KESEJAHTERAAN AKTIFIS LSM: “Fakta Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok”


Ada fenomena umum, mayoritas aktifis LSM adalah orang-orang miskin secara ekonomi dan miskin secara ilmu. Kondisi ini tidak bisa dibantah, karena fakta menunjukkannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktifitas LSM, baik secara individu dan lembaga, belum beranjak ke profesionalitas berpikir dan membangun lembaganya bonafit dan akuntabel.

Kebiasaan berpikir dan bekerja “apa adanya” dan meyakini “idealisme sempit” masih dipertahankan sebagai suatu hal yang biasa. Sedangkan profesinalitas dan kualitas kerja belum dijadikan sebagai kebutuhan dasar dalam kerja-kerja sosial.

Membedah kesejahteraan aktifis LSM, terkadang dalam banyak hal kita akan temukan hal-hal yang miris dan memilukan. Penghargaan ekonomi atas hasil kerjanya tiap bulan, rata-rata kurang dari upah minimum yang layak diterima. Hidupnya mengembara dari rumah kontrakan satu ke yang lain, banyak utang, dan penampilannya seperti orang pesakitan. Kapasitas dirinya jauh dari standar rata-rata, tidak memiliki visi kerja yang jelas dan terukur, skill-nya tidak pernah beranjak naik, dan sulit diajak berkompetisi dalam hal ilmu dan pekerjaan dengan profesional lainnya.

Pada beberapa kasus, sering kita temukan, masyarakat dampinganlah yang menghidupi diri seorang aktifis. Atau kehidupannya kesehariannya seperti judul lagu bang Haji Rhoma, “Gali Lobang Tutup Lobang”. Hidup dengan mengharap kepedulian orang lain. Bekerja dengan meminjam hasil pemikiran orang lain. Hingga benar bila saya bilang, bagaimana anda bisa menolong rakyat dan belajar bersama mereka, bila anda hidup mengemis dan gampang dibodohi.

Dalam banyak kesempatan, saya selalu berpikir, bahwa kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan ilmu adalah kebutuhan aktifis. Aktifis tidak bisa menggerakkan perubahan kebijakan yang pro rakyat, mendorong tumbuhnya kemandirian rakyat, dan menjadi agen transformasi sosial, bila dirinya lemah dalam hal-hal mendasar. Bagaimana rakyat bisa terlibat aktif dalam dinamika perubahan sosial, bila pihak yang berjuang bersamanya kehidupannya lebih butuh ditolong.

Gerakan perjuangan untuk perubahan sosial yang adil dan demokratis, tidak bisa hanya bermodalkan semangat dan idealisme semata. Kemampuan ekonomi, kesadaran politik, dan kapasitas keilmuan – kepakaran, adalah prasyarat utama yang harus dimiliki aktifis. Sebab perubahan tidak bisa dihindari atau dilawan hanya bermodalkan semangat  dan idealisme. Tetapi perubahan hanya bisa dihadapi dengan melakukan perubahan juga.

Tahun 2010 di salah satu tempat bernama Nausus di daerah Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Seorang pastor berkata kepada saya, “bila kau ingin membantu orang lain, pastikan bahwa dirimu memiliki bekal dan kecakapan yang cukup. Jangan membantu orang lain berbekal barang hasil mencuri atau meminta dari orang lain.” Saat menikmati secangkir kopi dan jagung rebus di malam hari, dia berkata lagi, “menolong orang adalah memberi. Bukan meminta dan mengambil.”

Banyak saya temukan aktifis yang bekerja pada lembaga yang hidupnya “Senin Kamis”. Bila ada donor, akan ada kerjaan di masyarakat. Itu berarti ada upah yang akan diterima tiap bulan. Bila tidak ada donor, lembaganya mati suri, dan aktifisnya kerja serabutan demi secangkir kopi dan sebatang rokok.

Menyangkut donor, ketidakmandirian pembiayaan organisasi bukan hanya jadi penyakit LSM di Indonesia. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh dunia. Tapi ada perbedaan mendasar dalam hal ini. Di Eropa dan Amerika, LSM-LSM yang memiliki akuntabilitas dan kapasitas terpercaya bisa bekerja dengan memanfaatkan sumbangan kemasyarakatan negaranya dan donasi individu dan organisasi dermawan (keagamaan, sosial, lingkungan, dan perusahaan). Dan mereka menjaga baik independesi dan kualitas kerjanya. Kondisi ini tidak ada di Indonesia.

Mensiasati tidak sejahterahnya aktifis LSM di Indonesia, saya berpikir sederhana. Bahwa urusan ada lembaga donor dan bantuan pemerintah, sebaiknya menjadi pilihan kedua. Kedua pihak ini tidak bisa dijadikan sebagai sumber “piring makan” aktifis. Karena budaya birokrat kita yang suka mendikte dan mencucuk hidung rakyatnya, koruptif, dan belum lagi berhadapan dengan kepentingan politik donor asing. Olehnya, hanya ada satu jalan menuju kesejahteraan aktifi, yaitu setiap aktifis harus segera meningkatkan kapasitas diri dan profesionalitas kerja.

Hanya dengan kapasitas diri yang mampu bersaing dan kualitas kerja yang terpercaya, maka aspek kesejahteraan pribadi aktifis bisa membaik. Simpulannya, aktifis harus tekun belajar, berlatih, membangun jejaring penguatan kapasitas diri, dan menunjukkan hasil-hasil kerja yang bermutu.

Saya membantah pernyataan umum yang biasa dijadikan pembenaran ketidaksejahteraan aktifis. Yaitu, “bila mau cari uang, LSM bukan tempatnya.” Ini pernyataan yang membodohi diri sendiri. Sekaligus juga penyangkalan terhadap realitas kehidupan. Karena bagaimana bisa kerja, pergi ke kampung, menghadiri pertemuan jaringan di kota lain, bila tidak ada uang.

Saya juga tidak suka dengan beberapa aktifis yang suka mengatakan hal ini, tapi mencuri di belakang. Atau memanfaatkan uang milik orang kampung untuk menghidupi dirinya.

Di beberapa pertemuan jaringan, pernyataan saya tentang kesejahteraan aktifis sangat tidak disukai oleh mayoritas teman-teman. Saya dibilang sebagai orang yang materialistik dan cari uang di kerja-kerja sosial.

Bila dipikir baik, sebenarnya siapa yang materialistik dan suka cari uang? Saya atau mereka? Sebab kesejahteraan kalau kita lihat secara maknawi, tidak memiliki hubungan langsung dengan uang atau materi. Kata ‘Sejahtera’ bermakna kondisi derajat kehidupan yang baik. Atau kondisi kehidupan di mana kapasitas perasaan dan pikiran mampu bekerja baik sesuai fungsinya untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat.

Menyangkut kesejahteraan, yang tidak boleh saya lakukan adalah menjual – atau memperdagangkan kemiskinan dan kebodohan masyarakat. Atau mencuri dari masyarakat dan pihak lain untuk mensejahterahkan diri saya.🙂

Saya memahami kesejahteraan aktifis dalam aspek tercukupinya kebutuhan-kebutuhan dasar hidup: Intelektual, kesehatan, spiritual, hubungan sosial, dan kebutuhan hidup tiap hari (makan, minum, pakaian, dan istirahat).

Saya ingin membuat perbandingan. Ramai LSM menuntut pemerintah meningkatkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat. Menuntut pemerintah untuk menjamin terpenuhinya hak-hak buruh dan dan karyawan. Lalu bagaimana dengan LSM-LSM yang membayar pegawainya di bawah upah menimum provinsi? LSM-LSM yang tidak menyediakan asuransi kesehatan dan kecelakaan untuk pegawainya?

Banyak LSM di Indonesia menuntut transparansi anggaran pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang baik. Lalu bagaimana dengan LSM yang tidak mau keuangan lembaganya di audit oleh auditor publik, dan tidak memiliki sistim manajemen kerja yang baik dan transparan?

Pada beberapa pertemuan, sering kita lihat aktifis pegang tablet, notebook, dan blackberry. Tapi beberapa bulan di pertemuan lain, barang-barang itu sudah dijual untuk keperluan hidup keluarganya.

Kopi Minta, Rokok Minta…, tapi semangatnya menyala-nyala. Bukankah ini sesuatu yang aneh?

Ada juga aktifis yang tidak rasional pikirannya. Berkoar-koar menolak kapitalisme. Tetapi dia menggunakan OS Microsoft dan Apple komputer, dan Minumannya Cocacola dan Pepsycola,

Ada LSM yang mengkampayekan perlingungan hak cipta dan hak atas kekayaan intelektua. Tapi laptopnya menggunakan software bajakan. Bicara tentang kesederhanaan hidup dan kepedulian terhadap keimiskinan sisitimatis yang menimpa rakyat. Tapi pertemuannya di hotel-hotel berbintang, mabuk-mabukkan dengan ditemani gadis-gadis cantik di diskotik.

Kondisi di atas terkadang membuat saya bingung. Menurut saya, aktifis harus rasional menyikapi hidupnya. Tidak perlu menetapkan idialisme setingga langit, tapi berperilaku seperti kutu di bawah tanah.

Saya hanya bisa bersyukur bekerja pada LSM lokal yang mapan secara manajemen program – keuangan – dan ketenagaan, membayar penuh hak-hak saya sebagai karyawan, dan memberikan saya tunjangan hari tua. Kondisi mapan ini tidak bisa membuat saya tidur nyenyak dan sengaja melupakan teman-teman seprofesi.

Banyak teman-teman aktifis berpikir untuk membangun kemandirian lembaganya. Saya malah berpikir terbalik. Bahwa yang harus dibangun lebih dulu adalah kemandirian hidup pribadi orang yang bekerja dalam lembaga. Karena lembaga adalah manifestasi kehidupan dan pemikiran personilnya. Bukan sebaliknya.

Strategi menciptakan sumber pendanaan mandiri lembaga untuk keberlangsungan kerja-kerja sosial sudah banyak digalakkan aktifis. Tapi banyak juga yang mati. Modalnya terbuang sia-sia.

Fundraising adalah strategi utama yang hendak di dorong. Tujuannya untuk menghimpun danar bagi keberlajutan kerja organisasi dan kesejahteraan pegawai. Tidak berniat menyalahkan strategi ini (karena saya mendukungnya), kecuali saya berpikir, harus dimulai dengan peningkatan kualitas individu untuk menjalankannya. Aspek mentalitas dan profesional wirausaha harus dibangun lebih dulu dalam diri pribadi aktifis. Agar aktifis mampu membedakan, antara tujuan kerja-kerja sosial dan kepentingan kerja-kerja murni bisnis. Termasuk memisahkan struktur dan sistim manajemennya tidak jadi satu dengan lembaga sosial.

Menjadi hal lucu, bila idiom “Pemberdayaan Masyarakat” hanya di kampanyekan ke luar, tapi tidak melembaga untuk memberdayakan ke dalam – untuk sesama aktifis. Dan bentuk pengkhianatan, bila keadilan dan kesejahteraan masyarakat di dengungkan lantang, tapi keadilan dan kesejahteraan untuk aktifis dibiarkan bisu.

Kenapa harus malu atau takut, bila kita harus menggunakan jas dan dasi, atau mengendarai mercy. Akhirnya! Saya memiliki kapasitas diri, dan saya punya hasil kerja yang berkualitas. Oleh karenanya, saya berhak menikmati hidup sejahtera seperti orang lain.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s