CINTA dan AKAL


“Akal adalah cahaya  yang menerangi kegelapan. Sedangkan cinta adalah dorongan ke arah kejelasan yang tampak dalam terang. Cinta dan Akal, masing-masing  tidak bisa berdiri sendiri…, karena sumber keduanya satu, ruh.” (Kaetaro)

OrchidKetika Allah menciptakan manusia, ruh ditetapkan menjadi eksistensi diri yang menghidupkan  manusia. Sedangkan jiwa adalah adalah gerak ruh mewujudnyatakan kehadirannya dalam diri manusia. Ruh (jiwa) bergerak memasuki setiap sendi tubuh manusia sehingga lahirlah kepekaan diri, mengaliri otak sehingga melahirkan pengetahuan, dan mengaliri hati sehingga lahirlah perasaan.

Pernyataan ini menegaskan, bahwa sumber gerak akal dan gerak hati, bukanlah jiwa. Tetapi ruh yang menggerakkan keduanya. Dan ketika akal bekerja menjadi pengetahuan dan hati menjadi perasaan, maka ruh-lah rahim yang melahirkan keduanya.

Bicara tentang keimanan, akal adalah sumber keimanan. Sedangkan cinta adalah sumber ketaatan – kesetiaan kepada-Nya. Perihal ini bisa dipindahkan penggunaannya dalam memahami cinta seorang manusia kepada sesamanya.

Perasaan dan akal menjadi dua hal mendasar dalam diri manusia yang tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Kenyataan ini sama halnya dengan iman dan amal saleh. Bagi seorang muslim, beriman saja belum cukup untuk bisa dikatakan sebagai bukti ketakwaan kepada Allah. Dibutuhkan keimanan yang berbentuk perilaku nyata, atau amal saleh. Para ulama bersepakat, bahwa iman adalah keyakinan yang mantap dan teguh kepada Allah, dan amal saleh adalah perilaku atau wujud nyatanya.

Untuk seterusnya, hati dan akal tidak dibahas sebagai anggota tubuh. Tetapi dibahasakan sebagai “perasaan cinta” dan sebagai “pengetahuan”. Sebab pesan yang mau disampaikan adalah fungsi dan manfaat dari keduanya.

Ada batasan yang membedakan antara cinta dan akal. Cinta sebagai fitrah manusia, menyebabkan tidak dibutuhkan sesuatu dari luar untuk mengadakannya. Sejak manusia diciptakan, hatinya telah terisi oleh rasa cinta, cinta kepada kebenaran Ilahiyah: Kebutuhan untuk menghamba kepada Tuhan dan menjalankan perilaku penghambaan – beragama. Dengan berprosesnya umur manusia, rasa cintanya akan terus bertambah dan membutuhkan pembuktian-pembuktian akal. Akal adalah sarana untuk menyalurkan rasa cinta. Hakikatnya cinta bersifat abstrak, maka ia membutuhkan bantuan akal untuk menyampaikan dan membentuknya.

Meskipun rasa cinta selalu mengajak manusia kepada kebenaran dan keselamatan, tapi bila hati tidak dididik secara benar, sesuai petunjuk-petunjuk Ilahi, maka cinta bisa merusak manusia. Contohnya, manusia mencintai harta, mencintai pangkat dan jabatan, mencintai hawa nafsunya, dan sebagainya.

Jika demikian, lalu di manakah sebenarnya sumber nafsu dalam bercinta? Hati – perasaan adalah sumber nafsu. Lewat akal, nafsu itu lahir dalam bentuk pikiran dan perilaku. Kondisi ini bisa terjadi pada diri setiap orang. Pengetahuan yang salah dan sesat, berasal dari perasaan yang kotor dan menipu.

Terdapat dua pertanyaan umum, “Apakah perilaku yang dilahirkan dorongan perasaan selalu didahului oleh keputusan akal? Atau apakah perilaku yang diputuskan akal selalu didahului oleh dorongan perasaan?”

Jawaban pertanyaan ini terus menjadi perdebatan panjang. Bisa saja hubungan antar keduanya melahirkan hal-hal positif, tapi bisa juga negatif. Tidak ada jawaban yang pasti. Di situlah sebenarnya letak keunikan dan kelebihan hati dan akal manusia. Kalau ada jawaban, pasti akan bersumber dari yang manakah di antara keduanya paling besar diberikan pendidikan. Atau bisa jadi keduanya dididik secara berimbang.

Menjadi persoalan mendasar, bagaimana menjadikan cinta dan pengetahuan berada pada satu jalur lurus. Bersama-sama mencapai satu tujuan yang baik, tujuan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi.

Manusia membutuhkan cinta untuk menguatkan dan menyempurnakan keputusan akal. Manusia membutuhkan juga pengetahuan untuk menghalangi cintanya dari penyimpangan. Cinta dan pengetahuan yang berdiri sendiri-sendiri, tidak saling melengkapi dan menguatkan, akan menjadi penyakit yang mencelakakan diri. Bila cinta lebih menguat, maka akan menjadi nafsu; dan bila pengetahuan lebih menguat, maka akan menjadi kesesatan.

Memang berpedoman pada akal adalah keharusan dalam beragama, karena akal adalah alat ukur untuk membedakan antara benar dan salah – sebagai alat penyaring untuk menentukan pilihan mana yang akan diambil. Pengagungan terhadap kemampuan akal semata sangat dilarang dalam Islam. Karena bisa membuat seseorang menjadi berlaku syirik dan sombong.

Terdapat empat fondasi bangunan Islam: akal, syariah, ibadah, dan prinsip moral. Keempat fondasi ini menjadi keyakinan beriman kepada Allah di dalam hati. Akal tidak mampu menggerakkan diri untuk membuktikan keyakinan dan keimanan. Akal pun tak mampu menjaga keimanan, dan memberikan ketenangan diri. Hanya kekuatan hati – perasaan cinta yang mampu menjaga keimanan kepada Allah. Fungsi akal dalam keimanan adalah untuk menerima keyakinan hati.

Sama dengan tidak boleh berpedoman pada akal semata, tidak boleh juga hanya berpedoman pada hati – perasaan. Hendaknya kita ketahui, bahwa ridha Allah hanya bisa digapai dengan cinta di hati dan perilaku keimanan dari akal.

Cinta memberikan motivasi dan menggerakkan, tapi tak bisa menunjukkan arah. Orang yang  hanya bergantung pada fitrah cinta semata, tidak akan mampu membedakan antara cinta yang tulus dan cinta yang telah bercampur nafsu. Kesesatan dan penyimpangan pasti terjadi, karena ia tidak menyadari setan telah masuk mencampuradukkan yang benar dengan yang salah. Hal ini pun terjadi dengan akal yang tidak dijaga baik.

Mencintai Allah dan atau mencintai kekasih, membutuhkan gabungan pemanfatan fungsi hati dan akal. Bila hati dan akal tidak mampu diberikan pendidikan yang berimbang, kedekatan jarak antara kemampuan keduanya harus dijaga. Atau tidak boleh salah satunya memiliki kelemahan paling jauh di bawah.

Berkaitan dengan fungsi hati dan akal,  saya memberikan perenungan bagi kita:

“Cahaya akal dapat memperlihatkanmu dekatnya Allah kepadamu. Cahaya ilmu dapat memperlihatkanmu akan ketiadaanmu karena wujud Allah. Dan cahaya Ilahi dapat memperlihatkanmu akan wujud Allah, bukan ketiadaanmu dan bukan pula wujudmu. Perasaan cintalah yang akan membuatmu merasakan kehadiran wujud Allah… dan mengajakmu melangkah kepada-Nya.”

Akhirnya, cintailah Allah karena kecintaan-Nya kepadamu. Dan cintailah aku karena kecintaan-Nya kepadaku.

Jika hati sebening…. jika akal setajam…, maka diri terhindar dari kepedihan dan kesesatan.

 

————————-

Gambar:  thepowerofintroverts.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s