MENEMUKENALI KONSEPSI TATA RUANG MENURUT MASYARAKAT ADAT (Bag. 1)


Pengantar

Diskusi panjang tentang tata ruang, pemetaan wilayah adat, ruang hidup, dan kehidupan masyarakat adat, adalah beberapa tema diskusi yang tak pernah usai. Memiliki hubungan erat, keunikan sendiri-sendiri, dan saling menjelaskan satu sama lain. Kesimpulan bersumber dan terbentuk dari mana saja tentangnya, membuat kesemua hal ini menjadi makin menarik dan menantang untuk dipelajari.

Beberapa tematik tersebut terus dibicarakan, didiskusikan, hingga diperdebatkan. Tujuannya tak lain dari mencari dan menemukan simpul keterhubungan antar bagiannnya, persamaan unsur pembentuknya, dan persamaan – perbedaan mendasarnya.

Dalam ranah tata ruang formal mengikuti tafsir Undang-Undang Penataan Ruang, pengetahuan masyarakat adat di posisikan di luar substansi pengelolaan ruang. Dalam Pemetaan Partispatif wilayah adat, masyarakat adat adalah inisiator pemetaan dan subjek pemetaan dan peta. Dalam kehidupan masyarakat adat, ruang adalah bagian tidak terpisahkan dari simbolisasi kuasa politik dan hak milik. Dalam kehidupan masyarakat adat, ruang adalah tempat hidup, bukti keberadaan, dan identitas – jati diri.

Seluruh kompleksitas yang saling berhubungan, saling melengkapi, saling mempengaruhi, saling mengadakan dan saling menjelaskan, menjadikan topik ini tidak bisa dibicarakan terpisah dan terpotong. Sebab bicara tentang ruang adalah bicara tentang masyarakat adat dan kehidupannya – begitu pun sebaliknya.

Kondisi ini kemudian menjadikan kekaburan dan sulitnya merumuskan konsepsi keruangan menurut masyarakat adat. Penyebabnya bukan tak lain dari pendekatan yang multi dimensi, hasilnya bisa multi tafsir, dan semua unsur bisa di dekati sebagai pintu masuk membuat rumusan.

Perdebatan panjang tkonsepsi ini, bukan tak bisa dicarikan jalan tengahnya. Asalkan kita menjauhkan rumusannya dari menggunakan teori-teori keruangan modern yang menjadi arus utama. Dan memilih salah satu unsur dominan dari unsur-unsur pembentuk kebudayaan masyarakat adat sebagai pendekatan untuk menyelaraskan pemahaman.

Berbekal banyak diskusi panjang dan mendalam di “Kelompok Sejuk” ditambah pengalaman – pengetahuan berkecimpung dalam aktifitas pemetaan wilayah adat, dan pengorganisasi masyarakat adat, saya mencoba berbagi buah pikir saya tentang hal ini.

Hukum dan tata aturan adat, visi kehidupan dan cita-cita hidup suatu komunitas adat berawal dari invidu. Kemudian berproses mengikuti perubahan waktu dan ruang, diakui dan sepakati sebagai milik kolektif. Dan akhirnya diterapkan di kehidupan bermasyarakat sebagai pengetahuan yang diyakini kebenarannya. Berpijak dari hal ini, saya mencoba mencari – dan menemukenali konsepsi ruang menurut masyarakat adat.

Tulisan ini bertujuan menawarkan konsep berpikir. Di dalamnya terbangun paradigma konseptual tentang pengetahuan keruangan, bagaimana pengetahuan itu terbentuk, dan seperti apa masyarakat adat memahami dan meyakininya, dan bagaimana pengetahuan itu memberikan manfaat kepada mereka dalam mencapai tujuan hidupnya.

KONSEPSI KEHIDUPAN DALAM RUANG

Bicara tentang kehidupan adalah bicara tentang kehadiran diri pada suatu lingkup waktu dan tempat. Tentang seseorang berada di mana, di waktu kapan, berpikir dan melakukan apa, dan bagaimana ia menunjukkan keberadaan dirinya kepada orang lain. Termasuk bicara tentang keyakinan, nilai dan norma, sifat dan perilaku, dan cita-cita – atau harapan.

Dalam hal apa masyarakat adat memahami dirinya? Adalah saat di mana ia mampu menunjukkan eksistensi dirinya dan mengelola apa yang menjadi miliknya – yang ia kuasai. Kedua hal ini kemudian ia terjemahkan kembali dalam produk pemikirannya: memperlakukan dan menanggapi sesuatu. Kemudian terjadi, unsur-unsur ini membentuk sistim simbolik yang pada tingkatan tertinggi berbentuk konkrit menjadi sistim pengetahuannya.

Pengetahuan tersebut dalam seluruh siklus kehidupannya difungsikan sebagai sistim bertahan hidup – menyesuaikan  diri dengan perubahan lingkungan hidupnya – dan untuk mencapai cita-citanya. Apa yang dihadapi kemudian direspon – ditanggapi, apa yang direncanakan kemudian diharapkan dan diusahakan terjadi, apa yang disadari dan dibenarkan kemudian diyakini dan dihormati. Kesemuanya adalah bentuk dan cara memperlakukan ruang dan waktu. Dalam ilmu Antropologi dan Sosiologi dikenal sebagai kemampuan adaptasi manusia – Human Adaptation.

Hubungan-hubungan saling keterkaitan – mempengaruhi – menjelaskan – dan melengkapi antar unsur pembentuk komunitas masyarakat adat – antar sesama anggotanya, dan dengan komunitas lain dengan kondisi alam sekitarnya, tak pelak adalah cerminan nyata proses lahirnya kebudayaan.

Ruang dalam kehidupan manusia adalah terjemahan dari tempat seseorang hidup, melakukan aktifitas rutin, belajar, dan berkembang biak. Oleh karenanya ruang tidak lepas dari sistim kepercayaan dan sistim pengelolaan. Di dalamnya membentuk tata aturan pemanfaatan, batas-batas teritori, hak dan kewajiban, serta pengakuan hak.

Konsepsi pengetahuan keruangan masyarakat adat terbentuk dari respon timbal balik mereka terhadap tempat hidupnya dan masa di saat hidupnya. Ini memberikan pesan, bahwa kehidupan dan pengetahuannya tentang tata ruang mengenal dinamika perubahan. Atau pengehuan ini terus terjadi mengikuti perubahan wilayah hidup, waktu, dan kebutuhan manusia.

Perubahan-perubahan ini didorong oleh perkembangan pengetahuan, ancaman yang dihadapi, kesempatan pengelolaan, inovasi pengetahuan dan teknologi perlengkapan hidup, dan situasi alam.

Dasar pembentukan kebudayaan adalah adat – kebiasaan individu yang kemudian berproses menjadi pengetahuan milik bersama masyarakat. Maka  konsepsi ruang awalnya lahir dari pengetahuan milik individu di dalam keluarga inti. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan hidupnya, sesorang memahamkan dirinya atas sesuatu dan membangun kesadaran dirinya. Lalu pengetahuan ini dibagi secara sadar (dan atau tanpa disadari) kepada orang lain di keluarga intinya, tetanggnya, dan warga di lingkungannya.

Memahami, mengatur, dan merencanakan ruang-ruang dalam rumah dan halaman rumah adalah sekumpulan tata aturan dan harapan yang dibuatnya lebih dulu. Dari sinilah konsep awal keruangan lahir, terbentuk, tersosialisasi, dan diterima – dan diakui sebagai milik masyarakat.

Simpulannya, konsepsi tentang hidup pada ruang adalah pengetahuan kolektif yang terbentuk dari kesadaran dan cita-cita hidup individu-individu. Atau keyakinan komunitas adat bahwa dirinya memiliki hak hidup di atas – di dalam wilayah adatnya lahir dari pengalaman dan pengetahuan anggota-anggota komunitasnya.

Jika demikian adanya, pada hal mana kehidupan dan ruang hidup bertemu di tataran pemikiran? Atau pada hal mana ruang dan kehidupan menjadi kesatuan utuh yang saling melengkapi fungsi dan memperjelas statusnya? Simpulannya, bahwa aktifitas kehidupan suatu komunitas masyarakat hanya bisa terjadi pada ruang yang dimilikinya – atau diakui miliknya – atau kekuasanya atasnya bisa digunakan.

PETA SKETSA dan KONSEPSI TATA RUANG

Khusus para pegiat Pemetaan Partisipatif – PP, dalam suatu kegiatan pemetaan partisipati wilayah adat, peta sketsa dipahami memiki manfaat dan tujuan tidak kalah penting dibandingkan peta tematik. Sebab peta ini merupakan cerminan pengetahuan masyarakat adat atas wilayah adatnya – ruang hidupnya.

Berdasarkan peta sketsa fasilitator PP bisa menarik sintesa awal pengetahuan keruangan masyarakat. Juga membantunya merencanakan dan melakukan pemetaan wilayah adat. Begitu pentingnya peta sketsa, tidak jarang yang dipercayakan untuk menggambarnya adalah para tetua adat.

Menjadi pertanyaan, apakah dengan peta sketsa bisa dirumuskan konsepsi tata ruang masyarakat adat? Atau apakah dengan peta sketsa, fasilitator PP atau ahli tata ruang bergelar doktor dan profesor bisa menarik kesimpulan tentang nilai-nilai keyakinan masyarakat atas tanah – wilayah adatnya? Atau tentang keyakinan dan pandang hidup masyarakat adat tentang wilayah adatnya? Menurut saya pribadi, tidak bisa. Tidak semudah itu bisa membuat rumusan dan kesimpulannya berdasarkan peta sketsa.

Alasan logisnya, bahwa pengetahuan dan keyakinan yang bermuara pada tujuan dan manfaat hidup hanya bisa ditemukan dalam sifat dan perilaku nyata masyarakat adat atas ruang hidupnya. Bukan dari apa yang ia manifestasikan dalam bentuk gambar dan simbol.

Dalam banyak hal, peta sketsa lebih difungsikan untuk tujuan teknis pemetaan di lapangan. Jika peta sketsa akan digunakan untuk tujuan ini, maka harus dilakukan telaah keseluruhan dan mendalam dan tentang beberapa hal, seperti: kajian makna simbolik atas simbol dan warna, bagaimana masyarakat berpikir memasukkan peta sketsa ke dalam struktur pengetahuan aslinya, persepsi mereka menggambar pikirannya tentang ruang ke dalam kertas, dan apa implikasinya terhadap hal-hal yang menyangkut kepercayaannya terhadap ruang hdiupnya.

Telah ini memang terkesan sangat sederhana. Tapi bila kita menyimak baik dan memperhatikan kehidupan suatu komunitas adat, persolan sederhana seperti simbol dan warna memiliki arti tersendiri bagi mereka. Dalam ilmu Simbologi, tanda atau simbol adalah salah satu bentuk komunikasi masyarakat adat. Ia menjelaskan tentang kuasa dan pesan. Di dalamnya terkandung arti dan makna serta tujuan.

Contohnya menyangkut warna. Mempelajari pengetahuan dan keyakinan mayoritas komunitas masyarakat adat di berbagai belahan dunia, kehidupan mereka jarang sekali berhubungan dengan warna hitam dan putih. Apalagi warna biru, ungu, hijau, dan magenta. Ada dua warna dominan yang digunakan: Warna merah (dan merah darah) dan warna kuning (dan kuning keemasan). Secara umum warna merah menjelaskan sifat kehidupannya, seperti keberanian, keteguhan hati, kekuatan dan keperkasaan, kejujuran dan keadilan; warna kuning menjelaskan tentang sifat tujuan hidupnya, seperti kemuliaan hidup, ketulusan dan cinta, kehormatan diri, kebersihan hati, dan kesucian hidup.

Belajar dari pengalaman selama di lapangan, bahwa tidak seluruh pengetahuan masyarakat tentang tata ruang mampu (dan mau) diterjemahkan oleh mereka dalam bentuk gambar, simbol, dan warna di atas kertas. Selain karena alasan keterbatasan memunculkan – mengemukakannya, terlebih karena alasan kepercayaan dan pertentantangn aturan adat.

Dalam topik ini, saya memahami peta sketsa sebagai pengetahuan teknik masyarakat adat tentang tata ruang. Bukan sebagai keyakinan yang menjelaskan tujuan dan manfaat kehidupannya atas kepemilikan suatu wilayah adat.

Namun demikian berpedoman pada peta sketsa yang mereka buat, bisa mengantar kita masuk jauh ke dalam mencari tahu dan “meraba” konsepsi tata ruang mereka. Jadi, peta sketsa adalah alat dan pendekatan dalam tujuan ini. Bukan pengetahuan dan keyakinan masyarakat adat tentang konsepsi tata ruangnya. Tidak bisa digunakan untuk mewakili keseluruhan pengetahuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s