KOPI KITA BUKAN “KAPAL API”


Selain tembakau, kopi merupakan teman setia para pegadang dan para tukang cerita. Untuk mereka, tanpa aroma wangi tembakau dan kopi, cerita-cerita panjang menyusuri setiap relung waktu menjadi hampa. Begitu bernilai manfaat tembakau dan kopi, tanpa keduanya, dipastikan imajinasi dan pikiran-pikiran cerdas menjadi tersendat atau pun mati. Namun bukan berarti tembakau dan kopi adalah segalanya dalam kehidupan manusia. Masih banyak orang yang tidak bergantung pada tembakau dan kopi, mereka memiliki imajinasi dan pemikiran yang tidak kalah briliannya.

Jamak terjadi, kopi bukan hanya minuman milik lelaki. Perempuan pun banyak yang menyukai kopi. Tembakau pun demikian adanya. Tak jarang anak-anak usia sekolah dasar dan belasan tahun menyukai keduanya. Namun untuk mereka, kecuali kopi, tembakau adalah barang yang sebenarnya belum boleh dinikmati.

“Kopi Kita Bukan Kapal Api”. Dalam tulisan ini, kata “Kopi” adalah pengibaratan dari maksud kesadaran berpikir dan kemauan untuk berbagi pemikiran dengan orang lain; sedangkan frasa “Kapal Api” adalah semangat diskusi yang menyala sehingga tidak terukur, membicarakan hal-hal yang tidak dipahami, memuji diri dalam berbicara, suka berdebat, dan selalu merasa diri paling benar.

Dalam berdiskusi atau pun menyampaikan pemikiran kepada orang lain, bagi saya ada dua hal mendasar yang harus disadari. Pertama, menjadi pembicara yang cerdas, sekaligus pendengar yang baik; dan Kedua, memahami topik diskusi, sekaligus memahami pendapat dan pemikiran orang lain.

Andai saja setiap orang dalam membangun diskusi, kedua hal tersebut sudah menjadi semacam sifat dan perilakunya, maka diskusi yang menjurus pada perdebatan panjang menguras energi dan saling menyalahkan dan mengurui bisa diminimalisir. Tangapan dan pertanyang yang menjurus menyerang pribadi orang bisa dielakkan.

Diskusi yang baik tujuannya adalah belajar bersama. Masing-masing orang berbagi cerita, pengalaman, dan pemahamannya tentang suatu topik yang disepakati bersama. Kewajiban orang yang lebih tahu adalah memahamkan orang yang belum tahu, dan kewajiban orang yang belum tahu adalah bertanya – mencari tahu. Bila sama-sama tahu, maka merumuskan pemahaman bersama tentang kebenaran menjadi hal penting. Bila sama-sama tidak tahu, maka sama-sama belajar untuk mencari tahu.

Tidak ada salahnya “menggurui” orang lain dalam suatu diskusi. Asalkan disampaikan dengan gaya bahasa yang santun, menghargai perbedaan, dan menghormati pribadi teman diskusi. Menggurui adalah sikap yang tidak bisa dihindari dari diskusi, karena ia lahir dari “kepahaman” atas sesuatu dan kemauan” menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Benar adanya bila orang yang paling tahu “menggurui” orang yang paling tidak tahu. Tapi sekali lagi, kesantunan bahasa dan etika komunikasi menjadi tolok ukurnya.

Sikap seperti “Kapal Api” dalam diskusi banyak kita temui. Semangat yang menyala-nyala bagaikan jerami terbakar, kata-kata yang dikeluarkan bagaikan muntahan lahar gunung berapi, pertanyaan menguji layaknya gelombang pasang, hingga kemampuan berbicara yang dipertunjukan bagaikan angin taufun yang mencabut akar pepohonan dari tanah. Ini belum ditambah dengan mimik wajah sinis seperti drakula mencium bau darah, dan tatapan mata mengejek seperti asap hitam dari moncong knalpot motor tua.

Layaknya kapal api yang hanya bisa bergerak mesinnya bila bahan bakar berupa batu bara terus ditambah dan suhu panasnya tetap dipertahankan. Keluarannya adalah bunyi yang gemuruh dibarengi asap hitam tebal membumbung tinggi denga bau menyengat hidung. Pergerakan yang dipicu dan dipaksakan dengan api, akan melahirkan panas yang membakar dan mengguncang seluruh bagian kapal. Sebenarnya fungsinya untuk menggerakkan turbin yang menjadi bilah-bilang penggerak kapal.

Menelusuri jauh ke belakang terjadi perilaku “Kapal Api” dalam suatu diskusi, lebih banyak diakibatkan oleh sifat egois dan ketidakmampuan menahan diri menanggapi sesuatu. Egoisitas lahir dari kemauan untuk menunjukkan eksistensi diri (pemahaman dan pemikiran) dan kelabilan mental karena selalu merasa ditantang orang lain.

Untuk meredakan gejolak sifat “Kapal Api” dalam berdiskusi, yang harus disadari lebih dulu adalah tentang tujuan dan manfaat diskusi. Diskusi pada dasarnya tidak bicara tentang menang dan kalah dalam beradu argumentasi dan pemikiran. Juga tidak bicara tentang yang paling paham harus dihormati dan dimuliakan oleh yang tidak paham. Atau yang tidak paham harus di suap dan dininabobokan oleh yang paham.

Diskusi, ya diskusi! Semua orang duduk setara mensejajarkan pikiran dan pemahamnnya tentang sesuatu. Saling berbagi pikiran untuk menguatkan pemahaman, dan saling berbuka diri untuk menerima masukan dari orang lain.

Terdapat satu sikap dalam diskusi yang tak beda dengan “menggurui”. Yaitu dominasi pemikiran. Sikap ini dalam banyak topik diskusi dimunculkan oleh orang-orang yang lebih suka berbicara daripada mendengar; dan selain darinya lebih suka menjadi pendengar yang baik daripada berbagi pemikirannya. Bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang lihai bicara dan mampu mempertahankan argumentasinya.

Sikap ini boleh saja dilakukan, asalkan terukur dan tidak merampas hak orang lain untuk berpendapat. Bisa juga dilakukan apabila teman diskusi lebih memilih diam seperti patung dan membuka lebar telinganya seperti daun telinga gajah. Namun orang yang suka melakukan hal ini, ia tidak memperoleh manfaat tambahan ilmu dan pengalaman dari orang lain. Ilmu dan pemahamannya akan tetap seperti begitu adanya. Sebab ia lebih banyak memberi, tapi tidak mau menerima.

Satu sikap yang lebih buruk lagi apabila setiap orang yang berdisku berbicara tanpa henti ibaratnya tembakan otomatis dari moncong M16 dan SS1. Orang lain belum selesai berbicara, dia sudah memotong dengan pembicaraannya yang meluncur deras bagaikan air bah. Akibatnya pendengar jadi bingung, suara dari siapa yang mesti didengar dan ditanggapi lebih dulu. Ini seperti koor dalam paduan suara, dia bersuara tiga, yang lain bersuara dua dan satu. Ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu bicara menjadi penyebabnya. Telinga yang lubangnya dua ditutup rapat, mulut yang lubangnya satu dibuka lebar.

Dari semua perilaku “Kapal Api” dalam diskusi, tidak ada yang harus disalahkan. Yang dipertanyakan adalah, apakah semua itu mau dilakukan secara terukur, memiliki batasan jelas, dan tidak merampas hak orang lain untuk berpikir dan menyatakan pendapatnya? Inilah yang dinamakan dinamika dalam diskusi. Karena ia adalah dinamika, maka orang-orang yang terlibat dalam diskusi harus ada yang mau (bisa) memposisikan dirinya sebagai pengingat tujuan dan manfaat diskusi, dan sebagai pengawas alur komunikasi dalam diskusi.

Sikap yang tidak mestinya ada dalam suatu diskusi adalah sikap merasa diri paling tahu dan paling pintar, membicarakan sesuatu hal yang ia tidak memiliki pemahaman tentangnya, tidak pandai menerima perbedaan pemikiran, tidak suka dikritik dan diingatkan, dan suka menyerang kelemahan pribadi orang lain. Untuk orang yang lebih memilih menjadi pendengar daripada aktif dalam diskusi, sebaiknya ia ditugasi membuat kopi dan menyalakan rokoknya orang-orang yang aktif berdiskusi. Karena orang tipe ini adalah parasit yang menumpang hidup pada inang. Tidak mau memberi manfaat kepada orang lain, tapi lebih suka mengambil manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s