FITNAH Bertopeng ISLAM


Kini, kebaikan dan keburukan telah berdampingan erat bagaikan dua sisi mata uang. Perihal Wajib dan Sunnah, Halal – Haram – dan Syubhat dalam hukum Islam semakin sulit dibedakan, karena masing-masing muslim bebas menafsirkan Al Qur’an dan Hadist semau dirinya sendiri. Tanpa pengetahuan dan ilmu yang cukup, orang-orang berlomba melakukan Ijtihad.

Ini masa di mana Keislaman seorang Muslim diuji oleh Allah. Masa di mana alim ulama yang seharusnya menjadi pelita menerangi kegelapan umat, cahayanya telah meredup. Ulama lebih memilih menjadi kaki tangan penguasa daripada menasehati dan mengingatkannya untuk berlaku jujur dan amanah. Ulama lebih suka bertamu ke rumah pejabat pemerintah dan orang kaya, daripada membina dan membimbing rakyat kecil dan orang miskin.

Inilah masa di mana fitnah yang bertopeng Islam akan merajalela. Agama digunakan sebagai alat mendukung ketidakadilan – kesewenangan – dan penindasan. Nama Allah dan Rasulullah dijadikan untuk membenarkan kepentingan-kepentingan duniawi yang diharamkan Allah. Al Qur’an dan Hadist digunakan untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai pakaian duniawi dan topeng kebesaran, sedangkan nilai dan maknanya tidak diindahkan.

Kemarin dan hari ini, hingga mungkin besok, sesama muslim saling menyalahkan, sikut menyikut, saling mengkafirkan satu sama lain, serta saling membunuh. Masing-masing golongan merasa dirinya lebih murni dan benar dalam ber-Islam, sedangkan lainnya di salahkan. Persoalan Khilafiyah, pertentangan Sunni dengan Syiah, berbantahan Fiqh antar maszhab terus tumbuh subur dan berurat akar.

Kitalah – umat Islam yang menodai kesucian Islam, bukan Yahudi dan Nazrani atau agama lain. Umat Islam sendirilah yang menumpahkan darah saudaranya sendiri, bukan senjata dan pedang Zionis. Kitalah yang membelokkan kelurusan agama ini…, kitalah yang memperkosa ajaran dan nilai luhur Islam…, kitalah – aku dan kamu yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

Siapakah yang lebih dulu meruntuhkan pilar-pilar agung Islam sebagai “Rahmat untuk Alam serta Isinya?” … “Siapakah yang lebih dulu merobek-robek kesucian dan kemuliaan Allah?” dan “Siapakah yang pertama kali menyalakan api fitnah dalam Islam…?” Jawabannya adalah aku dan kamu – umat Islam sendirilah yang melakukannya.

Tak seorang pun manusia berhak menyalahkan keyakinan dan kepercayaan orang lain. Atau tak seorang pun Muslim berhak mengatakan bahwa dirinya lebih baik dan lebih benar dalam ber-Islam dibandingkan muslim lain. Golongan Sunni tak berhak mengkafirkan penganut golongan Syiah, begitu pun sebaliknya. Golongan Syiah tak berhak menghalalkan darah dan membunuh pengikut golongan Sunni, begitu pun sebaliknya. Pengikut mazhab Syafi’i tidak boleh mempertentangkan dan memperdebatkan tata aturan Fiqh lainnya yang diyakini dan dipraktikkan pengikut mazhab Maliki, Hanbali, Hanafi, dan Ja’fari, begitu pun sebaliknya.

Seluruh perbedaan kebenaran dan jalan menuju kebenaran yang Allah hamparkan di muka bumi, tak pantas manusia menggugatnya dan memaksakan diri untuk membuatnya jadi satu dan seragam. Dan seluruh perbedaan penafsiran yang terjadi di dalam Islam, tak seorang pun muslim berhak menggugatnya dan mengkafirkan saudaranya yang lain.

Bila kita telah ber-Islam secara benar, maka kita akan yakin, “Bahwa kebenaran – kemuliaan – keagungan – dan kesucian nilai dan ajaran Islam telah Allah jaga dan pelihara.” Sampai kiamat tiba di masanya nanti, kebenaran Islam tak bisa diputarbalikkan dan diselewengkan oleh manusia dan jin. Karena Allah telah menyempurnakan Islam sebagai agama – jalan hidup menuju kepada-Nya dan meridhai Islam kepada penganutnya.

Islam adalah agama sosial, agama kemanusiaan, agama cinta kasih, dan agama yang menghargai perbedaan sebagai ketetapan-Nya dan rahmat dari-Nya. Olehnya ke-Islaman seseorang yang diawali dengan memurnikan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasulullah, cerminannya terdapat pada sifat dan perilakunya. Yaitu seperti apa dirinya bergaul dengan orang lain, mengelola kehidupan di bumi, dan menyikapi seluruh ketetapan Allah yang terdapat di dalam dan sekitar diri – dan kehdipannya di dunia.

Berlebihan dalam ber-Islam tanpa memiliki bekal ilmu agama dan bimbingan guru yang mursyid dan arif, pada akhirnya akan menimbulkan fitnah dan bencana bagi diri sendiri dan menodai Islam. Setiap muslim harus menilai kembali sikapnya dalam ber-Islam.

Saatnya kita berdiam diri dari hiruk pikuk kehidupan yang melalaikan dan keinginan diri yang tidak bermanfaat yang didorong oleh nafsu syahwat dan kepentingan diri sendiri, demi membangun fondasi keimanan diri yang benar dan teguh. Dan kemudian merenung dan berpikir…. bertanya pada diri sendiri:

“Apakah aku sudah ber-Islam benar dalam ber-Islam dan memahami baik nilai dan ajaran Islam sesuai tuntunan dan ajaran dari Rasulullah Saw…???”

Yaa Robbana…!
Tunjukilah aku jalan yang lurus
Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka
Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
Janganlah Engkau jadikan hatiku condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepadaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s