CERITA YANG AKAN TERLUPAKAN


Saudaraku setanah Papua, mari kita renungi pernyataan ini. Sebuah penggalan cerita dari salah satu kampung di wilayah adat suku Kamberan dan suku Ndamban di Teluk Bintuni. Pernyataan seorang tetua adat yang diceritakan oleh bapak Doktor Agus Sumule – Dosen Universitas Negeri Papua, Manokwari.

“Nanti, pada suatu saat, Negeri akan Menolong Negara!”  Pernyataan ini yang menjadi penggalan dari cerita bapak Agus, yang bagi banyak orang mungkin menjadi hal biasa. Di kepala teman-teman yang ikut dalam pertemuan dengan MRP PB, adalah sesuatu yang bisa jadi lewat begitu saja di kepala mereka. Mungkin juga tidak berbekas di hati. Tapi biarlah, itu hak mereka.

“Negeri” yang dimaksudkan tetua adat itu adalah satuan-satuan masyarakat adat di Papua yang memiliki hukum adat, wilayah adat, dan masih hidup.

Bagi saya pribadi, pernyataan ini memberikan pesan yang jelas kepada saya sebagai anak Papua, yang lahir dan besar di tanah Papua. Bahwa ada tanggungjawab besar yang harus saya lakukan. Tanggungjawab saya terhadap mama saya yang asli Papua, dan tanggungjawab saya terhadap saudara-saudara saya asli Papua, dan tanah tumpah darah saya, Papua.

Mendengar pernyataan itu, dalam pertemuan resmi yang formal, tanpa sadar saya berteriak keras, “Andalaaaaaaaaaan….!” Teriakan saya ini kemudian disambut dengan tertawa lepas dari teman-teman. Para pimpinan MRP PB yang mulia pun ikut tertawa.

Bapak Agus menjelaskan. Mendengar perkataan tersebut, beliau bertanya, “kenapa bisa begitu? Apa maksudnya?”

Tetua adat itu menjawab, “Kami orang Papua tidak punya utang kepada negara. Negaralah yang berutang kepada kami, negara berutang kepada negara lain.”

Kemudian orang tua itu melanjutkan, “Bila negara mengakui keberadaan kami dan mengembalikan hak adat kami untuk mengelola tanah dan sumberdaya alam kami di Papua, kami akan menolong negara dalam banyak hal.”

“Negara tidak perlu berpikir susah untuk membayar guru-guru yang mendidik anak-anak kami. Negara tidak perlu membayar mantri dan dokter, dan membeli obat untuk kami. Kami sendirilah yang akan membayar guru-guru, membayar mantri dan dokter, dan membeli obat.”

Pernyataan tetua adat ini, yang nyatanya orang kampung di pelosok Papua, tidak mengenyam pendidikan formal lebih dari Sekolah Rakyat. Saya hubungkan dengan pernyataan bapak Agus sebelumnya. Beliau ini lulusan salah satu universitas ternama di Australia. Beliau juga salah seorang perancang Otonomi Khusus Papua dan pembuat UU Otsus Papua.

Doktor Sumule menjelaskan, “bila negara telah mengakui hak-hak hidup dan keberadaan komunitas-komunitas adat di Indonesia, dan berhasil meningkatkan derajat hidup mereka, maka tugas negara dalam pembangunan hanya ada dua, melakukan advokasi dan membuat regulasi. Seluruh kebutuhan pokok hidup akan dipenuhi sendiri oleh rakyat.”

Saudaraku setanah Papua. Pernyataan ini, ““Nanti, pada suatu saat, Negeri akan Menolong Negara!” adalah pernyataan yang sangat cerdas dan brilian. Pernyataan yang memadukan fakta dan realitas kehidupan. Identitas diri dengan kehormatan, kerja keras dan keyakinan, kemandirian dan hidup berdaulat, kemauan untuk berubah dan kebenaran hidup, dan cita-cita sebagai warga negara yang bermartabat.

Menurut saya pribadi, tidak ada seorang pun doktor dan profesor bidang ekonomi dan pembangunan asli warga negara Indonesia, yang mampu merangkum pemikirannya secara tegas – jelas – dan utuh seperti tetua adat tersebut. Yang ada malahan mereka akan mengemukakan seribu satu macam teori-teori ekonomi dan pembangunan.

Saya pikir, pernyataan dari tetua adat ini harus kita jadikan sebagai renungan utama dalam bekerja di kampung dan di masyarakat adat Papua. Sebab pernyataannya mengandung kebenaran tak terbantahkan. Merupakan kristalisasi dari gabungan jutaan teori dan metode pemberdayaan dan pembelaan hak-hak hidup masyarakat adat.

Jika kita melihat fakta kehidupan masyarakat adat Papua, tanah dan sumberdaya alam yang mereka miliki, pengetahuan mereka tentang kehidupan, adalah modal utama hidup mereka. Ini bisa terjadi, bila negara menterjemahkan kewenanangan dan kekuasaannya untuk memberdayakan, mengakui, menghargai, dan melindungi seluruh unsur-unsur kehidupan yang membentuk kehidupan masyarakat adat.

Saya menangkap ethos kerja yang kuat dan rasa tanggungjawab yang terpatri erat di diri orang tua itu. Dan saya percaya, bahwa pernyataan itu lahir dari rasa cintanya yang tulus kepada tanah leluhurnya – Tanah Papua. Ini adalah nilai yang membentuk pengetahuan dan kearifan hidupnya.

Terdapat dua suku kata penting dalam pernyataan tersebut. “Negeri” dan “Menolong”. Kedua suku kata ini memiliki makna universal dan erat hubungannya dengan makna kata kehidupan dan kemanusiaan. “Negeri” bercerita tentang siapa sebenarnya saya – identitas diri; dan “Menolong” bercerita tentang kebaikan apa yang saya miliki dan akan perbuat kepada kehidupan orang lain.

Penjelasannya langsung menukik tajam kepada sasaran kehidupan, pendidikan dan kesehatan. Di mana pun  di dunia, aspek pendidikan dan kesehatan menjadi modal utama suatu bangsa membangun fondasi kemerdekaannya. Bukan dari berapa banyak kekayaan lam yang dimiliki. Berilmu dan hidup sehat adalah modal kehidupan. Dari keduanya perdamaian dan kesejahteraan diwujudkan.

Tanggungjawab seluruh anak Papua adalah membuktikan kepada negara, bahwa “Negeri Mampu Menolong Negara!” Dan bukan lagi berteriak di jalan-jalan dan lewat kampanye-kampanye murahan tentang kekayaan alam Papua yang dirampas oleh pemerintah.

Bukan saatnya lagi kita menyombongkan kekayaan alam Papua. Atau menggunakannya sebagai alat melakukan tawar menawar politik dengan penguasa. Tidak ada gunanya berteriak lantang tentang pelanggaran HAM, bila kita sendiri memiliki sifat rasis, dan saling memangsa antar sesama anak Papua.

Bukan saatnya lagi menuntut perlakuan khusus. Sebab mana bisa orang Papua menentang dikriminasi dengan bahasa dan perilaku diskriminatif. Yang harus ada adalah kita sesama anak Papua saling berkompetisi dalam kebaikan. Siapa yang terbaik dan berkualitas, maka dialah yang layak menjadi yang terdepan dan dipercayakan memimpin.

Saudaraku setanah Papua. Mari kita kembali belajar dari para tetua kita di kampung-kampung. Sebab setinggi apapun ilmu di pendidikan formal yang kita miliki, bila bila miskin nilai kehidupan dan kebaikan, maka ilmu itu akan membuat kita menjajah orang-orang lemah dan menipu orang-orang bodoh.

“Nanti, pada suatu saat, Negeri akan Menolong Negara!” Semoga penggalan cerita ini tidak terlupakan…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s