~ MENGAJAR itu BELAJAR ~


Bisa jadi saya berbeda pemahaman dengan orang lain tentang “Mengajar” dan “Belajar”. Mayoritas orang berpikir bahwa seseorang yang mengajar – atau menyampaikan ilmu kepada orang lain tingkatannya lebih tinggi daripada orang yang belajar – menerima ilmu. Namun menurut pemahaman saya,mengajar dan belajar sama maknanya. Tidak ada yang lebih tinggi daripada satunya. Keduanya bagai dua sisi mata uang, hanya akan bermanfaat atau berguna bila menjadi satu kesatuan yang tak terpisah. Tidak bisa salah satu mendahului lainnya. Harus berjalan bersama dan bersesuaian.

“Mengajar itu belajar”. Yang membedakannya hanyak konteks dan tujuan. Mengajar adalah menyampaikan – memberi, sedangkan belajar adalah menerima. Mengajar di mulai dari lebih dulu mengetahui, sedangkan belajar dari keingintahuan. Ini bicara kesempatan siapa yang lebih dulu tahu. Bukan soal bodoh dan pandai, apalagi mulia dan biasa saja.

Kalau dipikir baik, ‘mengajar’ adalah juga belajar. Belajar menyampaikan, belajar memahami – dan belajar memahamkan, belajar peduli, belajar ingat, belajar menuntun, belajar memudahkan, belajarberpikir, belajar menerima perdebedaan, belajar berbagi, belajar menghargai, dll.

Lalu dari sisi mana orang bisa bilang bahwa pengajar lebih tinggi derajatnya daripada pelajar? Dari sisi mana derajat pengajar lebih mulia daripada pelajar? Seorang guru menjadi mulia bukan karena ilmu yang dimilikinya, tapi dari keberadaan murid yang menerima ilmunya. Seseorang menjadi guru, karena ia penah menjadi murid. Rentetan proses sebab akibat ini memberikan pesan, bahwa belajarlah yang memotivasi dan menjadi sebab mengajar.

Guru dan murid, sama-sama memiliki kemuliaan sesuai dengan status yang disandangnya. Derajat keduanya tidak boleh diperbandingkan. Yang membedakan keduanya bukan kadar ilmu yang dimiliki masing-masing. Sebab ada pengetahuan yang dimiliki murid yang tidak dimiliki – atau diketahui guru. Begitu pun sebaliknya. Bila yang diperbandingkan adalah banyaknya ilmu yang dimiliki, menurutku belum tentu ilmu seorang guru lebih banyak daripada muridnya. Ini kalau bicara aspek kuantitas. Kecuali kalau aspek kekhususan ilmu. Namun demikian, aspek kekhususan pun dimiliki keduanya.

Mengajar itu sejatinya adalah kembali belajar! Atau sederhanyanya, belajar menyampaikan – memberikan sesuatu kepada orang lain. Sebab proses belajar tidak mengenal batas waktu kapan selesai. Tapi proses mengajar memiliki batas waktu selesai.

Kehidupan manusia sebenarnya diisi dengan belajar. Bukan hanya belajar ilmu-ilmu dunia, tapi juga ilmu-ilmu agama. Bila kita cermati baik pesan tersirat dari peristiwa turunnya ayat pertama Al Qur’an (bagian pertama surat Al ‘Alaq) kepada Rasulullah Saw, bahwa malaikat Jibril AS atas perintah Allah Swt, mengajari Rasulullah. Artinya, Muhammad Saw mengemban amanah kerasulan dengan mengedepankan perilaku keimanan mempelajari – belajar. Belajar mencintai Allah Swt, belajar menyampaikan nubuwah kerasulan, belajar menyampaikan pentingnya keimanan manusia kepada Allah Swt, dsb.

Surat Al ‘Alaq memberikan pesan, bahwa jangan kanilmu dunia, ilmu agama pun tujuan utamanya adalah belajar – mempelajarinya. Ibadah dan amal saleh yang kita lakukan, tujuan utamanya adalah untuk belajar mencintai Allah Swt, dan belajar menjadi seorang muslim yang taat. Jadi, apapun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, adalah perilaku belajar. Bukan perilaku mengajar. Sebab fitrah kehidupan manusia adalah terus belajar dalam hal apa saja.

“Mempelajari akhlaq yang baik dan akhlaq yang tercela, agar dapat melakukan akhlaq yang baik dan menghindari akhlaq yang tercela”

 

🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s