NASEHAT dari Hatim Al-Asham


Dengan menyebut Kemahaindahan dan Kemahasucian nama Allah Azza wa Jalla.

Membicarakan ilmu dalam perpektif Islam, maka paling tidak ada tiga hal mendasar yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Pertama, bahwa mencari – menuntut ilmu yang bermanfaat secara syar’i hukumnya wajib – fardhu; Kedua, ilmu yang dituntut harus diamalkan, dan; Ketiga, ilmu yang dituntut harus menjadikan si penuntut ilmu bertambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Mempelajari sejarah generasi-generasi Islam terdahulu dalam menuntut ilmu, banyak hikmah yang bisa ambil sebagai pelajaran dan renungan. Terutama menyangkut motivasi belajar dan niat menuntut ilmu. Termasuk mengetahui bagaimana kemampuan mereka dalam memahami ilmu yang dipelajari.

Salah satu yang bisa kita jadikan teladan dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya, untuk menjadi seorang pelajar yang baik, kisah Hatim Al-Asham dapat diambil hikmahnya.

Dalam “Kitab Al-‘Ilm” yang tulis oleh Imam Al-Ghazali Ra, beliau menjadikan kisah Hatim sebagai contoh yang baik bagi umat Islam dalam menuntut ilmu.

Dikasihkan bahwa Hatim Al-Asham adalah murid dari Syaqiiq Al-Balkhiy Ra. Hatim telah belajar selama tiga puluh tahun kepada gurunya. Biasanya seorang guru yang arif, ia akan bertanya kepada muridnya tentang apa saja yang telah dipelajarinya. Apalagi mengingat Hatim telah berguru kepadanya selama tiga puluh tahun.

Ketika Al-Balkhiy bertanya kepada Hatim tentang apa saja ilmu yang telah dipelajari darinya selama tiga puluh tahun, Hatim menjawab, “selama tiga puluh tahu aku ikut bersamamu dan belajar darimu, wahai Ustadz, hanya delapan masalah yang saya pelajari.”

Jawaban Hatim membuat Al-Balkhiy menjadi terkejut dan sedih. Kemudian Al-Balkhiy berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Usiaku habis bersamamu, sementara engkau hanya belajar delapan masalah saja?!”

Hatim pun kemudian menjawab, “Benar, wahai Ustadz. Sungguh, hanya itu saja yang aku peroleh darimu. Dan aku tidak berbohong.”

“Baiklah, kalau begitu. Sebutkanlah kedelapan masalah itu, sehingga aku mendengarnya darimu,” kata Al-Balkhiy.

Hatim lalu menyampaikan kedelapan masalah yang ia pelajari dari gurunya:

Pertama: “Kuperhatikan manusia, lalu kudapati bahwa setiap orang mencintai seorang kekasih, dan ia tetap bersama kekasihnya hingga sampai ke kuburannya. Setelah sampai di sana, ia berpisah dengan kekasihnya itu. maka kujadikanlah perbuatan-perbuatan baik sebagai kekasihku, sehingga apabila aku masuk kuburanku, kekasihku itu ikut bersamaku ke liang kubur.”

Kedua: “Kurenungkan firman Allah Swt, “adapun orang yang merasa takut akan maqaam (kedudukan dan kebesaran) Tuhannya, lalu menahan dirinya dari dorongan hanya nafsunya; maka surgalah yang akan menjadi tempat tinggalnya….” (QS. An Naazi’aat : 40-41). Dan sungguh aku meyakini bahwa firman-Nya adalah benar sebenar-benarnya. Karenanya, aku bersungguh-sungguh dalam mengendalikan diriku agar tidak dikuasai oleh hawa nafsu, sedemikian sehingga diriku menjadi mantaat dalam ketaatan kepada Allah Swt.

Ketiga: “Kuperhatikan sikap manusia. Siapa saja di antara mereka memiliki sesuatu yang berharga, ia akan menjaganya baik-baik. Kemudian kurenungkan firman Allah Swt, ‘Apa saja yang ada pada kamu, pasti akan habis (lenyap); dan apa saja yang ada di sisi Allah, ia akan kekal adanya.’ (QS. An Nahl : 96). Maka setiap kali aku mendapat sesuatu, yang berharga, segera aku menunjukannya kepada Allah Swt agar ia tetap kekal di sisi-Nya.”

Keempat: “Kuperhatikan bahwa masing-masing manusia menyandarkan dirinya kepada harta, kemuliaan diri serta nasabnya. Lalu kurenungkan hal itu, dan kusadari bahwa semua itu tak berharga sedikit pun. Kemudian kuperhatikan firman Allah Swt, ‘sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu, di sisi Allah, adalah orang yang paling bertakwa.’ Maka akupun berupaya untuk beramal dalam ketakwaan, agar menjadi mulia di sisi-Nya”

Kelima: “Kuperhatikan manusia di sekitarku, dan kudapati mereka saling menjelek-jelekkan dan saling mencaci-maki di antara mereka. Sedangkan semua itu disorong oleh perasaan iri hati. Kemudian kurenungkan firman Allah Swt, ‘… Kami telah membagi-bagi (rezeki Kami) di antara mereka. Agar memenuhi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia….’ (QS. Az Zukhruf : 32). Maka kutinggalkan perasaan iri dan kuasingkan diriku dari mereka, disebabkan keyakinanku bahwa rezeki itu semata-mata dari Allah Swt. Dan dengan begitu, aku menghindar dari permusuhan manusia kepadaku.”

Keenam: “Kuperhatikan manusia di sekitarku; sebagian dari mereka bertindak zalim terhadap sebagiannya yang lain, dan saling memerangi satu sama lain. Maka aku kembali kepada firman Allah Swt, ‘sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kamu, maka perlakukanlah ia sebagai musuhmu.’ Dan karenanya, setanlah satu-satunya yang kumusuhi. Aku pun bersungguh-sungguh dalam mewaspadainya, mengingat bahwa Allah Swt telah bersaksi tentangnya, bahwa ia adalah musuh bagi diriku. Karena itu pula, kutinggalkan permusuhan dengan semua makhluk, selain setan.”

Ketujuh: “Kuperhatikan manusia di sekitarku, dan kuperhatikan masing-masing berjuang demi secuil roti yang ia butuhkan; dan untuk itu ia bersedia merendahkan dirinya sendiri, dan bahkan menjerumuskan dirinya ke dalam sesuatu yang tidak halal baginya. Lalu kurenungkan firman Allah Swt, ‘…. dan tidak ada suatu makhluk hidup (atau binatang melata) di muka bumi, melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…’ (QS. Huud : 6). Maka aku pun meyakini bahwa diriku adalah salah satu dari makhluk ini yang telah dijamin rezekinya oleh Allah Swt. Dan karenanya, aku hanya menyibukkan diriku dalam apa saja yang menjadi kewajibanku kepada-Nya, dan membiarkan apa saja yang untukku di sisi-Nya (karena yakin bahwa hal itu pasti akan kuperolehnya).”

Kedelapan: “Kuperhatikan manusia di sekitarku, lalu kudapati mereka semuanya menggantungkan diri pada manusia lainnya. Setiap manusia bergantung kepada manusia lain seperti dirinya sendiri. Maka aku pun kembali kepada firman Allah Swt, ‘…. dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, sungguh Allah sudah cukup baginya.’ Karenanya aku bertawakal kepada Allah Swt, dan sungguh Dia amat cukup bagiku.”

Setelah mendengar penjelasan muridnya, Hatim, Al-Balkhiy langsung menjawab, “Hai Hatim, semoga Allah swt melimpahkan taufik-Nya untukmu. Aku telah mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung di dalam kitab-kitab suci milik Allah Swt, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an yang mulia; dan kudapati bahwa semua jenis kebaikan dan ajaran keagamaan, berputar di sekitar kedelapan masalah ini. Oleh karena itu, barang siapa mengamalkan kedelapan masalah ini, ia benar-benar telah mengamalkan keempat kitab suci tersebut.”

Demikianlah kisah Hatim. Semoga kita dapat memetik himah dan pelajaran darinya dalam menuntut ilmu. Dan semoga ilmu-ilmu yang kita pelajari dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Amin.

Menuntut ilmu adalah tanda ketakwaan, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang mempelajari ilmu adalah dzikir, dan mencari ilmu adalah jihad.

“…. lanafidal bahru qobla an tanfada kalimatu robbi.”

Wassalam….🙂

One thought on “NASEHAT dari Hatim Al-Asham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s