~~ T A W A K A L ~~


Bissmillahirrahmaanirrohiim…

Kata “Tawakal” adalah suatu kata yang tak asing di benak dan pemahaman kaum muslim. Kata ini biasanya disandingkan dengan kata “Allah” untuk menjelaskan dan memperlihatkan penghambaan dan kedekatan seorang muslim dengan Tuhan-nya.

Menurut Al-Qusyairi dalam kitabnya Abu Sa’id al-Kharraz, “ath-Thariiq illaah” ditulis, “Tempat tawakal adalah hati. Dan gerakan dengan anggota tubuh tidak bertentangan dengan tawakal dalam hati, setelah seorang hamba yakin bahwa takdir adalah kehendak Allah. Jika sesuatu sulit, maka itu adalah takdir-Nya. Dan jika dia sesuai (dengan keinginan kita), maka itu karena kemudahan-Nya.”

Dalam kitabnya “Ta’riifaat”, Sayyid menulis, “Tawakal adalah percaya sepenuh hati terhada apa-apa yang ada pada Allah, dan putus apa terhadap apa-apa yang ada pada manusia.

Dalam kitabnya “Mi’raaj at-Tasyawwuf ilaa Haqaa….”, Ibnu Ujaibah menulis, “Tawakal adalah kepercayaan hati terhadap Allah, sampai dia bergantung kepada sesuatu selain-Nya.

Dari beberapa penjelasan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa “Tawakal” adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, bergantung dalam semua keadaan kepada-Nya, dan yakin bahwa segala kekuatan dan kekuasaan hanyalah miliknya. Tempat tawakal adalah hati, memahaminya dengan akal, dan mengusahakannya/melakukannya dengan seluruh anggota badan.

Tawakal harus dipahami – atau dilakukan sesuai dengan kesadaran akal sehat. Tidak boleh hanya berpatokan pada hati semata. Hal ini bisa kita baca dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmidzi:

“Wahai Rasulullah, apakah aku boleh melepaskan untaku lalu aku bertawakal? Rasulullah Saw menjawab, “Ikatlah dia (terlebih dulu), lalu bertawakallah.”

Bertawakal tanpa bekerja – berusaha adalah sebuah kemalasan. Dan kemalasan – sifat malas adalah sifat yang ditentang oleh Islam – karena tidak sesuai dengan jiwa dan semangat Islam.

Mengenai kemalasan – kekeliruan memahai tawakal, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya “al-Arba’iin fii Ushuul ad-Diin” berkata, “Orang-orang yang bodoh menyangka bahwa syarat tawakal adalah meninggalkan usaha dan pengobatan, serta menyerah pada semua yang menghancurkan. Hal ini merupakan kesalahan, karena semua itu diharamkan oleh syariat. Syariat telah memuji tawakal dan mengharuskannya. Maka bagaimana bisa tawakal diterima jika dia berkaitan dengan hal-hal yang dilarang.”

Dalam Islam, tawakal memiliki keutamaan dan pengaruh bagi seorang muslim. Ia adalah hasil dari ke-Iman-an dan buah dari ma’rifat. Karenya menyangkut dengan pemahaman seorang muslim terhadap sifat-sifat Allah. Bertawakal kepada Allah adalah pengakuan terhadap Kemahakuadaan dan Kemahaperkasaan-Nya.

Di dalam Al Qur’an, surat Al-Ma’idah, ayat 23, Allah menyandingkan sifat tawakal dengan iman seseorang:
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”

Pada Al Qur’an, surat Ibrahim, ayat 11, Allah berfirman:
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”

Sodara-sodariku Muslim Papua…!
Semoga kita dapat terus meningkatkan derajat tawakal kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Wassalam…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s