SEKALI LAGI tentang MENULIS


Apa yang berkecamuk di benak saya, ketika diminta oleh saudara Andi Saragih untuk mengedit tata bahasa dan struktur kalimat empat tulisan pendek Mnukwar? Ada perasaan bahagia dan sedikit kekwatiran. Bahagia karena diberi kepercayaan oleh teman, kwatir karena saya harus menanggalkan gaya menulis saya.

Kebiasaan saya dalam menulis selama ini mengalir apa adanya. Suka menggunakan gaya bahasa dan struktur kalimat keseharian. Terkadang saya suka memasukkan unsur perasaan. Termasuk tidak patuh pada kaidah-kaidah kebahasaan formal.

Kebiasaan ini bisa jadi akan membentuk semacam tembok kaku yang membatasi objektifitas saya dalam mengedit. Tapi dalam kasus ini, untungnya saya hanya dikasih tugas seperti demikian. Bukan menyangkut editisi dan pesan.

Mungkin terbilang saya berpikiran klasik membangun teknik menulis. Atau kaku melatih beberapa teman untuk menulis. Sebelum banyak bicara teknis menulis, saya akan bertanya pada mereka lebih dulu, “sudakah anda menjadikan membaca buku dan berdiskusi sebagai budaya hidup?” Atau “berapa banyak buku yang telah anda baca dalam seminggu terakhir?”

Tujuan utama dari dua pertanyaan tersebut, bukan menguji kecakapan seseorang dalam membaca. Tidak bermaksud mencari tahu tingkat kepintarannya. Apalagi untuk menyudutkan dan menjatuhkannya. Tetapi untukmenemukan semangat dan kesungguhan mereka dalam berlatih menulis.

Kita tak bisa pungkiri bahwa menulis adalah keahlian– Skill. Bukan talenta atau bakat bawaan yang dibawa seseorang sejak lahir. Olehnya terus berlatih, menjaga ketekunan dan kebulatan tekad, dan suka bertanya dan meminta bantuan orang yang ahli adalah suatu keharusan.

Jujur! Saya belum menghasilkan – atau menerbitkan satupun novel atau buku. Kecuali banyak penggalan dari tulisan-tulisan saya yang digunakan oleh banyak novel dan beberapa buku. Semua hak ciptanya saya berikankepada penulisnya, tanpa sedikit pun mau memaksa mereka memasukkan nama saya dalam novel dan buku karangannya.

Tidak bermaksud menyombongkan diri! Hanya sekedarbertujuan menyemangati dua adik saya di Mnukwar Produkction (Abi dan Hendry), saya beritahu beberapa naskah novel yang telah siap sejak empat tahun lalu sampai sekarang. “Nyanyian Rindu di Batu Nisan, Kunang-Kunang Terakhir, Batas Terpinggir, Sejengkal Tanah Setetes Darah, Wasiat Angin, Sujud yang Tertunda,dan KIYAN – Bercinta dalam Kesunyian.”

Sampai saat ini saya belum mau menawarkannaskah-naskah ini kepada penerbit. Alasannya satu, “Menulis adalah sahabatkarib”. Mungkin ini alasan yang tidak logis – atau alasan yang dibuat-buatmenurut penilaian banyak orang. Tapi inilah saya dalam menulis. Padahal bila dipikir, cukuplah anda punya 10 juta rupiah, anda bisa mencetak puluhan buku. Atau mencari donasi untuk mencetak buku, atau menyerahkan copyright-nya kepada penerbit.

Bicara tentang keuntungan ekonomi dari menulis, saya pernah merasakannya. Beberapa kali saya diminta menulis sebanyak tiga lembar dibayar 1,8 juta rupiah, enam lembar sebesar 3,6 juta rupiah, me-review satu artikel dengan bayaran 2,5 juta rupiah, dan memboboti dialog dalam satu novel dengan bayaran 5 juta rupiah (yang ini saya tolak uangnya). Ini belum bicara tentang artikel-artikel lepas yang bayarannya ratusan ribu, secangkir kopi, sebungkus rokok, dan dibayar dengan buku dan pakaian – sebuah kaos.

Membuang kepentingan ekonomi dan seribu satu macam sanjungan dan penghargaan, saya ingin adik-adik saya paham, bahwa menulis adalah proses “Belajar Berbagi Kebaikan dan Beribadah kepada Tuhan”. Ini cara sederhana untuk mengikat ilmu dan pengetahuan ke dalam diri agar tidak terlupakan dan bermanfaat. Menulis tidak boleh ditempatkan pada ranah berpikir mencari uang dan nama besar.

Sampai saat ini saya masih memegang prinisip, “bahwa menulis adalah sahabat karib saya.” Dengan menulis saya mencurahkan segenap kesedihan, amarah, dan pikiran. Oleh karenanya prinsip orisinalitas pemikiran dan menjauhkan diri dari perilaku suka meng-copypaste tulisan hasil karya orang lain saya buang.

Belajar dari proses lahirnya novel islami “KEYDO” karangan bunda Taty Elmir, diskusi-diskusi saya dengan beliau membuat saya sadar, bahwa menulis adalah proses diri berlatih kejujuran dalam berkarya dan kesederhanaan diri – atau rendah hati terhadap sesama. Kesombongan dan sifat suka berbangga diri harus dibuang jauh. Meskipun kisah novel ini memasukkan beberapa cerita tentang kehidupan pribadi saya, saya memahaminya sebagai sejarah hidup yang harus saya refleksikan.

Kembali kepada teknik penulisan. Apakah ada tips-tips khusus dalam teknik penulisan? Salah satu novelis besar dunia, novelis yang saya kagumi dan hormati, Paulo Coelho, dalam balasan emailnya kepada saya pada September 2005, bahwa tidak ada tips baku berlatih menulis. Yang harus dilatih oleh orang yang mau manulis – atau menjadikan kepenulisan sebagai profesinya adalah: Melatih ketekunan, melatih kemauan, melatih kesadaran, membudayakan membaca (buku dan kehidupan), dan terus menulis dari hal yang paling dipahami dan disukai.

Saya membenarkan dan mengagumi nasehat Paulo Coelho tentang menulis. Saya menangkap pesan pentingnya semangat kemerdekaan dan kesadaran berpikir untuk menulis. Bagaimana seseorang secara merdeka mengabarkan pemikirannya kepada dunia. Bagaimana seorang menghargai dengan baik potensi diri yang dimilikinya.

Pada diskusi kemarin malam di rumah saudara Andi Saragih, ada pernyataan saya yang keluar begitu saja tanpa pikir panjang. Bahwa agar kita menjadi pembicara yang baik, harus dimulai dengan belajar mendengar. Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus mulai dengan kembali belajar membaca (mendengar – melihat – merasakan – dan mengucapkan).

Dunia tulis menulis dengan segala keunikkannya selalu menghadirkan nuansa beragam. mengikuti siapa penulisnya dan apa yang ditulisnya. Segudang perasaan dan pikiran bisa berkecamuk.

Menyangkut tips menulis, meskipun saya kurang suka dengan hal seperti ini. Namun untuk mendukung kedua adik saya mulai menulis, Abi dan Hendry, saya sarankan beberapa hal:

  1. Mulailah menulis dari apa yang paling dipahami dan disukai
  2. Jangan menulis sambil mengedit. Tapi setelah tulisan selesai, di-print – dicetak, baru kemudian diedit. Ada beberapa keunggulan dasar dari mengedit tulisan tidak di dalam komputer
  3. Dalam menulis, tidak ada yang namanya tidakmemiliki ide. Sebab ide sangat banyak berserakan di sekitar kita. Kita sendirilah yang terlalu banyak memilih, sehingga tidak ada yang terpilih. Bila ada ide baru muncul, segeralah menulisnya menjadi tema tulisan. Dan jangan memaksakan diri – atau tergesa-gesa menyelesaikan tulisan tentang tema itu
  4. Seluruh ide yang bermunculan di pikiran, harus ditulis dalam penamaan file di komputer secara terpisah. Masukan hari, tanggal, jam, dan tempat di mana ide-ide itu muncul. Semua ini akan menjadi pengingat (catatan sejarah) bahwa pernah kita berpikir tentang ini dan itu. Bila ada waktu dan kemauan untuk menuliskan dan menyelesaikannya, segeralah tulis – selesaikan
  5. Belajarlah membaca (buku, majalah, kehidupan, dsb). karena dengan membaca akan memperbanyak perbendaharaan kata. Kata-kata adalah darah dalam menulis
  6. Setelah tulisan selesai. Bagikanlah tulisan tersebut kepada orang lain untuk meminta masukan dan koreksi. Atau bisa didahului dengan mendiskusikan tema, alur tulisan, sudut pandang, dan pesannya dengan orang lain
  7. Jangan menulis untuk tujuan mengajari orang lain.Tetapi menulislah untuk tujuan belajar dan beribadah. Seorang penulis harus bijak menerima perbedaan, memiliki kepedulian untuk meningkatkan kapasitas orang lain, membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain, bersikap rendah hati, dan mendedikasikan tulisannya untuk mensyukuri karunia dan nikmat Tuhan
  8. Teruslah menulis menggunakan gaya kita sendiri. Dan jangan pernah berusaha menjadi seperti penulis – orang lain
  9. Terus menulis. Menulis apa saja dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang. Kemudian bagilah tulisan-tulisan itu kepada orang-orang yang terdekat kita
  10. Jujurlah dalam menyampaikan pikiran. Dan jujurlah dalam menghargai hasil karya – tulisan orang lain.

Dari diskusi di malam itu, pembelajaran penting bagi saya adalah menjaga kepercayaan yang mereka berikan. Termasuk saya belajar tentang bagaimana menjelaskan sesuatu kepada orang lain dengan memberikan contoh-contoh praktis.

Banyak orang yang tidak mau menulis suka mengkritik tulisan orang lain. kejadian ini pasti kita jumpai dalam lingkungan kita. Namun hal seperti itu tidak boleh ditanggapi secara emosional. Jadikanlah ia sebagai pemicu semangat. Mari belajar untuk menjadi besar dengan mulai menghasilkan karya-karya kecil orisinil. Karya-karya yang lahir dari kesadaran nurani dan penghargaan terhadap potensi diri.

Banyak genre penulisan yang bisa kita pelajari. Termasuk bila mau, kita bisa menciptakan genre penulisan sendiri. Kuncinya adalah kemauan dan ketekunan.

Menyangkut perpuisian, saya tidak ingin mengajarinya. Karena selain saya bukan penyair, saya memahami puisi sebagai “Suara Azali Manusia”. Saya tidak suka imajinasi kosong tanpa memasukkan realitas kehidupan sebenarnya dalam puisi. Saya tidak suka membaca puisi yang hanya berisikan imajinasi semu dan mimpi-mimpi hampa makna. Karena bila kita membedah antologi-antologi penyair besar dunia, kita akan temukan: Sasaran puisinya jelas, tujuan puisinya lugas, tidak bertele-tele dan liar merayu, berisikan pesan penyadaran dan pembelajaran, dan kaya realitas.

Menulis adalah merangkai kata. Memilih dan menempatkannya secara bersesuaian ataupun berkontradiksi tapi memiliki kesatuan hubungan. Sederhananya menyatukan hal-hal yang berbeda ataupun sama sehingga dapat menyampaikan satu dua pesan utama. Huruf ditambah huruf menjadi kata, kata ditambah kata menjadi kalimat, kalimat ditambah kalimat menjadi paragraf, dan paragraf ditambah paragraf menjadi tulisan utuh. Hiasilah dengan tanda baca.

MARI MERANGKAI KATA…🙂🙂

 

——————————————-

Sumber gambar: http.fwriter.pro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s