PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL: Percikan Filsafat Pendidikan Islami


 

Bissmillahirrahmaanirrahiim

Sahabat yang budiman. Pasti anda mengenal siapa Muhammad Iqbal (1877 – 1938). Nama Iqbal telah menjadi legenda di negerinya, Pakistan dan India. Beliau seorang pujangga, filsuf, dan politisi terkemuka di negerinya. Beliau tidak beda dengan Jalaluddin Rumi dalam berpuisi. Bila Rumi menghiasi karya-karyanya dengan nilai-nilai tauhid dan kecintaan kepada Sang Pemilik Cinta, maka Iqbal dalam syair-syairnya  menekankan pada aspek pendidikan akhlak dan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Tidak berniat menggurui anda sekalian, saya ingin membagi percikan mutiara filsafat Iqbal tentang pendidikan. Buah pemikiran Iqbal yang berasal dari bukunya, “Iqbal’s Education Philosophy”.  Sebuah buku tua terbitan tahun 1938 di lahore.

Dari banyak karyanya, terdapat tiga karya besarnya yang menempatkan Iqbal sekelas dengan filsuf-filful besar dunia berpikiran modern. Ketiganya adalah Matsanawi “Asrar-i-Khudi”, “Payam-i-Mashriq”, dan “Lectures on the Reconstruction of Religion Thought in Islam”.

Sebelum tulisan sederhana ini saya lanjutkan, saya pikir pembaca perlu meresapi kedalaman makna dan ketegasan pesan dalam salah satu puisinya Iqbal dalam bukunya “Asrar-i-Khudi”.

“Karena kehidupan di Alam Semesta terangkat dari kekuatan diri. Hidup menjadi sebanding kekuatan ini! Sekiranya setitik air terserapi sadar diri, kadarnya tiada harga. Akan meningkat setingkat mutiara! Pabila rerumputan menemukan daya tumbuh dalam dirinya, tangkainya akan mengembang seluas taman. Hanya karena bumi mewujud kukuh dan tangguh, tertawan bulan dalam kitarannya nan abadi. Adapun surya ditakdirkan lebih jaya dalam daya, dan bumi pun terpukau terpikat sorotan matanya! Sekiranya saja Hidup mampu menimba daya, dari lubuk dirinya sendiri, Alunan Hayat ‘kan meluas melaut samudera!”

Pesan tunggal yang dikemukakan Iqbal dalam puisi ini, bahwa dari keseluruhan makhluk hidup, hanya manusia yang mampu mencapai tingkat kedirian tertinggi. Itu terjadi karena manusia sadar akan realitas dirinya.

Dalam pandangan Iqbal, pendidikan harus menciptakan seorang muslim yang mampu menterjemahkan konsepsi tata kehidupan sosial yang progresif dan manusiawi. Pendidikan tidak boleh menjadikan seseorang egois dan terasing dengan lingkungan sosialnya. Seorang muslim harus menyelaraskan ilmu dan kapasitas dirinya berdasarkan tempat dan waktu di mana ia hidup. Dimaksudkan untuk menghindarkan dirinya dari sifat dan perilaku yang tidak bermanfaat kebaikan, merusak, dan tidak adil bagi orang lain.

Oleh karenanya, Iqbal mengundang setiap muslim terpelajar untuk mengambil kendali dan memimpin perubahan sosial yang berkeadilan. Menurut pandangannya, muslim terpelajar yang menjadi pemimpin harus menata kembali tata kehidupan sosial pada masyarakatnya. Yaitu tata kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dan mengusahakan agar nilai-nilai itu berlaku universal.

Pendidikan dalam bingkai islami, harus menunjukkan ciri-cirinya. Harus berisikan ide-ide kreatif dan cemerlang untuk memperbaiki dunia dan menata keadilan bagi semua orang. Tak boleh seorang muslim menyembunyikan nilai-nilai Islam dari masyarakat di mana ia hidup.

Mengenai semangat ini, Iqbal menuliskan dalam puisinya:

“Telah kau reguk minuman dari guci Khalil, darahmu mendidih karena anggurnya! Tebaskanlah pedang “Laa ilaaha Illa Allah”, pada tonggak ketidakadilan, yang menyamar sebagai kebenaran!”

Bagaimana mengkomunikasikan nilai-nilai Islami kepada umat Islam dan umat lain? Hanya dengan pendidikan yang Islami, maka nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran Ilahiyah bisa tergali dan disampaikan. Karena pendidikan dalam Islam ditujukan agar setiap orang mengenal dirinya, mengenal sesamanya, mengenal lingkungan di mana ia hidup, dan mengenal Tuhannya.

Pendidikan harus dijadikan sebagai wahana untuk memerdekakan semua orang. Pendidikan harus menyediakan ruang yang luas tapi bertanggungjawab agar lahir jiwa semangat, cita-cita mulia, dan inspirasi besar.

Menurut Iqbal, dasar pendidikan yang baik adalah mendidik pelajar agar memiliki sifat dinamis dan kreatif. Memberikan keleluasaan yang terukur kepada anak didik agar bebas berpikir dan bergerak. Agar kreatifitasnya tumbuh dan tersalurkan dengan baik. Pendidikan harus menciptakan manusia yang mampu menguasai seni dan sains. Perpaduan antara kecerdasan akal, kebersihan hati, dan ketangguhan fisik.

Singkat kata, pendidikan demikian disebut Iqbal sebagai pendidikan yang diilhami oleh suatu keyakinan optimis tentang tujuan akhir hidup manusia.

Menyangkut ilmu pengetahuan, Iqbal berpikiran, bahwa dengan ilmu manusia tidak hanya mampu menguasai alam. Tetapi juga mampu mengawasi dan mengendalikan metoda-metoda ilmiah yang bisa merusak alam. Dengan ilmu pengetahuan seharusnya manusia mampu menjelajahi dan menta kembali dunianya. Oleh sebabnya, sikap dan perilaku ilmiah tidak boleh semu dan skeptis.

Sejarah pengelolaan alam yang dilakukan manusia harus dijadikan pelajaran. Karena sistim nilai yang hidup saat ini memiliki keterkaitan dengan sistim nilai masa lalu. Pancaran sejarah menciptakan kesinambungan kepada kehidupan dan kebudayaan masyarakat masa kini.

Menyangkut ini, Iqbal menyinggungnya dalam puisinya, “Bila ia mengabaikan sejarah masa lalu, ke dalam ketiadaanlah ia akan terjerat.”

Pendidikan tidak boleh menciptakan pertentangan antara nilai ilmu pengetahuan dengan nilai agama. Antitesis tujuan pendidikan tidak boleh menghalangi penerapan nilai-nilai agama dalam penerapan ilmu pengetahuan. Karena pendidikan dan agama adalah satu kesatuan pembentuk sikap dan mentalitas manusia.

Iqbal mengakui kualitas dan makna intelektual dari ilmu pengetahuan. Termasuk konsekwensi yang diakibatkannya. Di lain pihak ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan memiliki batasan metoda. Terutama dalam menangkap dan memahami kenyataan. Sehingga ia berkata, “pengetahuan saja tidak mampu memberikan gambaran yang penuh – menyeluruh dan memuaskan kita mengenai dunia realitas.” Nilai-nilai agama diperlukan untuk melengkapi keyakinan akan dunia realitas.

Kekuatan nilai-nilai agama dalam pendidikan, terletak pada kemampuannya mengolah dan memadukan pengalaman-pengalaman insani. Oleh karenanya, nilai-nilai agama harus menduduki posisi pokok dalam penerapan ilmu pengetahuan.

Dalam pendidikan, pendidikan agama tidak boleh di nomor duakan. Agama harus menjadi – mendapatkan tempat utama dalam sistim pendidikan suatu bangsa. Tidak boleh ada pemahaman pendidikan yang mempertentangkan agama dengan ilmu pengetahuan. Sebab agama merupakan sumber vital idealisme, kasih sayang manusia yang intuitif. Dengan berbekal kehidupan religiusnya, manusia akan menggunakan segala dayanya untuk kebaikan.

Dalam bukunya “Rumuz-i-Bekhudi” Iqbal menulis puisinya tentang itu:

“Bagi mereka yang tak beriman, pena dan pedang seperti tiada gunanya. Apabila tiada imam, kayu dan besi kehilangan nilainya.”

Dalam “Lectures”-nya Iqbal menyatakan sebagai berikut:

“Pengalaman membuktikan, bahwa kebenaran yang dihasilkan oleh akal budi saja tidak mampu untuk menggugah kobaran semangat hidup yang dibangkitkan oleh keyakinan menggelora dan mendalam dalam pribadi manusia. Itulah sebabnya mengapa fikiran yang murni hanya sedikit mempengaruhi manusia. Sedangkan – sebaliknya – agama selalu berhasil meningkatkan martaba individu dan mampu mengubah masyarakat secara keseluruhan.”

Menurut Iqbal, agama mampu menyiapkan dan membentuk manusia modern. Sistim pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai agama sebagai pembentuk sikap dan perilaku, akan meningkatkan rasa percaya diri manusia. Sudah tentu maksud Iqbal di sini, ajaran-ajaran agama tidak dipahami sebagai dogma dan ritual belaka. Agama harus dipahami sebagai jiwa semangat berbuat kebaikan dan kehidupan spiritual yang dinamis dan aplikatif. Peribadatan invidu tidak berdiri sendiri dan terlepas hubungannya dengan tanggungjawab sosial dan kesadaran kemanusiaan.

Iqbal menilai, bahwa kehidupan dewasa ini menciptakan struktur sosial yang dilanda jiwa persaingan. Suatu persaingan yang telah melewati batas-batas kemanusiaan. Oleh karenanya, penyelenggaraan pendidikan harus dapat membangkitkan suatu pandangan segar dalam diri manusia. Pandangan tentang asal mula, kejadian – dan akhir manusia di masa depan.

Iqbal memimpikan suatu pendidikan yang berjiwa agama. Karena ia risau dengan pendidikan agama yang tidak melibatkan atau menujukkan perhatian kepada masalah-masalah sosial, politik, ilmiah, dan filsafat. Ia tidak setuju dengan pendidikan agama dewasa ini yang mengekang kreatifitas individu dan menghancurkan pengembangan intelektual dan spiritual manusia.

Olehnya, dalam bukunya “Bal-i-Jibril” ia menulis puisi sebagai berikut:

“Ada dua corak penghayatan agama; Yang pertama, meninggikan nama Ilahi di keluasan langit dan bumi. Inilah yang dimanifestasikan insan yang sadar diri dan dijiwai bahana Ilahi. Yang kedua: hanya dalam bentuk memuja-muji, sambil tak henti menghitung tasbih. Lelap mengendap di dekat bumi. Inilah agamanya para pendeta, agamanya tetumbuhan dan batuan!”

Iqbal menghendaki corak pendidikan agama seperti yang pertama. Yaitu pendidikan agama yang menumbuhkan jiwa semangat menjelajahi samudera ilmu pengetahuan di seluruh alam sambil mengumandangkan kesucian Asma Ilahi.

Lazimnya awal mula belajar adalah dengan perenungan. Maka Iqbal bermaksud mempersiapkan anak didik untuk hidup bersesuaian dalam proses kehidupan. Yaitu suatu perenungan aktif. Karena kehidupan digerakkan oleh gairah hidup yang meluap dengan aktivitas.

Iqbal menolak pendidikan yang ditujukan hanya sekedar mengejar emansipasi dari berbagai keterbatasan individualitas. Pendidikan harus bisa menjelaskan keberadaan diri, mempertegas dan mempertajam pemikiran, dan membina kreatifitas keyakinan. Bahwa kehidupan dan dunia bukanlah sesuatu yang hanya dilihat dan dikenal melalui berbagai konsep pandangan tertentu saja. Melainkan sesuatu yang harus diciptakan dan dibuat kembali melalu kegiatan dan aktivitas yang berkesinambungan.

Pendidikan harus menempatlan anak didik pada konsepsi manusia yang sebenarnya. Sebagai makhluk aktif yang mampu bertindak, mampu menentukan maksud dan tujuannya. Memiliki kemampuan untuk mencoba, mengembangkan dan meningkatkan individualitasnya secara kreatif. Oleh karenanya setiap pendidik harus mengakui dan mengukuhkan fitrah manusia yang dimiliki anak didiknya.

Pendidik harus mampu mencaritahu dan mempetakan baik potensi anak didiknya. Harus mampu membedakan secara tegas dua hal utama dalam pribadi anak didiknya: “Diri yang efisien” dengan “Diri yang afektif”. Karena kedua hal ini memiliki hubungan maksud dan penting dalam pendidikan.

Peribadatan dan pendidikan. Dalam pandangan Iqbal, beribadah ditafsirkan sebagai salah satu metoda paling efektif untuk menjalin komunikasi dengan diri yang sesungguhnya – dan dengan Tuhan. Dengan beribadah seseorang akan membentuk kepribadiannya. Akan menjadikan dirinya menggerakkan potensi intelektualnya untuk mengamati dan menghayati alam semesta. Ibadah adalah pencerahan ruhani, olehnya ia menjadi vital dalam pendidikan.

Penjelasan makna ibadah menurut Iqbal. Beribadah merupakan pernyataan dari dambaan insani yang dalam akan suatu sambutan ketenangan yang mencekam dan menggelisahkan dari alam semesta. Di mana diri mengukuhkan kesejatiannya dan melenyapkan egonya. Diri menjadi sadar bahwa hakikatnya ia dinamis dalam kehidupan semesta.

Pemikiran Iqbal di atas menegaskan pesan filosofisnya, bahwa pendidikan harus menyediakan ruang bagi manusia untuk menjalin pertautan sedalam-dalamnya dengan Alam Semesta dan Yang Maha Mutlak – Tuhan. Pada pertautan yang tenang, maka segala tindakan lahiriah terhenti sejenak. Saat itu pengaruh seni dari alam semesta masuk merembesi diri manusia. Lalu lahirlah ketenangan, keseimbangan, keserasian, dan kedamaian.

Akhirnya Iqbal berpendapat, bahwa pendidikan hendaknya diselenggarakan dan dibimbing dengan semangat pembebasan dan berpandangan luas. Dengannya diharapkan generasi muda dapat berkembang ke arah suatu “Peri Kemanusiaan” yang luas lingkupnya. Dan menghambat tumbuhnya loyalitas sempit dalam berpolitik, rasialis, dan kungkungan sektoral dan geografis yang serba picik.

Iqbal beranggapan, bahwa diri setiap insan, terlepas dari latar belakang apapun yang disandangnya, merupakan suatu pencerminan Ilahi yang imperatif. Setiap insan memiliki pancaran cahaya Ilahi dalam dirinya. Dengan Cahaya Ilahi dalam dirinya, seseorang sanggup membina dunia yang layak huni bagi manusia.

Dalam untaian sanjak di bukunya “Bal-i-Jibril” ia menulis:

“Dunia ini penuh polusi karena kacauan warna dan kicauan suara. Dunia ini, di mana kematian merajalela. Dunia ini, yang penuh pengamatan semu, bergelimang dalam suara sumbang. Dunia ini, di mana arti hidup hanyalah makan dan minum. Dunia ini, wahai pengembara, barulah lintasan pertama dalam perjalanan diri. Dunia ini, sekali-kali bukan tujuanmu!”

Iqbal menggambarkan kekacaubalauan kehidupan dunia akibat pertarungan kepentingan materi dan identitas diri dan ketidakjelasan manusia mengarunginya. Ia ingin pendidikan bisa menjadi jalan keluar untuk menata kehidupan.

Lanjutan dari sanjak itu:

“Bagi jiwa mencipta yang tak pernah hampa! Semua tak sabar menanti kelanjutanmu yang gemilang, serta ketajaman jiwamu dan kecermatan tindakanmu!  Mengapa roda waktu berputar terus? Agar egomu membentang jelas di hadapanmu! Engkau penakluk dunia baik dan buruk, tak kuasa aku merentangkan nasibmu di hadapanmu! Hatiku benderang mandi cahaya inspirasi, namun kekuatan kata tak mampu menari seirama! Sekiranya saja aku melangkah laju seujung rambut, niscaya sinar yang semarak ‘kan membakar, sayapku yang sedang mengawang membumbung tinggi!”

Dewasa ini dunia mengarungi masa penuh penderitaan spiritual. Manusia tidak hanya kehilangan kesabaran dan daya tahan, tapi juga pegangannya yang azasi. Ilmu pengetahuan tidak memberikan keuntungan yang mulia kepada dunia. Tetapi malah merugikan dan mengutuk dunia.

Wassalam…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s