~ SEPIKIRAN TAPI BELUM SEHATI ~


Perbedaan dalam hal apapun, selalu menampilkan sisi yang menimbulkan penilaian dan pertentangan. Dan bisa diakhiri dengan saling menghakimi. Penilaian tentang benar dan salah, dan pertentangan tentang boleh dan tidak boleh. Di antara kedua situasi ini, kematangan berpikir dan kedewasaan mental menjadi penentunya.

Seharusnya lamanya proses dan kesdaran berjejaring komunikasi yang terbangun selama ini bisa menepis prasangka. Sebab proses mengajari kita tentang kebersamaan dan saling mengisi, sedangkan komunikasi mengajari kita tentang keterbukaan dan kepercayaan. Tapi sayangnya proses dan komunikasi hanya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja dan begitu adanya.

Lain kepala lain yang dipikirkan, lain hati lain yang dirasakan. Menyamakan pikiran antar beberapa orang, biasanya menjadi lebih mudah bila dimulai dari kesamaan kepentingan. Tapi menyamakan perasaan antar beberapa orang, selalu menjadi persoalan pelik tak ada rumusannya. Penggunaan akal – atau berpikir logis pendekatannya bisa materialistis, bisa diuji cobakan, dan bisa dipertanggung-gugatkan. Perasaan tetap menjadi suatu bagian yang kompleks, tersembunyi, abstrak, dan tidak bisa disanggah.

Bicara tentang kebersamaan dalam melakukan sesuatu yang diikat oleh kesamaan kepentingan, pengakuan tentang keberadaan dalam kebersamaan adalah hal penting. Sudah menjadi sifat dasar manusia, ia butuh diakui keberadaannya. Ia menghendaki peran dan keikutsertaannya diakui dan dinyatakan oleh sesamanya. Kemauan seperti ini adalah sesuatu yang benar adanya. Menjadi benar – dan dibenarkan selama kemauan itu tidak untuk kepentingan diri sendiri dan tidak mengganggu kepentingan bersama.

Menyangkut penggunaan akal dan perasaan, kita semua sadar dan akui, bahwa tidak semua orang mampu membuat kesetimbangannya. Kita maklum bahwa hanya sedikit orang yang mampu menggunakan fungsi akal dan perasaannya secara tepat pada suatu masalah. Kebanyakan orang lebih memilih menggunakan akalnya, atau lebih besar menggunakan perasaan dalam menghadapi suatu persoalan. Penggunaan akal yang besar, seringkali membuat seseorang tidak sensitif terhadap pribadi orang lain. Dan penggunaan perasaan yang besar, seringkali membuat seseorang tidak rasional dan tidak objektif.

Menjadi persoalan besar dalam kebersamaan adalah ketidakpahaman masing-masing orang tentang perasaan dan pemikiran orang lain. Terkadang orang- yang lebih rasional melaju cepat  meninggalkan jauh orang yang masih mengedepankan perasaannya. Kondisi ini kemudian menyebabkan orang lain merasa tersisih, merasa tidak diikutsertakan, merasa diabaikan, dan merasa tidak diakui peran dan keberadaannya. Terkadang juga orang yang memilih menggunakan perasaan belum bisa melaju cepat dalam banyak hal, karena masih berkutat pada persoalan pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh, karena kwatir menyakiti perasaan orang lain.

Situasi di atas tak pantas kita jadikan sebagai perbedaan untuk menilai siapa benar dan siapa salah. Kondisi seperti tampilan di atas menjadi lazim perilaku manusia. Kecuali bila hal ini diperdebatkan dan dipertentangkan, kemudian melahirkan cerita-cerita saling menjatuhkan dan saling membusukkan di belakang. Atau menciptakan situasi tidak saling percaya, dan tuduhan-tuduhan yang menjurus pada kesimpulan saling mengkhianati.

Mencermati penggunaan cenderung akal dan cenderung perasaan dalam kerja-kerja sosial dan berjaringan, terdapat dua bentuk akhir. Akal akan melahirkan “Asumsi” sedangkan perasaan melahirkan “Prasangka”. Dan kita yang selalu mengatakan “Merdeka Berpikir” dan “Merdeka Berperasaan” sedang terjajah dengan subjektivitas diri kita sendiri. Kita menjadi hamba setia untuk ego pribadi, dan kita menjadi pelayan setiap kepentingan diri sendiri.

Dalam logika berpikir, Asumsi – berasumsi terbangun dari pengklasifikasian dan perumusan variabel-variabel acak yang belum diketahui kebenarannya. Variabel-variabel ini menjadi dugaan dan bentuk pemikiran awal yang sederhana dan praktis tentang suatu masalah dan solusinya. Hal ini tidak menyebabkan asumsi jauh dari dan bebas nilai. Sebab asumsi yang berlebihan, tidak berdasar, dan tidak cermat, bisa membuat daya rusak besar.

Sedangkan Prasangka (Prejudice) terbangun dari pemikiran awal yang umunya negatif terhadap sesuatu – lebih ditujukan kepada orang atau kelompok. Rujukan prasangka adalah keyakinan yang berdasar pada pelabelan (stereotipe) yang sebelumnya telah ada atau diberikan kepada seseorang – kelompok. Ia terstruktur dan berdasarkan penilaian – penghakiman – dan hukuman, tanpa lebih dulu mencari tahu benar dan salah. Contoh: Seorang bekas narapidana, apapun yang dilakukan, sebagian besar masyarakat pasti menilainya bermaksud buruk.

Sekali lagi, sebaiknya kita tidak bersilang pendapat tentang untung dan rugi penggunaan rasionalitas atau perasaan. Sebab semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing. Apalagi rasionalitas berdasarkan pada kebiasaan individu dan prasangka berdasarkan pengalaman individu. Keduanya erat berhubungan erat dengan faktor subjektivitas. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu menggunakan potensi akal dan potensi perasaan pada persoalan yang tepat di waktu yang tepat.

Kita sepikiran tapi tidak seperasaan. Maka yang muncul adalah kita tidak saling percaya dan kita saling melemahkan satu sama lain. Akhirnya kita menjadi lemah dan tersisih dan mereka menjadi solid dan tangguh. Mari terus belajar saling memahami dan tidak menepuk dada orang lain agar dada sendiri mau ditepuk orang lain. Mari saling memahami untuk kebersamaan KITA.

(KAETARO. Pelajaran untuk Diri).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s