BANGSA PAPUA, “Multikultural dan Multiagama”


Saudara-saudariku Muslim Papua.

Jauh sebelum agama-agama samawi (Kristen dan Islam) masuk ke Tanah Papua, kita bangsa Papua telah beradab dan memiliki kehidupan yang begitu dekat dengan “Kekuatan dan Kekuasaan Mahatinggi” dan alam. Suku-suku di Papua memiliki pemimpin, wilayah hidup, dan tata aturan yang mengatur dan mengikat masing-masing suku atas wilayah adatnya.

Masuknya agama-agama samawi seharusnya dipahami sebagai unsur utama kehidupan yang melengkapi, memperkuat, dan menyempurnakan pandangan kehidupan kita tentang Tuhan, kehidupan, dan alam. Ajaran dan nilai-norma Islam dan Kristen, harus diposisikan sebagai unsur-unsur dasar yang membentuk ulang dan mengarahkan tata aturan – nilai – norma adat/kebudayaan ke arah tujuan kehidupan yang lebih riil: Kebenaran Ilahiyah dan kemaslahatan manusia. Sehingga agama dan perbedaan penganutnya tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk memberangus nilai-nilai luhur warisan nenek moyang dan membuat kita anak-anak Papua saling membenci dan saling mengkafirkan satu sama lain.

Selain kebudayaan asli suku-suku Papua (Bangsa Papua) sebagai fondasi bangunan kebangsaan kita Bangsa Papua, nilai-nilai universal dari agama harus dipahami sebagai api pembakar semangat pluralitas dan “Theologi Pembebasan” menuju kehidupan bangsa Papua yang adil dan sejahtera. Agama harus dijadikan sebagai salah satu pengikat dan pemersatu bangsa Papua.

Tak ada satu pun agama yang salah dalam pandangan umatnya masing-masing. Tetapi perilaku beragama masing-masing umat seringkali menimbulkan masalah dan konflik bagi umat agama lain. Agama tidak mengajarkan permusuhan dan kebencian. Penafsiran dan perilaku umatnyalah yang membuat agama menjadi alat politik dan pemicu malapetaka. Singkat kata, cara beragama dan pemahaman beragama kita masing-masing harus direkonstruksi kembali. Agar umat agama yang satu bisa menghargai perbedaan kebenaran milik umat agama lain.

Sejarah mencatat, bahwa masuknya agama Kristen dan Islam di Tanah Papua tidak terlepas dari penaklukan bersenjata, penipuan politik, dan pemaksaan dengan cara-cara etis. Perilaku ini bukan perintah agama dan perintah Tuhan, tapi semata-mata adalah sifat dan perilaku buruk para penyebar agama samawi. Mereka mengambil alih hak Tuhan dalam menghakimi manusia.

Kita di Papua mengenal dan sangat paham tentang konsepsi “Agama Persaudaraan”. Konsepsi ini diletakkan dan dibangun dengan nilai-nilai kultural asli Papua dan kebersamaan genealogi Melanesia. Dalam satu marga – atau satu suku, anggota marga – suku bisa memeluk agama berbeda, Kristen dan juga Islam. Perbedaan agama tidak serta merta membuat anggota marga – suku saling membenci dan memutuskan ikatan darah persaudaraan. Tetapi keberagaman iti malahan memperkuat kita. Generas terdahulu Papua hidup dengan damai antar sesama mereka

Tanah Papua tidak bisa dibangun oleh Papua Kristen saja; juga tidak bisa dibangun oleh Papua Muslim saja. Tetapi harus dibangun oleh seluruh anak Papua yang di dalam tubuhnya mengalir darah Melanesia. Yang menyatukan kita adalah darah Melanesia yang mengalir di dalam tubuh, bukan kita dari agama apa.

Semakin jauh anak-anak Papua terperosok dalam hasutan dan jeratan orang-orang luar Papua yang memainkan issu-issu perbedaan agama, maka selama itu juga kita merusak dan merobohkan Bangunan Kebangsaan Papua. Selama anak-anak Papua sibuk memperdebatkan perbedaan agama dan keyakinan antar sesamanya, maka selama itu juga kita tidak akan pernah bisa berpikir tentang membangun Persatuan Bangsa Papua.

Visi Kebangsaan dan Cita-Cita Kemerdekaan Papua tidak lagi menjadi tanggungjawab generasi tua, apalagi para nenek moyang. Tetapi telah berpindah menjadi tanggungjawab kita generasi saat ini: Saya dan Kamu. Marilah kita berpegang tegus pada nilai-nilai kebudayaan kita, bahwa tanah ini – Tanah Papua, darah ini – Darah Melanesia, adalah simbol-silmbol kebangsaan kita.

Telah terbukti di banyak bangsa dan di banyak negara, bahwa agama telah dijadikan sebagai alat politik, kendaraan penguasa, kepentingan pemerintah, dan senjata untuk menaklukkan. Apakah kita anak-anak Papua akan menjadikan agama yang kita anut seperti mereka…??? Ataukah kita menjadikan agama sesuai tujuan Tuhan Yang Mahaesa menciptakan agama: Sebagai Jalan Kebenaran untuk mengenal-Nya, dan sebagai jalan pembebasan yang memerdekakan bangsa Papua dari ketidakadilan-kesewenangan-penindasan-kebodohan-dan kemelaratan.

Saudara-saudariku Muslim Papua, tercinta. Islam telah ada di diri kita. Kita bisa menjadikannya sebagai tombak dan panah untuk membunuh orang lain dan menciptakan seribu satu malapetaka kemanusiaan. Tetapi kita bisa menggunakannya juga untuk menciptakan perdamaian, melindungi orang-orang lemah, menuntut keadilan untuk rakyat, membangun kehidupan yang harmonis antas sesama manusia. Saya yakin, kita akan memilih pilihan kedua. Karena di situlah sebenarnya tujuan utama dari semua agama.

Biarkanlah orang-orang Islam dan Kristen di luar Papua ribut dan berdebat dengan mengatanamakan Tuhan dan agamanya. Biarkanlah mereka saling membunuh dan saling menjajah satu sama lain atas dasar untuk Tuhan dan agamanya masing-masing. Biarkanlah orang-orang islam di luar Papua sibuk berdebat dan bertengkar tentang masalah perbedaan mazhab dan khilafiyah. Kita Muslim Papua tidak boleh melakukan kebodohan dan kebejatan seperti itu…!!!

Marilah kita belajar bersama memahami Islam secara baik dan benar dari sumber yang sahih dan guru yang mursyid. Mari kita mengamalkan seluruh ajaran Rasulullah sebagai mana mestinya…. kita beribadah dan beramal saleh semata-mata demi mengharapkan rahmat dan ridha Allah. Mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa kemuliaan kita Muslim Papua tidak hanya terletak pada kebersihan pemahaman kita tentang Islam, tapi terletak pada keluhuran akhlak kita terhadap Tuhan – Rasulullah – sesama muslim – dan dengan sodara-sodara kita yang lain.

Saudara-saudariku Muslim Papua.
Keagungan dan kemuliaan Islam terletak pada “Akhlaqul Karimah” – perilaku yang terpuji dan mulia. Keperkasaan Islam tidak terletak pada seberapa jago anda berdebat dan setinggi apa anda pintar. Juga tidak terletak pada gelar-gelar Kyai, Haji, dan Uztadz, dll. Tidak terdapat pada seberapa lama anda sujud dalam sholat dan anda menghafal 30 juz Al Qur’an.

Sekali lagi saya ulangi. Masa depan Bangsa Papua dan Tanah Papua ada di pundak kita masing-masing setiap anak Papua: Papua Muslim dan Papua Kristen. Tanggungjawab menunju Kemerdekaan Papua tidak bisa dinyatakan secara politik sebagai hanya milik salah satu agama saja!!!

Bangsa Papua tidak boleh menjadikan agama sebagai alat politik, alat penindasan, alat mempertebal kebencian antar manusia, dan sebagai alat untuk pemicu konflik. Agama adalah tetap agama, ia menjadi urusan pribadi setiap manusia dengan Tuhan-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s