Tidak Baik Suka Menyebut “KEKURANGAN DIRI” Sendiri


Wujud kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaan manusia. Atau ketidaksempurnaan manusialah yang membuat manusia sempurna. Manusia lebih sempurna daripada malaikat, bila ia berperilaku sesuai nilai dan norma Ilahiyah. Tapi bisa menjadi lebih hina daripada iblis, bila ia berperilaku buruk.

Suka menyebut kekurangan – kelemahan diri sendiri adalah sifat yang harus dihindari. Apalagi bila menyebutnya bertujuan untuk memperoleh simpatik orang lain. Atau menunjukkan kepada orang lain bahwa anda orang yang rendah hati dan sederhana. Sifat ini sama buruknya dengan sifat sombong atau suka menunjukkan – pamer kelebihan diri.

Kesederhanaan diri (sifat, perilaku dan penampilan) dalam Islam dikenal dengan nama Tawadhu’. Dasar tawadhu adalah kesadaran sebagai hamba Allah dan tujuannya untuk memuliakan dan mengagungkan Allah. Sifat Tawdhu’ dibangun dengan kesadaran diri telah memperoleh dan memanfaatkan nikmat, karunia, dan rahmat Allah; Sifat Tawdhu’ dipelihara dengan memaafkatan nikmat, karunia, dan rahmat Allah untuk kemaslahatan; dan Sifat Tawdhu’ niatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan dan mengharapkan ridha Ilahi.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri sama dengan menghinakan diri di hadapan orang lain. Islam sangat melarang umatnya berlaku rendah diri di hadapan sesama manusia. Karena Allah telah memuliakan manusia dari ciptaan-Nya yang lain, menjadikan umat Islam sebagai umat akhir jaman yang terbaik, Allah telah mencukupkan nikmat bagi umat Islam, dan Allah telah meridhai Islam sebagai agama dan pedoman hidup untuk memperbaiki hidup dan menyempurnakan akhlak.

Sikap Rendah diri yang diperintahkan Islam adalah merendahkan diri di hadapan Allah. Dan bukan merendahkan diri di hadapan sesama manusia atau pun merendahkan diri dengan niat selain karena Allah.

Merendahkan diri semata-mata karena Allah telah disinggung oleh Rasulullah dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:  “… serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).”

Apapun alasannya, sebaiknya kita menghindari sifat rendah diri dan kemudian memupuk sifat rendah hati – Tawadhu. Tidak menyebut kekurangan diri sendiri, bukan berarti kita sombong. Yang benar adalah kita secara jujur menampilkan apa yang ada pada diri kita kepada orang lain. Urusan selanjutnya, biarlah orang lain yang menilai. Kalau yang kita tampilkan baik dan bermanfaat, maka patut disyukuri. Tetapi bila merugikan orang lain, kita pun harus meminta maaf. Kalau yang kita tampilkan tidak sesuai dengan harapan orang lain, mintalah nasehat dan petunjuk darinya, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikinya.

Terkadang orang suka menyebut-nyebut kelemahan-kelemahan dirinya agar dinilai tidak sombong. Niat sudah beda. Padahal sebenarnya ia memang sombong. Sebab kelemahan-kelemahan itu di sampaikannya dengan memilih menggunakan bahasa verbal, bukan perilaku nyata.  Bila dia berlaku jujur kepada diri sendiri, dia akan sadar bahwa kelebihan atau potensi kebaikan dan keunggulan dirinya lebih banyak dari kelemahan-kelemahan dirinya yang ia sebutkan.

Ada anggapan populis yang berbunyi demikian, “kita harus menyadari kekurangan diri kita, agar kita bisa belajar memperbaikinya.” Menyadari itu itu bukan berarti menyebutkannya satu persatu secara lisan – tulisan agar diketahui orang lain. Tetapi menyadari itu adalah kesadaran pribadi untuk bersikap rendah hati (Tawadhu) dan kemudian belajar menggunakan potensi diri yang dikaruniakan Allah untuk memperbaikinya. Sekali lagi, niatnya semata-mata karena Allah.

Banyak saya temukan dalam urusan percintaan, seorang gadis menunjukkan daftar panjang kelemahan-kelemahan dirinya kepada kekasihnya. Contoynya: Aku tidak cantik seperti dia, aku tidak pandai seperti dia, aku orang yang tak punya, aku bukan wanita sholeha, keluargaku miskin tidak seperti keluarganya yang kaya, dan seribu satu lainnya. Kemudian daftar panjang itu diakhiri dengan pernyataan, “semoga kamu bisa menerima segala kekurangan saya.”

Kalau saya pribadi, perempuan seperti ini tidak akan saya terima – atau mencintainya sebagai kekasih. Sebab bagaimana bisa kita membangun cinta yang mendewasakan pribadi masing-masing, bila kita memasuki cinta dengan mengedepankan kelemahan –  kekurangan diri. Padahal cinta adalah kekuatan dan cinta adalah sifat terpuji. Karenanya cinta adalah kekuatan dahsyat menggerakkan kehidupan dan cinta mengadung sifat-sifat terpuji, maka ia hanya bisa dibangun dan dipelihara dengan kekuatan dan kemampuan diri.

Bila kita cermati kasus-kasus demikian di dunia maya, seluruh kelemahan yang ditujukkan adalah aspek materi dan aspek fisik tubuh. Artinya, semua ini adalah pembohongan yang dilakukan untuk menarik perhatian dan mencari simpati orang lain. Atau sengaja disampaikan untuk menciptakan kondisi perbandingan, agar ada tanggapan balik dan penilaian dari orang lain. Padahal bila ia telah sadar bahwa dirinya bodoh dan tidak cantik secara fisik, maka rasionalisasi pikiran yang harus dia lakukan adalah tekun belajar dan mempercantik akhlaknya.

Selama kelemahan-kelemahan diri anda hanya menjadi sebutan lisan dan dipertontonkan secara verbal kepada orang lain, maka ini  namanya pengkhianatan terhadap hakikat diri sendiri. Secara sengaja anda telah menciptakan pra-kondisi menuju sifat mengingkari nikmat dan karunia Tuhan.

Islam tidak menganjurkan hal seperti itu dilakukan umatnya. Yang Islam sarankan adalah umatnya banyak menyebut kelebihan-kelebihan dirinya dengan mengatakan, “Semua kelebihan yang aku miliki berasal dari Allah. Tuhanku pencipta dan pemiliknya.” Pernyataan ini adalah bentuk verbal sifat rendah hati kepada sesama manusia dan bentuk merendahkan diri kepada Allah Allah.

Kita tidak perlu menyebut satu persatu kelemahan dan ketidaksempurnaan diri kita dalam daftar panjang. Tanpa anda menyebutnya pun, orang lain sudah tahu, bahwa sebagai manusia anda pasti punya kelemahan dan kekurangan diri. Sebab kelemahan diri yang terlihat dari sifat dan perilaku yang tampak, adalah kebenaran. Tetapi yang disampaikan secara verbal, pasti memiliki alasan dan tujuan yang bisa jadi menyimpang. Atau memiliki niat bukan karena Allah.

Gunakanlah sebanyak mungkin nikmat dari karunia yang telah anda terima dari Allah untuk menutupi sedikit kelemahan anda. Tapi hendaknya anda ingat fitrah anda sebagai manusia. Bahwa ketika satu kelemahan diri berhasil anda tutupi, akan menyebabkan dua tiga kelemahan lain dalam diri anda terkuak. Itulah kelamahan manusia yang harus anda sadari sendiri dan tidak perlu disebutkan kepada orang lain.

Akhirnya! Ketika anda telah membiasakan diri suka menyebut-nyebut aib anda sendiri (kelemahan dan kekurangan), maka anda telah belajar membuka pikiran dan hati anda untuk melihat, mendengar, dan menyebut aib-aib orang lain.  Jadi, tidak ada gunanya anda memiliki sifat suka menyebut-nyebut kelemahan diri anda.

Kesombongan adalah bentuk tidak syukur nikmat dan suka merendahkan diri adalah juga bentuk tidak syukur nikmat.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

(Tulisan ini dari diskusi pendek bersama si Adik di Facebook).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s