menata hati dan pikiran lebih baik – merenung dan memperbaiki diri. Ruang yang luas bagi diri untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bukannya malah memaki, berkelu kesah, menghujat, dan menuduh orang lain sebagai penyebabnya.

Cinta, seharusnya menjadi simpul yang mengikat erat hati dan pikiran dengan kebaikan dan keselamatan – penghargaan terhadap diri atas kehidupan yang telah dikaruniakan oleh-Nya. Harus ada kesadaran yang terbangun, bahwa setetes rasa cinta yang tersisa di hati, mampu meredakan luapan gelombang kebencian; setetes pikiran jernih di akal, mampu mencari jawaban bagi masalah yang membanjir deras.

Angin dan ilalang mengajarkan kita, bahwa kekuatan yangtampak tidak pernah mampu menahan terjangan kekuatan tersembunyi. Kehalusanbudi pekerti selalu mampu meruntuhkan kekasaran dan amarah. Ilalang dengan sifatnyayang luwes dan tumbuh merapat satu sama lain, mampu mempertahankan eksistensidirinya, meskipun taufan menerjangnya. Tapi bila ilalang yang tumbuh terpisah dalamrumpun-rumpun kecil, terpisah dari hamparannya, pasti tercerabut.

Memang benar bahwa hidup tak sesederhana pengibaratan ilalang dan angin. Tetapi pengandaian ini lebih baik daripada mencontohkan orang lain.

Perasaan dan akal harus terus dilatih untuk menumbuhkan rasa cinta dan merawatnya secara benar. Bila kita merasa mampu menerima kebahagiaan, maka di lain waktu, kita pun harus yakin mampu menerima akibat buruknya, bila terjadi. Kebanyakan orang mengatakan dirinya mampu mencintai kekasihnya dengan tulus. Tetapi ketika ia dikhianati, maka kebencian dan makian yang akan ia keluarkan.

Mengintrospeksi diri adalah sikap yang harus dijaga dalam diri. Sebab masalah dan pengkhianatan terjadi karena hukum sebab akibat. Kesetiaan yang berlebihan, pasti berujung masalah. Kerinduan yang membabi buta, pasti menyesatkan. Kasih sayang yang tak terukur, pasti terbuang sia-sia.

Mencintai kekasih dunia secara berlebihan, pastilah bersimbahair mata duka. Tapi mencintai Allah secara berlebihan, pastilah bersimbah air mata pengharapan.

Mari menumbuhkan dan merawat cinta dengan perpaduan “kemampuan” perasaan dan akal sehat. Dan, Tuhan-lah penentu akhirnya.

Dengan menyebut nama-Mu, yaa Al-AHAD.

 

——————————

Gambar: http://getpiti.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s