MUHAASABAH CINTA, “karena Allah Paling Berhak Cemburu”


Bismillaahirahmaanirrohiim

Muhaasabah atau introspeksi diri adalah salah satu sifat terpuji yang sangat dianjurkan dalam Islam. Menurut pandangan Islam, muhaasabah memiliki pengertian menanamkan larangan-larangan agama dalam jiwa, kemudian mendidiknya untuk menumbuhkan perasaan ketulusan hati, cinta kasih, dan keikhlasan.

Muhaasabah yang dilakukan dengan niat memperbaiki diri darisifat-sifat tercela, akan menimbulkan munculnya perasaan takut kepada Allah atau sifat Khauf. Dengan adanya sifat Khauf  membuat diri sadar akan kebutuhannya melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah.

Para ulama berpendapat, barangsiapa yang selalu mengoreksi dirinya berarti dia telah menutup rapat jalannya berbuat kebatilan. Dia selalu menyibukkan diri melakukan ketaatan. Dan mencela dirinya, bila lalai memenuhi hak-hak Allah dan Rasulullah. Muhaasabah adalah bentuklain dari perasaan takut kepada Allah.

Setiap orang sangat perlu meng-Hisab  dirinya menghitung dan menimbang amal perbuatannya sendiri. Cara ini lebih baik daripada perilaku perilakunya dinilai lebih dulu oleh orang lain. Kita harus menelaah kembali apa yang menyebabkan kita melakukan sesuatu, bagaimana melakukannya, tujuannya untuk apa, dan apa akibat yang ditimbulkannya.

Dahulu, seorang Syaikh dari Yaman pernah berkata kepada saya, “Biasakan dirimu menimbang-nimbang amal perbuatanmu selama sehari sebelum kamu tidur di malam hari.” Aku tanya, kenapa? Beliau menjawab, “sebab kamu tidak tahu, apakah besok hari kamu masih bisa hidup untuk memperbaiki perbuatan salah dan dosamu di hari kemarin.”

Pada lain kesempatan, masih menyangkut instrospeksi diri, beliau berkata, “biasakan dirimu untuk melakukan sholat sunnah taubat sebelum tidur.” Aku tanya, kenapa? Beliau menjawab, “apakah kamu tahu, bahwa salah dan dosamu sudah di ampuni oleh Allah? Kamu tahu bahwa permohonan maafmu diterima oleh orang yang kamu sakiti?.”

Berbekal pesan dari dua dialog pendek tersebut, saya berpikir, bahwa muhaasabah adalah sifat yang sangat penting dimiliki oleh seorang muslim. Kepada orang-orang yang telah sayasakiti, baik secara sengaja atau pun tidak sengaja, melalui tulisan ini saya mohon maaf. Dan kepada Allah saya mohon ampunan.

Sifat muhaasabah muncul dalam diri di awalidengan adanya rasa takut kepada Allah atau Khauf. Dalam kitab “Al-Burhaan al-Muayyad” yang ditulis Ahmad Rifa’i, tertulis, “Rasa takut akan melahirkan muhaasabah. Muhaasabah akan melahirkan muraaqaba. Dan muraaqaba akan melahirkan sikap selalu menyibukkan diri untuk Allah.”

Muraaqabah adalah pengawasan atau mengawasi diri. Muraaqabatullah adalah munculnya perasaan atau kesadaran batiniah bahwa diri senantiasa tak lepas dari pengawasan Allah.

Substansi muhaasabah adalah menilai diri sendiri terhadap bagaimana kita menerima dan menggunakan seluruh nikmat dan karunia dari Allah. Seperti apa bentuk rasa syukur yang kita sampaikan kepada-Nya. Apakah kita menggunakan seluruhnya untuk kebaikan dan memuliakan-Nya, atau untuk menuruti hawa nafsu duniawi semata.

Rasa cinta merupakan salah satu karunia ruhani yang diberikan Allah kepada manusia. Karunia ini tidak diberikan kepada ciptaan-Nya yang lain. Agar manusia mampu menggunakan karunia rasa cinta untuk tujuan kebenaran, Allah memberikan lagi kepada manusia dua sifat utama. Yaitu sifat yang bersumber dari sifat-Nya, ar-rahmaan  dan ar-rahiim – atau mengasihi dan menyayangi. Kedua sifat ini disesuaikan kadarnya sesuai fitrah manusia dan kemampuan dirinya.

Untuk lebih memberikan gairah dan manfaat kebaikan atas penggunaan kedua sifat itu, Allah mengaruniakan lagi akal dan hati kepada manusia. Melalui fungsi akal (berpikir) dan fungsi hati (berperasaan), manusia bisa menggali seluruh potensi-potensi kebaikan yang berada di dalam dirinya dan lingkungannya. Manusia mampu mengenal kebaikan dan keburukan.

Agar karunia rasa cinta, karunia mengasihi dan menyayangi, karunia akal dan hati, mendatangkan manfaat kebahagiaan, menyelamatkan, dan tidak merugikan orang laindan makhluk lain, Allah mengaruniakan lagi karunia lain. Yaitu karunia kecenderungan diri untuk memilih kebenaran dan keselamatan. Beriman kepadaAllah Swt dan ber-Islam adalah jalan kebenaran dan keselamatan untuk memanfaatkan dan mensyukuri seluruh karunia tersebut.

Muhaasabah cinta adalah muhaasabah jiwa. Karena cinta tak memiliki wujud dan tak terbatasi hukum ruang dan waktu. Perasaan cinta bukan diciptakan oleh hati dan akal. Hati hanyalah tempat lahirnya dan akal adalah sarana menyatakan cinta. Jiwalah yang melahirkan cinta dari sebab kehidupan ruh yang azali di dalam jasad.

Di dalam kitab “Qawaa’id at-Tashawwuf”, Ahmad Zaruq menulis, “Kelalaian melakukan muhaasabah terhadap jiwa akan membuat jiwa menjadi liar.”

Perasaan cinta kita kepada apa saja dan kepada siapa saja, termasuk mencintai  Allah dan Rasulullah, harus dinilai dan ditimbang terus. Jangan sampai kita terperdaya dan tertipu dengan sifat takabur dan sombong. Atau merasa diri sendiri yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Muhaasabah cinta merupakan pertanggungjawaban diri dihadapan Allah, di hadapan manusia, dan dihadapan jiwa yang dibebani dengan beban-beban syariat agama. Dengan muhaasabah cinta, manusia akan paham, bahwa penciptaan dirinya bukan sesuatu yang sia-sia. Seluruh karunia yang ia terima, bukan kenikmatan yang bebas dari permintaan pertanggungjawaban.

Dalam kitab “Tafsiir Ibnu Katsiir”tertulis, “Ini adalah di bagian dari nikmat yang kelak kalian akan dimintai pertanggungjawabannya (di akhirat).”

Bila setiap diri melakukan muhaasabah cinta, maka hatinya akan memancarkan hasrat untuk kembali kepada Allah dengan tobat yang tulus. Ia menjauhkan perasaannya dari perbuatan tercela dan membentengi hatinya dari memperturuti ajakan nafsu syahwat. Perasaannya akan dikelola benar sesuai nilai-nilai Qur’ani. Rasa cintanya tidak menjadi liar. Pernyataan cintanya menjadi terukur, karena ia tahu kadar cinta seperti apa yang pantas diberikan kepada sesamanya, kepada makhluk lain, kepada Rasulullah, dan kepada Allah.

Mahabbah Lillah  atau mencintai Allah adalah buah dari mensucikan jiwa dengan muhaasabah cinta. Ia adalah maqam tertinggi yang diraih oleh hamba-hamba Allah yang terpilih. Orang-orang yang mendidik dan merawat rasa cintanya semata-mata demi memuliakan dan mengharapkan ridha Ilahi. Inilah yang disebut sebagai Mahabbah Fillah – atau mencintai sesuatu karena Allah.

Tentang cinta. Menurut Syaikh Arabi al-Hatimi dalam kitab “Al-Futuuhaat al-Makkiyah” menyatakan, “Orang-orang berbeda pendapat dalam mendefinisikan cinta. Tidak seorang pun yang aku dapatkan bisa mendefinisikannya dengan tepat… Apalagi cinta itu telah menjadi sifat Allah. Hal paling baik aku dengar tentang cinta adalah yang diriwayatkan dari Abu Abbasash-Shanhaji… Beliau berkata, ‘cemburu merupakan salah satu sifat cinta. Dan cemburu menyebabkan ketertutupan (cinta). Oleh karena itu, dia (cinta) tidak dapat didefinisikan.”

Bila kita melakukan muhaasabah cinta semata-mata karena Allah, maka kita akan sadar, bahwa cemburu adalah salah satu sifat cinta. Bukan sifat pembentuk cinta. Dan menurut Islam, cemburu adalah sifat Allah. Karena Dia pencipta, pemilik, pemelihara, dan paling berhak dicintai, maka Dialah yang paling berhak cemburu.

Mengenai kecemburuan Allah, hal ini disinggung dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Tiada siapapun yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia melarang perbuatan dosa dan jahat, yang terang terangan atau yang tersembunyi, dan tiada siapapun yang lebih suka dipuji, selain Allah, oleh sebab itulah Dia  memuji Dzat-Nya sendiri.”

Kecemburuan manusia yang bercinta dengan sesamanya adalah perwujudan dari pelampiasan nafsu amarah, akibat tersinggung, dan suka berprasangka. Hal ini muncul karena lemahnya hati mengelola sifat cinta, dan tunduknya akal membangun bentuk cinta. Padahal cinta membutuhkan sikap percaya diri untuk menjaga arahnya tetap berada di jalan kebenaran. Sebab lemahnya hati dan pendeknya akal menyebabkan diri mudah disusupi sifat-sifat tercela yang mengotori cintanya.

Sifat cemburunya manusia, bukan tidak boleh dimiliki. Cemburu bukan sifat tercela, karena ia adalah salah satu sifat cinta. Asalkan manusia mengelola kecemburuaannya secara baik untuk tujuan yang benar. Sebab dengan sifat ini,manusia bisa merawat cintanya dan bisa saling setia.

Muhaasabah cinta melatih jiwa kita untuk terus bertanya, “kenapa saya mencintai Allah, dan apa tujuan saya mencintai-Nya.” Apakah karena sebab nikmat dan karunia yang diberikan, ataukah karena Dia paling berhak dicintai.

Mencintai Allah terkadang bila dilakukan tanpa ilmu yang cukup, bisa melahirkan kesesatan perilaku. Membuka pintu bagi masuknya godaan dan rayuan nafsu setan. Seperti tidak memperdulikan kehidupan sesama dan mengharamkan segala urusan duniawi.

Tanpa melakukan muhaasabah cinta, manusia mudah terperdaya dengan kemauan dirinya sendiri. Dia menjadi terlena, dan lupa akan fitrah kehidupannya sebagai manusia, bahwa dirinya membutuhkan perasaan lain selain rasa cinta kepada Allah. Manusia butuh mencintai sesamanya, keluarganya, kekasihnya, sahabatnya, dan makhluk lain.

Dalam kitab “Masyaariq Anwar al-Quluub waMafaatih Asraar al-Ghuyuub”, Abdurrahman al-Anshari menulis, “seorang penyair berkata, ‘orang yang mabuk karena khamar akan sadar, tapi orang yang mabuk karena cinta akan mabuk selamanya’”.

Muhaasabah cinta mengajari kita, bahwa mencintai Allah harus ditempatkan sebagai tujuan utama mencintai. Kualitas cinta kepada-Nya harus lebih tinggi dan lebih suci daripada cinta kita kepada yang lain. Harus dipahami bahwa karena sebab cinta-Nya, maka kita memiliki perasaan cinta kepada yang lain sesuai hak mereka sebagai ciptaan Allah. Mencintai Allah derajatnya tidak boleh disamakan atau dipersandingkan dengan mencintai selain-Nya.

Muhaasabah cinta tidak hanya introspeksi diri tentang perasaan cinta kepada Allah. Tapi juga perasaan cinta kepada sesama manusia dan yang lain. Setiap diri harus menghakimi perasaan dan akalnya yang menjadi media cinta. Wajib mempertanyakan kembali perasaan cintanya, apakah sudah sesuai perintah Allah, atau menyimpang dari perintah-Nya.

Akhirnya, tentang pentingnya muhaasabah cinta,mari kita renungi buah pikir seorang saleh, Junaid seperti yang ditulis oleh Ibnul Qayyimal-Jauziah dalam kitabnya, “Madaarijas-Saalikin Syarh Manaazil as-Saa’iriin” :

“Seorang yang pergi dari dirinya sendiri, terus menerus mengingat Tuhan-nya, melaksanakan semua hak-hak-Nya, melihat-Nya dengan mata hatinya, cahaya keagungan-Nya membakar hatinya, kesucian minumannya berasal dari gelas kelembutan-Nya. Dan Yang Mahakuasa telah menyingkap kegaiban untuknya,. Jika dia bicara, maka hanya demi Allah. Jika dia mengatakan sesuatu, maka hanya dari Allah. Jika dia bergerak, maka hanya atas perintah Allah. Dan jika dia diam, maka dia bersama Allah. Oleh karena itu, dia karena Allah, untuk Allah, dan bersama Allah.”

 

Iyyakana’budu wa Iyyakanasta’iin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s