FAKFAK KOTA PALA : Menakar Nilai Penting Tanaman Pala dalam Kebudayaan Suku Mbaham Matta (Bag. 1 dari 2)


Kilasbalik Sejarah Komoditi Pala

img_20140707012036_53b993746ca08Bicara kota kabupaten Fakfak, pikiran banyak warga Papua langsung terbawa mengingat tiga hal. Perihal yang menjadi icon atau identitas wilayah Fakfak. Yaitu, Fakfak tanah para raja di Tanah Papua, Fakfak tanah masuknya Islam sebagai agama pertama di Tanah Papua, dan Fakfak kota pala.

Membedah ketiga icon atau identitas Fakfak menurut tafsir sosio-historis, maka: raja-raja dan kerajaan-kerajaan dipahami sebagai sistim pemerintahan pertama di Tanah Papua; suku-suku asli Papua yang bermukim di tanah Fakfak adalah orang yang pertamakali menerima dan mengimani Tuhan menurut agama Samawi; dan tumbuhan dan tanaman pala adalah komoditi lokal unggulan yang diusahakan turun-temurun oleh orang asli Fakfak dalam mekanisme pemasaran hasil bumi.

Ketiga tafsir di atas dalam konteks sejarah perkembangan kebudayaan bangsa Papua, menempatkan orang Fakfak dengan karakter kebudayaan yang unik dan lebih dibandingkan suku-suku asli Papua lainnya. Atau pribumi Fakfak memiliki peradaban maju karena manusia dan kebudayaannya lebih dulu kontak dengan kebudayaan luar.

Dari identitas ini, menarik dikaji lebih mendalam, manakah identitas utama yang menjadi identitas penarik kebudayaan luar bisa atau mau bersentuhan – berhubungan dengan manusia dan kebudayaan Fakfak.

Sejarah kolonialisasi lokal di Tanah Papua. Khusus wilayah jazirah Onim dan wilayah Bomberay dikuasai oleh kesultanan Tidore. Faktor pendorong yang membuat Tidore memperluas koloninya adalah kepentingan menguasai hasil bumi. Sedangkan faktor penariknya, potensi hasil bumi yang terdapat di kedua wilayah ini, terutama rempah-rempah seperti pala, masohi, kulilawang, dan burung kuning (burung Cendrawasih).

Sejarah Fakfak menegaskan, bahwa penyebaran agama (Islam) dan pemberian jabatan/gelar dan kekuasaan pemerintahan, bukan tujuan utama Tidore. Agama dan pemerintahan merupakan kepentingan ikutan dalam kepentingan dagang. Tujuannya untuk menjamin dan memastikan kendali politik kekuasaan kedua kesultanan ada dan berfungsi di Tanah Papua.

Simpulan yang ingin penulis sampaikan, bahwa dari rempah-rempah, terutama buah pala – biji dan fuli, maka penduduk pribumi Fakfak memperoleh ilmu agama (Islam) dan pemerintahan dari Tidore. Atau lewat perdagangan pala antara pribumi Fakfak dan kesultanan ini, agama dan pemerintahan masuk ke Tanah Papua, dan kemudian membentuk peradaban orang Papua pada kedua wilayah tersebut.

Apa yang terjadi pada pribumi Papua beragama Islam dan Kristen di jazirah Onim dan Bomberay, sama dengan sejarah masuknya Injil di pulau Mansinam – pribumi Papua memeluk agama Kristen. Zendeling Ottow dan Geissler masuk dan menginjakkan kaki di Tanah Papua, kemudian mengabarkan Injil, juga mengikuti jalur perdagangan yang telah ada. Yaitu jalur perdagangan dikuasai oleh persekutuan dagang kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore dengan kongsi dagang Hindia Belanda.

Secara ekonomi, pala adalah komoditas lokal, membuat pribumi Fakfak mengenal pasar dan hukum pasar. Pala mengajari pribumi Fakfak mengenal barang-barang produk luar; pala mengajari pribumi Fakfak berkomunikasi dengan orang luar dan kebudayaan asing; pala mengajari pribumi Fakfak cara berdagang dan mengenal hukum ekonomi; pala mengajari pribumi Fakfak mengelola lahan perkebunan – rantai produksi komoditi – dan pemanfaatan hasil penjualan; pala mengajari pribumi Fakfak bertahan hidup (dengan berdagang); dan pala mengajari pribumi Fakfak menyekolahkan anak-anaknya menjadi orang besar; dan lain sebagainya.

Nilai Ekonomi Pala

Pada tulisan ini, penulis tidak membicarakan mendalam pala sebagai komoditas unggulan dalam perspektif ekonomi: sebagai mata pencaharian utama mayoritas warga pribumi; sebagai sumber pendapatan uang tunai dan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga; pala memiliki prospek menguntungkan di pasar nasional dan dunia, dan; harga jual pala sangat menggiurkan.

Memilih membicarakan tanaman/tumbuhan pala dalam konteks strategi strategi penjualan/pemasaran dan rencana bisnisnya, adalah pekerjaan mengulang dan membuang energi. Mendiskusikan desain usaha dan kerangka tata niaganya, telah banyak orang pintar, ahli ekonomi, lembaga swadaya masyarakat, akademisi dan perguruan tinggi melakukan penelitian dan membuat programnya. Telah banyak pelatihan peningkatan kapasitas petani dan penguatan lembaga ekonominya. Juga suntikan modal usaha – serta pendampingan lapangan di lakukan oleh pemerintah dan pihak swasta.

Pernyataan di atas tidak berarti penulis mengecilkan manfaat ekonomi pala dan mengecilkan arti penting pala sebagai sumber pendapatan mayoritas keluarga pribumi. Tetapi penulis ingin mengajak warga Fakfak untuk melihat pala dari sudut pandang lain. Juga untuk menegaskan bahwa pala tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga bernilai sosial dan budaya.

Sebaiknya kita meninggalkan persoalan-persoalan di atas. Kemudian mencermati fakta-fakta di bawah ini. Beberapa fakta posisi komoditas ini dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Dalam kebijakan pembangunan kabupaten Fakfak, sektor perkebunan dan kehutanan, pala  bukan komoditas utama unggulan. Kebijakan ini berimplikasi pada: 1) wilayah dan habitat tumbuh pala tidak dilindungi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah – RTRW kabupaten Fakfak; 2) tidak ada kebijakan politik untuk melindungi dan mengakui dusun-dusun pala milik warga pribumi atas; 3) terjadi introdusir tanaman perkebunan (kakao dan cengkeh) dengan rencana pengembangan dan pendanaan yang baik; dan 4) pembiaran sistim ijon dan praktik tengkulak oleh pemerintah dalam pembelian pala.

Tanpa penulis harus jelaskan keempat hal di atas, pembaca dapat menebak ke arah mana maksud penulis dengan, “tidak tidak perlu membicarakan lagi rencana bisnis dan tata niaga pala”. Keempat hal tersebut telah memberikan indikasi jelas tentang sikap politik pemerintah Fakfak mengenai tanaman pala dan petani pala.

Persoalan pala belum menciptakan kesejahteraan bagi warga pribumi, akar masalahnya bukan bersumber dari belum dibuatnya rencana bisnis dan sistim tata niaga pala. Warga pribumi Fakfak harus mau menggunakan perspektif dan pendekatan lain untuk mencari tahu akar masalahnya. Kuncinya ada pada mencari tahu motif yang mendasari pemerintah Fakfak belum berniat baik dan bersungguh-sungguh mengurus keempat hal di atas.

Solusi produksi pala dan pemberdayaan petaninya atau pengembangan tanaman pala, harus dilihat dari perspektif kebijakan politik pembangunan daerah. Visi dan orientasi pembangunan perkebunan dan kehutanan Fakfak harus dipertanyakan. Termasuk di dalamnya mempelajari politik pembangunan nasional di Papua Barat dan kepentingan penetapan wilayah-wilayah pengembangan di Fakfak.

Hal menarik yang harus dikaji baik adalah introdusir komoditi baru dari luar Fakfak. Tanaman kakao dan cengkeh adalah dua komoditi perkebunan hasil introdusir mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Proyek nasional ini diaminkan oleh beberapa pemerintah kabupaten di Tanah Papua. Pemda Fakfak adalah salah satu yang menerima, dan menjadikannya sebagai tanaman perkebunan utama. Ke depan, kedua kemoditas ini secara perlahan akan menggusur posisi pala sebagai komoditas lokal unggulan.

Secara ekonomi, jika penanaman kakao bertujuan untuk menganekaragamkan komoditas perkebunan di fakfak, maka pengembangan perkebunan pala dan bisnisnya harus diperlakukan sama dengan kakao. Tapi bila kakao lebih terencana baik daripada pala, maka bisa jadi introdusir kakao ini memiliki motif lain. Atau sarat kepentingan tertentu yang melatarbelakanginya.

Asumsi penulis, introdusir kakao memiliki alasan dan tujuan kompleks. Yang paling memungkinkan bertujuan untuk memutus ketergantungan warga pribumi memanfaatkan pala sebagai sumber utama pendapatan keluarga; melemahkan rasa kepemilikan dan ikatan emosi terhadap dusun pala; mempromosikan kakao sebagai komoditas unggulan; dan mendukung penanaman kakao sebagai proyek pemerintah pusat.

Kemungkinan di atas merupakan “kepentingan antara” ke kepentingan utama. Simpulannya, jika kepentingan antara sebagai syarat ke pencapaian kepentingan utama berhasil dikondisikan, maka kepentingan utama akan tercapai dengan sendirinya: yaitu mengambil alih dusun-dusun pala atau wilayah-wilayah adat untuk kepentingan lain. Sudah tentu untuk menunjang kepentingan pembangunan daerah di sektor-sektor lain. Menjadi  persoalan, kepentingan pembangunan yang dimaksud di sini adalah pemberian ijin pengelolaan ruang untuk kepentingan investasi skala besar.

Untuk wilayah Fakfak dengan kondisi tanah, hidrologi, topografi, iklim dan ekosistim hutan, pemilik kepentingan lahan skala luas adalah perkebunan monokultur, pertambangan, tanaman pangan introdusir bertujuan ekspor, dan infrastruktur transportasi. Namun semua nantinya bukan dimiliki oleh warga pribumi. Seluruh manfaatnya lebih besat untuk para pendatang pemilik modal serta kongsi korporasi nasional dan korporasi asing.

Asumsi penulis bisa saja salah. Atau terlalu gampang menyimpulkan situasi penyebab kemandegan pengembangan komoditas pala di Fakfak. Siapa saja berhak menyampaikan asumsi situasi dan rumusan masalahnya. Sebab  penulis, yang terpenting harus dicermati, bukan melihat pala sebagai komoditas lokal unggulan bernilai ekonomi tinggi. Tetapi ancaman kebijakan penataan ruang oleh pemerintah yang lebih memihak kepentingan pemilik modal dan korporasi.

Kebijakan  penataan ruang yang demikian memberikan indikasi akan terjadi dua ancaman terbesar: 1) pelemahan hak dan perampasan hak masyarakat adat atas kepemilikkan wilayah adat dan sumberdaya alam, dan; 2) terjadi degradasi proses-proses ekologis dan fungsi ekologi dalam ruang/wilayah tertentu.

Pelemahan hak terjadi karena warga pribumi berhasil dikondisikan tidak memperoleh manfaat ekonomi dari wilayah adat dan dusun pala yang dimilikinya; dan perampasan hak terjadi karena warga pribumi tidak memiliki kemampuan untuk mengelola wilayah adat dan dusun pala yang dimilikinya. Sedangkan secara ekologis, pembukaan wilayah habitan tumbuh pala (dusun-dusun pala) menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan hidup dan penurunan fungsi-fungsi ekologi wilayah penunjang kehidupan.

Pala dalam Kebudayaan Suku Mbaham Matta

Jauh sebelum Indonesia merdeka dan Fakfak menjadi kabupaten, pala telah menjadi identitasnya – Fakfak Kota Pala. Semisal Kaimana dikenal sebagai Kota Senja karena keindahan matahari sorenya, dan Merauke Kota Rusa karena populasi rusa banyak di wilayahnya. Atau Sorong Kota Minyak karena kandungan minyak bumi di dalam tanahnya, Teluk Bintuni Kota Agas karena akibat ekosistem mangrovenya terluas dan terbaik di Asia Pasifik.

Tanaman pala dan dusun pala memiliki nilai penting lebih dan mendasar bagi kehidupan suku Mbaham Matta. Pala tidak boleh hanya diartikan bernilai komoditas yang dihargai berdasarkan besar kecil nilai rupiah atau untung rugi di pasar. Dusun pala tidak boleh hanya dilihat sebagai hamparan tanah yang ditumbuhi pala, sehingga dihitung nilainya secara ekonomi dan matematis.

Dalam kebudayaan suku-suku besar Papua, ditemukan simbolisasi identitas kesuku-bangsaan yang diambil dari unsur-unsur alam. Unsur-unsur dimaksud bisa berupa tanah, binatang, tumbuhan, dan lainnya. Kesemua unsur diberikan pemaknaan menurut pengetahuan dan keyakinan mereka. Simbolisasi ini dalam banyak hal digunakan untuk menjelaskan keberadaan diri, harapan dan tujuan hidup, mengkomunikasikan kepentingan, hingga menggambarkankeyakinannya.

Jauh lebih dalam menggali nilai tumbuhan dan dusun pala dalam kebudayaan suku Mbaham Matta. Tafsir kebudayaan ini penulis buat berdasarkan penjelasan dari tokoh-tokoh adat dan masyarakat. Dan pengetahuan yang penulis peroleh selama bekerja untuk pemetaan wilayah adat dan pengelolaan hutan di distrik Buruway –  kabupaten Kaimana.

Tumbuhan pala dalam sejarah hidup dan kebudayaan suku Mbaham Matta, memiliki nilai tinggi. Namun demikian pala tidak dimaknai sebagai tumbuhan sakral dan bernilai magis. Ini karena pengaruh nilai-nilai agama samawi – Islam dan Kristen yang melarang umatnya menyekutukan Tuhan dengan ciptaan-Nya.

Pala memiliki arti penting dalam siklus kehidupan setiap anak asli Fakfak. Dalam siklus hidup setiap anak asli Mbaham Matta, pala menjadi salah satu tumbuhan pembentuk aktifitas kesehariannya dan pemanfaatannya merupakan pengetahuan hidup. Mengambil – memanen buah pala adalah simbol memelihara ikatan kekerabatan dan tanggungjawab menafkahi keluarga; menjual pala adalah simbol membangun komunikasi dan relasi sosial dengan orang luar; dan merawat dusun pala adalah simbol memperlakukan alam secara arif.

Keberadaan dan kepemilikkan dusun pala oleh individu/keluarga dan marga dan gabungan beberapa marga, memberikan penjelasan-penjelasan penting tentang perihal sebagai berikut: 1) penelusuran sejarah perjadinya dan persebaran suku dan marga di wilayah adat Mbaham Matta; 2) memiliki dusun pala menjelaskan jati diri dan identitas sebagai anak – turunan asli suku Mbaham Matta; 3) batas-batas adat antar satu dusun pala dengan dusun pala lain menjelaskan hubungan kekerabatan para pemiliknya; 4) sebaran dusun-dusun pala menjelaskan status wilayah-tanah adat, status hak adat, dan siapa pemilik wilayah-tanah adat; 5) pengelolaan dusun pala menggambarkan keberadaan tata aturan adat dan hukum adat yang mengaturnya – dan pengetahuan asli pemanfaatan sumberdaya dalam wilayah adat; 6) pemanfaatan buah pala menjelaskan relasi jejaring kerjasama, interaksi keterikatan sosial, dan tanggungjawab sosial, dan; 7) kepemilikkan dusun pala menjelaskan status sosial seseorang/keluarga, marga dan suku dan tanggungjawab sosial-nya di dalam masyarakat.

Menjadi pertanyaan penulis, apa yang akan terjadi bila suku Mbaham Matta tidak memetik dan menjual pala sebagai salah satu mata pencarian utamanya, tidak merawat dusun pala, tidak memiliki dusun pala, menjual dusun pala kepada orang pendatang, dan atau dusun-dusun pala hilang dan tergantikan dengan tanaman perkebunan lain?

Kiranya hanya anggota suku Mbaham Matta dan warga kabupaten Fakfak yang lebih pantas dan paling berhak menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis. Bisa juga pemeritah kabupaten Fakfak dituntut oleh suku Mbaham Matta untuk menjawab pertanyan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan berikutnya, siapakah yang paling bertanggungjawab atau pantas diserahi kewajiban untuk menjaga ketujuh tafsir kebudayaan Mbaham Matta tentang pala dan dusun pala tetap terpelihara baik?

Untuk pertanyaan kedua, penulis tidak menyarankan untuk diberikan kepada LMA Mbaham Matta. Pemerintah kabupaten Fakfak sebagai kepanjangan tangan negara – yang mayoritas aparatur pemerintahnya adalah anak-anak asli suku Mbaham Matta yang harus dituntut untuk menjaganya. Sebab ketujuh hal tersebut merupakan amanat Konstitusi Indonesia yang mengatur hak asasi suku Mbaham Matta sebagai warga negara dan manusia. Oleh karenanya tanggungjawab ini harus dituntut kepada negara dan pemerintah daerah.

Pertanyaan akhir penulis, jika pala dan dusun pala tidak diurus baik oleh pemerintah Fakfak, apakah masih pantas buah pala dijadikan sebagai salah satu unsur pembentuk logo kabupaten Fakfak; dan apakah masih pantas warga Fakfak mengklaim Fakfak adalah kota pala?

Sekadar bergurau, nanti pada beberapa dekade ke depan, buah pala di logo kabupaten Fakfak akan diganti dengan buah kakao, karena Fakfak telah menjadi kota kakao. Menurut kelakar tuan Zainal Bay:

kalau pemerintah membiarkan habitat tumbuh pala tergusur karena penyusunan RTRW kabupaten Fakfak tidak melindungi kepentingan hidup warga asli, maka sebaiknya lagu Black Brothers yang menyanjung Fakfak sebagai kota pala tidak boleh diputar lagi di Tanah Papua…, Fakfak Kota Pala hanya kenangan manis di masa lalu.”

(Tulisan ini disarikan dan dikembangkan dari hasil diskusi penulis bersama Tuan Zainal Abidin Bay – Waka. MRP Papua Barat, Tuan George Dedaida – Direktur PAPUANA Conservation, Tuan Esau N. Yaung – Direktur PARADISEA dan Tuan Adam – Staf MRP Papua Barat, di kantor Yayasan PARADISEA Manokwari).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s