MENULIS adalah Mengikat Ilmu ke dalam Diri


Setiap orang yang suka menulis atau penulis pasti memiliki alasan tersendiri kenapa ia menulis. Saya pribadi menulis karena termotivasi oleh pesan almarhum ayah saya. Kata beliau, “Ikatlah ilmu ke dalam dirimu dengan menuliskannya kembali. Sebab ilmu yang tidak diikat atau hanya dihafalkan saja, bisa jadi suatu saat akan hilang dan terlupakan.”

Bagi orang lain, pasti memiliki alasan dan tujuan yang berbeda. Tetapi sejatinya, setiap orang yang menulis memiliki alasan yang membenarkannya. Apapun alasannya, menulis dan tulisan adalah media belajar dan menyampaikan ilmu – mengajar. Memang demikian, karena kehidupan senantiasa terisi dengan dua hal itu.

Setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang kemudian lewat proses berpikir yang baik dan terstruktur akan menjadi ilmu. Pada tahapan lebih lanjut, pengetahuan itu akan dijadikan sebagai ilmu dan terapan ilmu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seluruh yang menyangkut pengalaman dan pengetahuan, ataupun ilmu yang diperoleh, sangat baik bila dituliskan kembali. Sudah tentu menuliskannya menurut gaya bahasa kita sendiri. Menuliskannya sesuai pemahaman kita tentangnya. Dan kemudian melengkapinya dengan memasukkan referensi yang sesuai dan dibutuhkan.

Sungguh sayang, bila semua pengalaman hidup dan apa yang kita ketahui selama hidup tidak kita dokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sejarah hidup kita, kitalah yang berhak menuliskannya. Seluruh yang kita tahu dan pahami, kitalah yang lebih pantas menuliskannya. Tulisan tentang pengalaman, ilmu yang bermanfaat, dam kemudian membagikannya kepada orang lain adalah ibadah.

Coba kita banyangkan saja! Andai orang-orang cerdik pandai tidak menulis buku atau menulis pengetahuan mereka. Bila situasi ini terjadi, maka kita tidak akan tahu banyak hal yang tidak ada di sekitar kita. Atau tidak memahami sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh kita.

Bagi saya, menulis adalah ibadah kepada Tuhan. Menulis adalah lebih memahamkan diri tentang suatu hal yang sudah kita tahu. Atau menulis adalah bentuk menyukuri nikmat dan karunia ilmu yang telah dianugerahkan Tuhan.

Saya beragama Islam, anda agama apa? Apa yang kita tahu tentang kitab suci kita masing-masing, bila kitab suci kita (Cth, al-Qur’an) tidak ditulis. Bisa jadi pelafalan dan jumlah huruf, kata, kalimat, dan tajwidnya akan berubah karena perbedaan kultur orang yang membacanya. Tapi dengan ditulisnya al-Qur’an, maka memudahkan bagi siapa saja untuk mempelajarinya. Termasuk memahami dan menuliskan tafsirnya.

Lalu bagaimana dengan temuan-temuan besar yang menghasilkan perubahan mendasar bagi kehidupan manusia. Andai saja para ilmuwan dan penemu itu tidak menuliskan hasil riset dan proses risetnya, pasti kita tidak akan pernah tahu tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Memang benar bahwa awal mula belajar adalah melihat, mendengar, merenung – berpikir dan bertanya. Keempat proses ini dikenal dengan nama membaca. Namun dalam belajar, membaca saja belum lengkap. Keempat proses ini harus dituliskan dengan baik agar bisa menjadi bahan bacaan bagi diri sendiri dan orang lain di kemudian hari.

Ada satu pernyataan yang pernah saya temukan. Bunyinya, “Orang yang tekun menulis sudah tentu dia orang yang tekun membaca (belajar).” Dan lainnya, “Orang yang suka menulis adalah orang pandai, dan orang yang lebih suka berbicara belum tentu pandai.”

Mengenai kedua pernyataan di atas, saya tidak ingin kita terjebak dalam mengartikan pesannya. Saya pun tidak ingin kita mengartikannya secara tekstual. Ada pesan penting dari kedua pernyataan itu: Menulis dan membaca harus dipahami bersama sebagai proses belajar yang sesungguhnya; dan bahwa dibandingkan bahasa lisan, bahasa tulisan dalam banyak hal lebih memiliki keunggulan dan manfaat.

Bila anda adalah salah satu teman saya di Facebook, pasti anda bisa lihat, dalam satu hari saya bisa menulis hampir sepuluh dan belasan status. Saya tidak peduli apa kata orang tentang ini. Mereka mau menilai saya apa saja, itu urusan mereka dan saya tidak akan pernah menanggapinya. Karena bagi saya, setiap ide dan gagasan yang saat itu muncul di benak saya, pasti akan saya tulis.

Saya berpikir sederhana, bahwa semua yang terlintas dalam kepala saya (kebaikan dan ilmu) adalah anugerah dari Tuhan. Olehnya saya harus menuliskannya agar tidak lupa, dan membagikan – mengabarkannya kepada orang lain. Inilah bentuk syukur saya yang paling sederhana tentang ide dan gagasan. Sebab saya tidak mampu bayangkan, bila suatu saat Allah membuat saya tidak mampu berpikir dan mematikan kemauan saya menuliskan hasil pemikiran saya.

“Apa yang saya pikir atau apa yang terlintas di benak saya, itulah yang saya tulis. Sebab saya harus berbeda dengan orang lain.”
🙂🙂

2 thoughts on “MENULIS adalah Mengikat Ilmu ke dalam Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s