SABINA, “Pesan Cinta di Kesunyian Hutan”


“Sabina! Kebahagiaan tidak terdapat dalam kesempurnaan, Sorak sorai, dan kepura-puraan. Apalagi dari kemenangan, penindasan, dan penaklukan. Kebahagiaan lahir dari cinta yang tulus dinyatakan…” (Kaetaro. Kalaili – Tanah Moy, 16 Maret 2014).

 

Pada setiap jengkal tanah yang di atasnya ada kehidupan, pasti tumbuh harapan-harapan baru. Melalui bergantinya waktu, cinta menjadi mulia, menjulang tinggi menyapa langit untuk memangabarkan kehidupan. Bukan dari kumpulan harta atau sekolah tinggi. Bukan pula dari kemewahan dan kekuasaan. Cinta senantiasa menghidupkan harapan, karena dipelihara oleh ketulusan, kesadaran nurani, kerja keras, dan kepedulian kepada sesama.

Demi cinta yang menggerakkan kehidupan. Demi kehidupan yang menjelmakan wujud sejati cinta. Tak satupun gerak dan perubahan hidup manusia dapat terjadi tanpa sebab dari cinta. Jangankan kehidupan, kematian sekalipun terjadi karena kuatnya dorongan hasrat cinta.

Sabina! Pandanglah hijau daun yang menggantung manja pada ujung ranting-ranting pohon. Hiruplah aroma wangi hutan, biarkan wanginya menjelajahi seluruh ruang rasamu. Rasakan kedamaian yang di bawanya. Yakinlah, bahwa seluruh gerak kehidupan dan perubahan yang dikehendaki Sang Semesta lahir dari cinta-Nya.

Bila kau masuk dan berteduh di bawa kerindangan pepohonan. Atau menatap lembut pepohonan yang menjulang tinggi menggapai awan. Atau menggerakan kakimu bergembira di bawah dahan-dahan kekar ini, kedamaian pasti kau rasakan. Hingga nanti lidahmu kelu berkata, karena kita begitu kecil dalam genggaman alam.

Aku memanggilmu, Sabina. Dengarlah teriakkan lantangku. Teriakkan yang membangunkan penghuni langit. Teriakkan yang menggugah penduduk bumi. Sebuah teriakkan harapan yang disoraki desau angin dan gemericik air. Bahwa selama cinta masih setia menempati hati kita, maka kemanusiaan dan kepedulian adalah keniscayaan.

Aku telah menemukan cinta di dalam hutan. Pada kulit tanah lembab dan hijau daun yang menyapaku, cinta kemanusiaanku lahir bersama peluh dan air mata syukur. Aku ingin memelukmu erat, membawamu menapaki pucuk-pucuk pohon tertinggi. Lihatlah sekitar kita, Sabina. Lihatlah seluruh kehidupan yang tercipta dengan segala perbedaan.

Adakah cinta di hatimu, Sabina? Tajamkan telingamu, dengarlah suara-suara merdu yang disampaikan dedaunan, sungai, burung, hingga kabut yang menutupi puncak gunung. Bila cintamu lahir dari ketulusan, maka kau akan menangkap harapan yang disampaikan. Hutan ini rumah kita. Rumah yang mengajari kita tentang cinta kasih dan indahnya berbagi manfaat kehidupan kepada sesama.

Sabina. Lihatlah sulur-sulur yang melingkari batang pohon. Peganglah dengan lembut lumut hijau yang menghampar di akar pepohonan. Sentuhlah dedaunan kecil suplir dengan tangan kasihmu. Pejamkan matamu, dan renungilah. Bukankah tetumbuhan kecil ini hidup dengan perlindungan pepohonan besar? Bukankah pepohonan besar membutuhkan manfaat kehidupan dari mereka? Itulah makna perbedaan yang arif disampaikan oleh alam kepada kita. Tanpa kehidupan mereka, pepohonan tak akan pernah membentuk ekosistim hutan.

Jauh sebelum manusia mengenal rumah untuk berteduh dan kebun untuk mencari makan, hutan adalah rumah kita, lumbung kita. Perhatikan seksama, orang-orang kampung itu. Andai rumah ini hancur, maka rasa cinta mereka pun musnah bersama waktu. Andai piring ini pecah, maka hidup mereka hanya sekedar bertahan sesaat.

Sabina. Tidakkah kau turut merasakan kegembiraan? Aku tak memintamu tersenyum manis padaku. Pintaku, sembahkanlah senyum cintamu kepada kerumunan anak-anak kecil bercawat itu. Peluklah mereka dengan kasih sayang dan ketulusanmu, seperti engkau memelukku selama ini.

Nyanyikanlah tembang-tembang kehidupan kepada mereka. Hamparkanlah sutera kasih kepada mereka, agar mereka berjalan riang kepadamu. Ijinkan aku memelukmu, sambil mata kita arahkan kepada mata bening mereka. Mari kita temukan kekuatan hidup dan kebajikan dalam bola-bola mata bening itu. Mari kita ciptakan syair-syair cinta dari kekuatan senyum keakraban mereka.

Saat aku mengecup mesra bibir basahmu, mataku melirik mereka tertawa malu. Menutup mata dengan tangan-tangan kecil berlumpur. Tidakkah kau sadari, bahwa anak-anak kecil itu punya rasa malu, Sabina? Melihat aku mendekap erat tubuhmu, mereka memalingkan wajah, dan bersembunyi di balik dedaunan semak. Tidakah kau melihat itu, Sabina? Itulah rasa malu yang dididik oleh alam.

Sabina. Ini kampung pertama yang aku kunjungi di awal tahun ini. Ini hutan pertama yang aku masuki di awal tahun ini. Kampung yang mengajariku tentang perbedaan kebersihan hati dan kehitamannya. Bahwa kotornya tubuh tidak berarti kotornya hati.

Hutan ini ditumbuhi aneka tetumbuhan, dihuni berbagai macam jenis kehidupan. Bila kau melihatnya dari lembah, pohon-pohon besar itu terlihat seperti serdadu gagah berbaris. Dengan bantuan cahaya pagi dan terbenamnya matahari, pohon-pohon itu terlihat seakan ruku’ memuliakan Tuhannya. Bila kau melihatnya dari puncak gunung, terlihat seperti hamparan karpet hijau bergelombang. Deangan bantua tiupan angin, yang menggerakkan pucuk dan dahannya, seakan tumbuhan-tumbuhan itu tengah bersujud menyembah Tuhannya. Itulah tasbih alam, dzikir yang suaranya hanya bisa didengar oleh telinga yang jujur.

Kuingin persembahkan padamu, Sabina. Sebuah gelang yang terbuat dari akar pohon. Akar yang ku ambil dengan tangan ketulusan dan hati dipenuhi gelora cinta. Pada tanganmu yang putih halus, ku ingin kau memakainya. Itulah lambang kesederhanaan cinta yang mengajarkan manusia. Andai Sang Pemilik Waktu memihakku, kan kubuatkan untukmu mahkota dari dedaunan. Kusulam helai demi helai daun dengan benang kerinduanku padamu…, kupercantik mahkota itu dengan taburan kembang-kembang hutan.

Sabina. Saat malam di mana aku terpenjara dalam keakuan dan kesombongan. Diriku dipermainkan gelap dan ditertawai takdir. Padahal hamparan hutan dan padang rumput di sebelahku memantulkan cahaya emas rembulan. Aku begitu lemah membuka tirai selubung kehidupan. Semangatku seakan terbang berpencar mengikuti tiupan angin. Aku lupa bahwa jiwa alamlah yang membentuk jiwaku.

Saat terduduk letih di bawah naungan pohon, ku sadar bahwa kecongkakan manusia telah memisahkan dan merampas fitrah insaninya. Kuingin menyusuri liukkan sungai-sungai ini. Menulis bait-bait kepasrahan diri di permukaan sungai. Hingga jiwaku tergugah dirembesi oleh bunyi seruling waktu dan nyanyian harmoni alam. Dan ketika senja hadir menyadarkanku, aku tengah terbaring di rerumputan menatap lembayungnya langit. Kini aku melabuhkan diri di dada malam, meresapi keheningannya.

Sabina. Seiring waktu, cintaku tumbuh bersama pengetahuan menentang ketidakadilan. Aku benci ketidakadilan yang diciptakan oleh pandangan perbedaan ras dan harta. Aku muak melihat manusia bercinta dengan benda. Aku marah melihat kedamaian lahir dari moncong bedil. Aku jijik dengan bau busuk bibir-bibir manis yang memuja kesewenangan dan penindasan. Andai aku mampu merekahkan fajar, jendela kehidupan pasti kututup rapat dari kepicikan dan kedengkian manusia.

Sabina. Di dalam hutan ini, telah kubuka hatiku melihat kemuliaan manusia. Fitrah sejati manusia adalah hidup dengan penuh cinta dan berbagi kasih kepada sesama. Di bawah lebatnya kanopi hutan, kutemukan cermin kesadaran berpigura renungan. Dari dalam relung kalbuku kudengar suara berkata lirih, “kebahagiaan itu dilahirkan dan di bawa ke kehidupan, ia tidak berasal dari ketiadaan.”

Aku telah menengadahkan mata ke seluruh penjuru. Tak kutemukan dahan-dahan pepohonan saling mematahkan. Tak kudapati pohon besar mematikan pohon kecil, dan sulur-sulur melukai kulit pohon. Tak kudapati jatuhnya dedaunan kecuali untuk tujuan menyuburkan tanah. Sabina, semoga musim depan membawaku kembali menyingkap misteri kebajikan yang diajarkan alam.

Aku ingin mencium mesra bibir alam, Sabina. Janganlah kau cemburu. Ku ingin mengelus lembut payudaranya. Payudara yang mengalirkan cinta kepada seluruh bentuk kehidupan. Ketelanjangan ini tidak memperdayai jiwa. Karena Tuhan membalut tubuh telanjang dengan Kemahabijaksanaan-Nya.

Sabina. Aku mencintai gadis bernama Kehidupan. Ku ingin tidur lelap di dalam kalbunya. Biarkan aku sejenak terbebas dari rengkuhan nafsu birahi kita, demi mencium tangan kasih Tuhan.

————————————

Catatan: Nama Sabina adalah nama sebuah tokoh rekaan).

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s